5 LANGKAH MEMULAI BISNIS OLAH AMPAS KOPI

Ampas kopi juga bisa dibisniskan. Tidak selalu dari perusahaan mapan, tapi bisa dimulai dari halaman rumahmu masing-masing.

BISNIS di dunia perkopian dengan modal sekecil mungkin, kenapa tidak? Kalau bisnis di lini pertanian, kedai, atau rumah sangrai dirasa lebih mahal, bisnis ampas kopi bisa jadi solusi keterbatasan biaya.

Ampas kopi ini bisa digunakan untuk banyak hal. Sebelumnya, saya sudah pernah membahas 5 manfaat ampas kopi untuk berkebun (tautkan di sini manfaat ampas kopi). Namun, pada artikel ini akan diperdalam lagi bagaimana memulai bisnis berkebun itu.

Satu catatan penting yang perlu kamu ketahui sebelum melangkah lebih jauh, bisnis ini tidak menjanjikan murni profit, melainkan berjalan bareng aktivitas sosial dan lingkungan. Sebutan lainnya “kewirausahaan sosial” atau “ekonomi biru”. Meski bisnis berbasis sosial dan lingkungan, tidak ada salahnya bagi kamu yang punya perhatian agar segera mencobanya.

Bisnis seperti ini sudah dilakukan beberapa di luar negeri seperti Regorund di Melbourne, Australia, dan The Ground to Ground dari Austin, Amerika Serikat. Di Indonesia, ada yang tahu?

‘Punya’ Lahan Berkebun

Pastikan kamu punya lahan untuk berkebun. Punya lahan tidak selalu berarti mesti beli tanah dan dapat sertifikat kepemilikannya dulu, tapi bisa juga kamu punya tempat untuk melakukan kegiatan berkebun. Kamu bisa memakai halaman rumah sendiri atau meminta izin mengelola tanah milik kenalanmu. Yang penting ada tempat untuk berkebun.

 

Credit : pinterest
Credit : pinterest

Tawarkan Jasamu

Pastikan ampas kopi berakhir di tempat yang tepat. Jika dia berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) maka kita akan semakin menambah penumpukan sampah saja. Agar berakhir di tempat yang tepat, kamu bisa menyediakan jasa ambil ampas kopi mereka.

Dengan mengambil dan mengolah ampas kopi, artinya kamu dan mereka sedang gotong royong mengurangi produksi sampah kopi. Sasar mereka yang bergeliat di dunia bisnis kopi seperti pemilik kedai, rumah sangrai, hingga pertanian jika memungkinkan. Satu hal yang penting untuk kamu jelaskan kepada mereka adalah pentingnya mengelola sampah. Pastikan juga bahwa mereka akan mendapat timbal balik berupa sebagian hasil panenmu.

Jika mereka tertarik, kamu bisa menyediakan tempat sampah khusus membuang ampas kopi, dan barangkali limbah-limbah organik yang relevan dengan kondisi kebunmu.

Beri Tempat Sampah dan Ambil Rutin

Mengapa tempat sampah ini harus kamu yang menyediakan? Karena kamu yang butuh, ya kamu yang sediakan alatnya. Penjual kopi cukup tahu kalau membuang ampas kopi (dan filternya) di tempat sampah yang sudah kamu sediakan.

Untuk modalnya, selain cara-cara konvensional seperti meminjam uang dari bank atau pinjam uang teman, salah satu cara yang bisa digunakan adalah crowd funding. Pembiayaan alternatif ini mengandalkan kontribusi orang-orang dalam jumlah yang banyak untuk mendukung proyek tertentu. Biasanya proyek di aras sosial dan lingkungan, ya itu tadi, tidak sepenuhnya profit. Kini crowd funding menjadi lebih mudah karena adanya internet, seperti di situs pozible.com.

Tempat sampah yang sudah kamu sediakan jangan lupa diambil isinya secara rutin. Usahakan sehari sekali, agar ampas kopi tidak menjamur dan membusuk di tempat sampah. Jika satu tempat sampah sedang kamu ambil, ganti dengan tempat sampah baru yang masih bersih. Jangan meminta penjual kopi untuk membersihkan tempat sampahmu. Mereka punya urusannya sendiri.

Credit : reground.jpg
Credit : reground.jpg

 

Bagi Hasil Panen

Transparansi berbisnis kamu diuji di sini. Berhasil atau tidaknya panenmu, komunikasikan dengan para penyumbang ampas kopi. Jika berhasil, ada baiknya singgah dan bagikan sebagian hasil panenmu. Bila ada sebagian panen yang dijual atau dikonsumsi pribadi, beritahu juga kepada mereka – setidaknya pada beberapa panen awal. Selain pemberitahuan macam itu, kamu juga bisa menceritakan rencanamu perihal pengelolaan ampas kopi.

Membagi hasil panen bisa mempererat hubungan antara kamu dengan para penyumbang ampas kopi. Ingat, mereka secara tidak langsung juga berkontribusi atas bisnis kebunmu itu. Dengan kata lain, mereka secara tidak langsung juga memiliki hasil panen itu.

Ulangi dan Tularkan Pengaruh

Ulangi. Ulangi. Ulangi. Ini semata-mata agar khalayak mengenal usaha yang sedang kamu garap. Selain kegiatan operasional yang rutin, pertimbangkan juga untuk melakukan pengembangan usaha seperti pembentukan rumah pelatihan bagi mereka yang tertarik.

Selain itu, pengembangn bisa dilakukan melalui pembentukan komunitas atau paguyuban. Ini berguna untuk melanggengkan usaha ramah lingkungan yang sedang kamu kerjakan. Tidak hayal, orang-orang akan tertarik melakukan hal yang sama denganmu.

 


 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri
Foto utama dari reground.co.au

cari-kopi

 

 

Otten Coffee

Otten Coffee adalah coffee source terbesar dan penyedia alat-alat kopi terlengkap bagi para pencinta kopi Indonesia.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.