AKIBAT PERUBAHAN IKLIM DI SUMATERA: CHERRY KOPI YANG TAK BERISI

Dampak pemanasan iklim yang sudah sampai ke dataran Sumatera.

BEBERAPA tahun lalu dan belum lama ini, Brazil beserta sebagian Negara di Amerika Latin dan Afrika yang merupakan daerah-daerah penanaman kopi sempat mengalami kerugian cukup besar mulai dari proses tanam sampai pemanenannya. Di beberapa laporan, Brazil dan Ethiopia termasuk yang paling parah dari semuanya karena kerugian mereka nyaris mendekati 80% dari total penghasilan annual biasa. Pemanasan global dan perubahan iklim yang semakin menjadi-jadi membuat pohon kopi yang mereka tanam menjadi lebih rentan terhadap hama, proses pematangan buah/cherry kopi juga menjadi tidak maksimal sehingga berpengaruh pula kepada hasil panen.

Dan kasus yang mirip ternyata terjadi pula kepada para petani kopi yang berada di wilayah dataran tinggi Gayo, Sumatera. November lalu, beberapa anggota dari Coop Coffees mengadakan perjalanan ke berbagai perkebunan kopi di wilayah Gayo, Aceh. Perjalanan mereka menemukan bahwa kopi-kopi Gayo yang dipanen di sekitar wilayah itu ternyata mengalami kerusakan cukup serius akibat kurangnya curah hujan selama kurun Januari sampai September 2016, tahun ini.

Curah hujan yang sedikit, kekeringan yang berkepanjangan, ditambah suhu udara yang meningkat sedikit lebih tinggi membuat cherry kopi menjadi sangat lambat untuk matang. Hasilnya, terdapat cukup banyak cherry kopi yang kosong pada pohon-pohon kopi. Sementara ketika ketika musim hujan akhirnya tiba pada akhir September lalu, ini justru bertepatan dengan masa-masa pengeringan biji kopi dimana para petani membutuhkan sinar matahari yang cerah selama berhari-hari untuk menjamin kualitas kopi yang stabil.

Ketidakstabilan iklim ini pada akhirnya membuat keberlangsungan hidup para petani kopi di Sumatera menjadi tidak bisa diprediksi dari sebelumnya.

memetik-kopi
Ilustrasi proses pemanenan kopi.

Para petani kopi yang tergabung dalam Komunitas Tanjung Sari yang berada di bawah naungan Koperasi Permata Gayo (rata-rata perkebunan mereka berada di ketinggian sekitar 1,100 meter di atas permukaan laut) menemukan bahwa 45% cherry kopi yang mereka panen tahun ini tidak mengandung biji kopi. Cherry kopi yang “kosong” itu tg entu saja membuat harga jualnya menjadi menurun drastis dan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan pada saat pemanenan, termasuk untuk proses pengolahannya. Karenanya Koperasi Permata Gayo memutuskan agar mereka—para petani—tidak menjual cherry kopi yang mereka panen. Situasi ini hampir sama di seluruh perkebunan kopi yang ketinggiannya di bawah 1,200 meter di atas permukaan laut, misalnya seperti di daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Sementara itu, pedesaan Ujung Gele yang berada sekitar 10 km dari wilayah tadi sedikit lebih beruntung. Kebanyakan perkebunan yang ada di daerah ini berada di ketinggian sekitar 1,300 meter di atas permukaan laut, letaknya juga lebih dekat dengan gunung berapi Gereudong. Kondisi ini membuat suhu udara di sekitarnya masih tetap lebih dingin, tanah vulkanis juga membuatnya masih lebih subur untuk pertumbuhan pohon kopi. Tapi tetap saja, daerah ini tidak lepas dari masalah perubahan iklim. Kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini membuat proses panen di daerah ini menjadi terlambat satu bulan, dimulai dari akhir Oktober. Para petani di daerah ini juga menjadi tidak yakin kalau mereka akan mencapai puncak panen di bulan Desember seperti yang seharusnya. Alasannya karena tanaman kopi di daerah ini menjadi berkembang lebih lama, dengan perkiraan kualitas yang menurun mulai dari sekarang sampai Januari tahun depan.

pohon kopi gayo
Para petani kopi di Gayo kini berharap pada panen kedua di tahun depan.

Kondisi pulau Sumatera yang dekat dengan garis Khatulistiwa, plus musim hujan yang umumnya terjadi mulai dari akhir September membuat Dataran Tinggi Gayo juga mengalami masa panen dua kali setahun. Panen kedua ini biasanya terjadi selama bulan Maret sampai bulan Juni.

Untuk itu para petani di wilayah Gayo sangat berharap jika pada panen kedua nanti mereka bisa mendapatkan hasil (cherry kopi) yang lebih besar dibandingkan sebelumnya untuk menutupi kerugian ‘panen pertama’ yang mereka dapat tahun ini. Semoga saja.

 

Disadur dari dailycoffeenews(dot)com. Foto diambil dari coffeebeansdelivered(dot)com(dot)au dan situs pencari.

single-origin kopi

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.