5 ALASAN UNTUK TIDAK MENGONSUMSI KOPI INSTAN

Segala yang instan belum tentu baik. Oleh karena itu, kopi instan seringnya tak dianjurkan untuk dikonsumsi.

MASYARAKAT Indonesia (dan juga dunia) masih banyak yang mengonsumsi kopi instan dikarenakan efisiensi waktu dan juga rasanya yang (katanya) enak. Kopi instan muncul pada first wave era ketika pada masa itu industri kopi sedang tergila-gila dengan sesuatu yang praktis dan mudah. Juga pada masa itu masih berkecamuk Perang Dunia sehingga kelahiran kopi instan disambut sangat baik oleh para tentara yang membutuhkan konsumsi kafein di medan perang. Kopi instan menjadi idola pada masanya dan masih menjadi salah satu kopi yang banyak dikonsumsi.

kopi-instan
Poster vintage salah satu brand kopi instan

Tapi tahukah kamu kopi instan bukanlah kopi yang baik untuk dikonsumsi secara terus menerus? Jika kamu belum tahu alasan untuk tidak mengonsumsi kopi instan, berikut kami paparkan untuk kamu semua.

Kopi Instan Diolah dengan Tidak Alami

Banyak zat kimia yang terlibat sangat kopi instan diolah. Tak seperti menyeduh kopi segar, kopi instan telah diciptakan sedemikian rumit agar dapat dinikmati dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Kopi instan memakan banyak sekali zat kimia yang jika dipaparkan terdengar sangat mengerikan. Banyak bahan pengawet yang digunakan untuk campuran kopi yang membuat kopi instan tahan lama.

Kopi Instan Bukanlah Kopi tapi Perasa Kopi

Bisakah kamu bayangkan secangkir kopi instan yang dikemas sedemikian rupa dengan rasa manis dan pahit yang nikmat tapi dijual dengan harga yang sangat rendah? Ya, kopi yang segar, sehat dan datang dari biji yang berkualitas takkan mungkin dijual murah. Ada sebuah tanda tanya besar kenapa kopi instan bisa dijual dengan sangat murah. Jawabannya adalah karena kopi instan tidak mengandung kopi 100% tetapi perasa kopi buatan yang rasanya tentu mirip kopi. Jadi yang kamu minum selama ini bukanlah kopi, tapi semacam minuman RASA kopi. He-he-he.

Salah satu tekstur kopi instan yang ada di pasaran
Salah satu tekstur kopi instan yang ada di pasaran

Kopi Instan Tak Mengandung Anti-Oksidan

Seperti diketahui bahwa kopi mengandung anti-oksidan alami yang kaya akan asam klorogenat yang mampu membantu melindungi tubuh terhadap radikal bebas yang berbahaya. Juga anti-oksidan yang terkandung dalam kopi mampu membantu melawan sel penuaan. Dan kopi instan tentu tidak mengandung anti-oksidan yang dibutuhkan tubuh. Proses pembuatan kopi instan yang tak alami menghilangkan anti-oksidan yang ada di dalam kopi. Itu kenapa kopi instan tak baik untuk dikonsumsi.

Kopi Instan Tidak Memberikan Nikmatnya Pengalaman Menyeduh Kopi

Dengan mengonsumsi kopi instan tentu kamu tak akan mengalami kenikmatan proses menyeduh kopi. Mulai dari bermain dengan temperatur air, bermain dengan rasio, aneka biji kopi dengan beragam flavor, serta menggunakan beragam alat seduh yang menyenangkan. Kopi instan yang bersifat praktis takkan memungkinkan kamu melatih skill menyeduh kopi yang sebenarnya bisa kamu kembangkan.

kopi-instan
Kopi instan tak memberikan pengalaman menyeduh yang menyenangkan

Kopi Instan Tak Memungkinkan Kamu Mengeksplorasi

Kopi instan hanya terbatas pada satu rasa kopi. Kopi instan jelas membatasi kamu mengeksplorasi kopi. Apa yang disajikan pada kopi instan, itulah yang kamu rasakan. Berbeda dengan kopi yang dihasilkan dari biji segar. Dengan kopi jenis ini kamu bisa mengeksplorasi cita rasa kopi dari berbagai bagian. Berbeda cara seduh, berbeda rasa yang kamu dapatkan. Berbeda tingkat kehalusan, berbeda pula rasa yang kamu dapatkan. Pada kopi instan, hal-hal ini sudah pasti tidak bisa kamu dapatkan.

Sudah tahukan kenapa kamu seharusnya tak mengonsumsi kopi instan? Semoga artikel ini membantu ya.

 

Foto dari gea.com, venturesafrica.com, zcache.com, sightglasscoffee.com

 

manual-brew

 

 

21,748 total views, 234 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

27 Comments
  1. Apakah sudah ada penelitian laboratorium pada kopi sachet yg berampas, berapa % kandungan kopi di dalamnya & apa saja campurannya? Kalau ada penelitiannya akan lebih menohok peminum2 kopi sachet.
    Sementara kalau kopi sachet tanpa ampas sudah jelas bisa kita baca di kemasannya, hanya perisa & penuh bahan kimia

    1. Bubuk kopi yang harganya murah cenderung kopi robustsa dan campuran jagung bang…?
      Kecuali belinya di toko ternama yang memang menjual biji halus seperti Otten, Opal dll

  2. Kalau boleh saya ingin menambahkan kenapa tidak dianjurkan mengkonsumsi kopi instant. Alasan nya adalah kopi instant bisa merusak lambung cepat arau lambat, karena itu lah yang saya alami. Saya mantan peminum kopi instant selama kurang lebih 5 tahun sebelumnya dan 2 tahun yang lalu saya divonis dokter mengidap GERD atau asam lambung karena mengkonsumsi kopi instant. Mengkonsumsi kopi hasil roasting atau manual brew itu jauh lebih bagus dan aman bagi lambung.

  3. Kok terkesan mengada-ada ya?bukannya menyangkal,memang sesuatu yg instant itu tidak sepenuhnya baik. Tapi bagi kalangan masyarakat mengengah kebawah yg ingin menikmati kopi harus gimana?menurut saya banyak masyarakat yg lebih memilih kopi instant karen faktor harga yg relatif jauh lebih murah

    1. Kopi giling juga tidak mahal2 amat, rata2 kopi bijian harganya 30-40rb per 250-500 gram dgn tentunya berbagai opsi. Dengan per seduh yg hanya 20 gram per cangkir rasanya tidak terlalu menyulitkan. Apalagi jika mereka mampu membeli sebungkus rokok berharga 10-20 ribu per hari

  4. baru tahu saya, ternyata kopi seperti itu, saya baca-baca tentang kopi lagi mendalami kopi karena sedang memulai memasarkan kopi berasal dari gunungslamet, tulisannya 100% kopi bubuk murni diolah secara tradisional ternyata jawabannya ada pada artikel ini.

  5. Apakah jika saya membuat kopi berbahan: 1. Kopi bubuk hitam 2. Gula 3. Krimer termasuk instan? Soalnya jika saya membuat kopi hitam tanpa gula dan krimer, maka jadinya pahit sekali.

  6. Bener kok. Ibu saya pernah ngingetin saya juga buat berhenti minum kopi sachet (misalnya nih cappuccino praktis) karena beliau juga punya kenalan yg doyan minum minuman dari sachet yg akhirnya kena penyakit lambung. Saya ngerasain kok. Perut jadi sakit, asam lambung naik terus, dan rasanya begah. Akhirnya, temen saya nyaranin kalo ngopi harus kopi yg asli bener diolah alami. Saya konsumsi kopi sachet instan selama dari SMA sampai akhir tahun pertama kuliah. Setelah itu, dari tahun kedua ampe sekarang, saya konsumsi kopi yg alami dan ga pernah sakit perut lagi. Bukan berarti saya ga konsumsi kopi instan sachet juga. Nyolong sekali2 lah kalo lagi kere banget dan kepepet pengen ngopi parah.

  7. Terimakasih atas penjelasannya.

    Pertanyaan saya, benar kalau kopi sachet terkesan janggal karena harganya yang murah, maka mudah dibayangkan jika kualitasnya meragukan. Tapi bagaimana dengan kopi sachet yang relatif lebih mahal. Misalnya ada yang dijual 10 ribu per 2 sachet dan malah ada yang jauh lebih mahal lagi. Apakah kualitasnya juga perlu diragukan? Apakah tidak ada opsi untuk kopi sachet yang sehat? Maaf, soalnya saya terlanjur menyukai rasa kopi sachet. Kopi bubuk saya sudah coba tapi kok gak berasa nikmat buat saya, hehe… Membeli biji kopi lalu menggilingnya sendiri tentu palinh baik, tapi ribetnya itu loh, hehe… Mohon penjelasannya rekan-rekan. Trims.

  8. Saya pecinta kopi jg, suka dengan aromanya,
    tp entah kenapa setiap meminum kopi sachet instan memang terasa begah, dan ga enak perut,
    kemudian saat solo traveling ke waerebo saya disuguhkan kopi hitam, awalnya saya khawatir akan sakit perut, tp ternyata tidak sama sekali, 3 cangkir sehari pun perut saya aman-aman saja,
    akhirnya sayang borong itu kopi waerebo hahaha

  9. “Bagaimana dengan kopi sachet yang relatif lebih mahal, Apakah kualitasnya juga perlu diragukanl?” : Sama aja, harga yang lebih mahal karena dipengaruh oleh brand perusahaan tsb dan campuran-campuran kimia yang lebih banyak lagi. Pada umumnya semahal apapun kopi sachet tidak akan menjamin kualitas karena kopi sachet memang mengandung “unsur kopi” yang sangat minim (atau bahkan tidak ada unsur kopinya sama sekali?). Alasannya apa? sudah dijelaskan oleh kak Mustika di artikel ini pada point no.1 & 2 🙂

    “Apakah tidak ada opsi untuk kopi sachet yang sehat?” : Tidak ada, kalau mau sehat ya beli kopi segar. Caranya? beli kopi di coffeeshop yang jual whole bean/ground, atau bisa request ke roaster, atau kalau mau lebih gampang lagi ya order aja di otten, noh tinggal klik-klik doang… Harganya juga tidak mahal2 amat, palingan 70-80 ribu utk local origin itupun uda bisa dapat sekitar 200g, apalagi kalo dapat promo.

    “Kopi bubuk saya sudah coba tapi kok gak berasa nikmat buat saya” : Kalau boleh tahu, kopi apa yang telah anda coba? dan bagaimana cara anda menyeduhnya?

  10. Saya dulu pecinta kopi sachet, hingga saya kena asam lambung, suatu hari sy diajak ke rumah kopi ranin salah satu coffe shop pioneer di kota bogor, saya coba kopi arabica mandailing, rasanya pait asam, sy pikir asam lambung sy akan naik, ternyata tidak sama sekali, sy terus coba hampir tiap hari minun kopi disana. INTINYA untuk menikmati kopi yang sehat memang harus dipaksa baik dari terbiasa rasa pahit maupun dbiasakan dengan harganya..hehe

  11. Salam kenaal,saya masih baru belajar tentang dunia kopi,sampai2 belain beli gilingan manual kopi,supaya bisa menikmati istimewahnya kopi…setahu saya kalau kopi robusta harganya jauh lebih murah daripada arabica,rasanya pun memang beda,kopi yang aman buat lambung itu arabica.
    1.saya mau tanya nih…beda penggilingan halus,cara penyajian kopi itu gimana ya,saya masih blm paham, kok di coba2 sama aja rasa nya,,,he..he…
    2.kenapa kopi nescafe classic tulisannya 100%murni?apakah itu bohongan.?
    3.tips bikin kopi yang enak itu gmn ya.?

    1. mau coba jawab..
      1.saya kurang paham maksud pertanyaannya.. setahu saya kehalusan dari hasil penggiringan dan metode penyeduhan kopi akan menghasilkan rasa yang berbeda.

      2. –

      3. pake hati, nikmati setiap prosesnya. percayalah setiap penikmat kopi punya definisi enak yang berbeda

Leave a Reply

Your email address will not be published.