MENYANGRAI KOPI DENGAN BELANGA DI KONCO BREW BAR

Selalu ada keajaiban dalam proses menghasilkan kopi yang nikmat. Salah satu ‘keajaiban’ sederhana itu saya temukan di Konco Brew Bar Padang yang melalui tangan Fajri Jumaiza kopi bisa disangrai dengan sebuah belanga.

Sangrai kopi manual: belanga tembikar!

PERJALANAN ke Padang pasti selalu memberikan kejutan-kejutan yang ajaib terutama perihal kopi. Setelah puas berkeliling kedai kopi di kota ini, main ke kebun kopi di kota tetangga di Solok dan didaulat sebagai pembicara talkshow mendadak di Rimbun Coffee, ternyata kejutan tak sampai di situ saja. Ada sebuah cerita menarik lagi yang saya bawa sebagai oleh-oleh untuk penikmat kopi.

Fajri Jumaiza sang roaster belanga.

Hal tersebut saya dapatkan saat saya dan teman-teman seperkopian mampir ke sebuah kedai kopi bernama Konco Brew Bar. Kedai kopi yang dimiliki oleh Fajri Jumaiza ini adalah kedai kopi asyik yang dipenuhi mahasiswa. Tak ada mesin espresso pululah juta di sini, yang ada adalah Rok Presso dan Bellman Stove Top yang didaulat sebagai jagoan espresso base-nya. Tidak, saya tidak ingin menceritakan kedai kopi ini kali ini. Saya hanya ingin menceritakan kisah sebuah belanga. Apa hubungan belanga dengan kopi? Kawan, belanga tanah liat (tembikar) ini bukan sembarang belanga. Belanga ini pernah begitu berjasa melahirkan kopi-kopi enak di tangan seorang Fajri Jumaiza.

Belangan digantung dengan tali lalu siap digoncang menghasilkan kopi enak.

Karena waktu sudah malam maka kami berjanji menyaksikan Fajri beraksi merandang kopi. Keesokan hari yang disepakati belanga tembikar telah siap di tempatnya. Belanga ini digantung pada seutas tali yang di bawahnya sudah disertakan kompor gas tempat api akan menyala. Saya takjub juga bagaimana sebuah belanga bisa menyangrai kopi dengan sungguh-sungguh. Fajri menyiapkan 100 gram biji kopi, menyalakan api, mengukur suhu dengan termometer hingga 150 derajat celcius. Setelah suhu cukup, dituanglah kopi ke dalam belanga. Dengan gerakan maju-mundur Fajri mulai menyangrai kopi.

Suhu harus diatur sedemikian rupa.

Jangan kira mudah dalam menyangrai kopi dengan cara manual seperti ini. Diperlukan gerakan konsisten dan api yang tepat berada di tengah-tengah belanga. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 8-10 menit. Jika kamu tak terbiasa tangan bisa dengan cepat pegal dan hasil kopi tak seperti yang diharapkan. Tak hanya harus menggerakkan tangan, Fajri harus peka dengan crack di dalam sana. Saat crack pertama terjadi dia harus mengecilkan api. Setelah itu mematikan api lalu tetap melakukan gerakan-maju mundur hingga 2-3 menit. Proses mendinginan pun secara manual. Takjub sungguh!

100 gram kopi yang siap untuk disangrai.

Awal mula menyangrai dengan belanga ini ternyata datang dari Adi Solok Radjo yang memberi ide perihal alat roasting yang ekonomis. Dulu Fajri bisa menghasilkan 1 kilogram kopi dengan menggunakan alat manual ini, sekarang tentu tidak lagi. Kenapa? Karena dia sudah memiliki mesin sangrai William Edison yang menjadi jagoannya. Belangan mungkin sudah pensiun, tetapi sesekali Fajri masih mau menggunakannya jika sedang kangen dan ada orang-orang seperti saya yang tertarik menyaksikan ‘keajaiban’ ini.

Belanga versus mesin roasting William Edison.

Di akhir sore, Fajri menghadiahkan saya 100 gram kopi yang disangrai dengan belanga ini. “Untuk oleh-oleh biar ingat sama belanga,” katanya sambil tertawa. Saat diseduh rasanya kopinya nikmat juga. Mungkin karena disangrai berbeda dan dilakukan sepenuh jiwa. Jadi siapa bilang belanga hanya untuk wadah tertentu saja? Di Konco Brew Bar belanga menjelma roaster yang bisa mencipta kenikmatan juga.

 

22,806 total views, 8 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.