ADAKAH UJI KUALITAS KOPI SELAIN UJI ORGANOLEPTIK

Ternyata di dunia kuliner yang penuh dengan estetika akan rasa, untuk menentukan kualitas suatu sajian diperlukan uji kualitas, dan biasanya secara umum uji ini dilakukan dengan cara uji organoleptik, begitu pun tentang kualitas secangkir kopi sebelum dipasarkan biji kopi akan mengalami tahapan uji kualitas.

SECANGKIR kopi kita hari ini, bukan kopi sembarangan melainkan sudah melalui uji kualitas, dan umumnya biji kopi akan diuji secara organoleptik seperti sajian makanan dan minuman lainnya. Organoleptik merupakan pengujian yang dilakukan pada suatu produk berdasarkan sensori indera manusia, biasanya yang diuji bahan-bahan makanan dan minuman. Dari uji organoleptik inilah biji kopi kemudian diberikan indikasi kualitas, semakin bagus kualitas maka biji kopi akan semakin mahal di pasaran.

Pada uji kualitas yang mengedepankan indera perasa, analisa terhadap produk sangat mudah dan cepat untuk dilakukan. Reaksi pun langsung berhubungan terhadap selera konsumen. Mungkin sekilas, kekurangan dari uji organoleptik terletak pada indera perasa itu sendiri, kemampuan indera perasa seseorang bisa menurun kepekaannya, seiring pola hidupnya. Pada hal ini, di dunia kopi seseorang disertifikasi untuk menjadi penguji dengan kepekaan indera yang diakui, dan disebut q-grader. Seseorang q-grader umumnya bekerja di hulu industri kopi, sehingga mereka sangat berperan menentukan kualitas kopi sebelum dipasarkan.

Dalam penilaian organoleptik secara umum, seseorang panelis (penguji) diharapkan mampu menilai sifat indrawi dari suatu produk. Umumnya yang diuji pada suatau bahan makanan dan minuman, meliputi karakteristik produk berkaitan dengan sensory profile dan consumer test tentang tanggapan respon konsumen akan suatu produk.

credit: farmfutures

Pada industri kopi kualitas yang dijaga tidak hanya sekadar biji kopinya, melainkan meliputi keseluruhan proses dari kopi itu sendiri.

Kualitas Rasa Sajian Kopi
Pada sesi kualitas rasa, tidak hanya pelaku industri kopi yang terlibat, lebih dari itu konsumen juga memiliki tanggung jawab akan karakter rasa seperti apa yang kelak ada di pasar kopi. Karakteristik rasa kopi sangat kompleks, namun rasa seperti apa yang diinginkan penikmat kopi. Terlepas dari kualitas kopi yang dipasarkan sudah pasti kualitas bagus, hanya saja kualitas bagus dengan rasa tertentu untuk sebagian orang belum tentu menerimanya. Hal ini dipengaruhi oleh kultur pola hidup dalam mengkonsumsi suata makanan dan minuman.

Banyak sekali variabel yang dijaga dan harus teliti ketika menciptakan sajian dengan kualitas rasa yang diinginkan, apakah asam organik, kemanisan yang lembut, atau body yang halus, dan kedalaman rasa. Karakteristik rasa ini tercipta dengan perhitungan variabel yang tepat ketika masa penyeduhan berlangsung. Dan akhirnya, siapa yang menentukan karakter rasa yang sesuai untuk pelanggan, apakah pasar atau sebagian orang saja. Kualitas cita rasa kopi tidak begitu menarik jika tidak dapat memenuhi harapan pelanggan akan rasa dari secangkir kopi mereka.

Kualitas Roasting
Mengelolah kualitas roasting dari biji kopi, berangkat dari harapan pelanggan inginkan karakter rasa kopi yang spesifik, dan kemudian pada tahap raosting karakter rasa dicoba untuk dikembangkan. Maka muncullah teori roasting untuk mendapatkan karakter rasa yang lebih spesifik, untuk menjawab keinginan konsumen akan rasa kopi.

Kelola proses variabel roasting menciptakan karakter rasa yang diinginkan, salah pengelolaannya meliputi analisa kelembabab, aktifitas air, pengembangan biji kopi, perubahan warna kopi, jumlah defect biji kopi, kandungan zat padat pada biji kopi setelah diroasting, dan lain halnya. Kualitas rasa dari secangkir kopi, mengantarkan pengelolahan kualitas yang lebih mendalam pada tahap roasting.

Kualitas Biji Kopi Hijau
Sebelum biji kopi diroasting, yang nantinya dipasarkan dan menghasilkan cangkir-cangkir kopi penuh kenikmatan. Lagi-lagi kebutuhan pelanggan diprioritaskan untuk memberikan kualitas terbaik di era coffee speciality kini. Akhirnya, berujung pada manajemen kualitas biji kopi hijau agar memberikan dampak besar terhadap rasa pada tahap roasting nantinya. Disamping menetapkan spesifikasi biji kopi hijau secara fisik dan sensorik, beberapa hal yang bisa diterima atau pun tidak bisa diterima, maka pengujian kualitas biji kopi hijau sangat diperhatikan.

credit: Joburg.co.za

Manajemen kualitas pada industri kopi ditiap tahapannya, bertujuan untuk menjaga konsistensi akan rasa dari kopi, sehingga memenuhi ekspektasi rasa dari pelanggan. Dari manajemen kualitas yang cukup ketat inilah, rantai industri kopi tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan tiap penikmat kopi dan juga pelaku industri kopi.

Seluruh alur manajemen kualitas inilah, yang kemudian menciptakan sebuah standarisasi sebuah kopi yang nikmat, banyak serangkai uji kualitas untuk menjaga konsistensi karakter rasa hingga akhirnya dipasarkan ke banyak negara.

disadur dari jurnal Tools to integrate organoleptic quality criteria in breeding programs dan scanews.coffee img: gearpatrol

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.