ALASAN SEDERHANA MEMESAN ESPRESSO!

“Cuma orang yang butuh energi yang mau pesan espresso!” kata seorang teman sambil misuh-misuh. Oh tidak teman, kamu tidak tahu bahwa espresso tak sesederhana itu!

SAYA adalah tipikal orang yang sering memesan espresso jika mampir di kedai kopi baru. Kalau dipikir-pikir kenapa harus pesan espresso? Bukannya ada menu kopi lain yang lebih sedap dan bisa dinikmati pelan-pelan sambil menikmati nuansa kedai kopi nan syahdu?

Tak banyak yang tahu bahwa espresso adalah esensial. Sebuah minuman fondasi tempat menu-menu kopi turunan lainnya berutang banyak pada eksistensinya. Saya menikmati espresso, double espresso, dan ristretto dengan perasaan membuncah. Kenapa? Karena minuman ini senantiasa jujur. Jujur akan house blend yang diracik kedai kopi itu. Ya, meski beberapa kedai kopi menggunakan single origin atau fine robusta untuk espresso-nya.

credit: getty images

Namun untuk saya, espresso yang enak adalah pangkal caffe latte yang enak, cappuccino yang nikmat, piccolo latte yang sedap dan seterusnya. Espresso adalah landasan minuman lain. Tapi alasan saya memesan espresso tak hanya sampai di situ. Espresso mengajarkan saya untuk menerima sensasi yang rupa-rupa. Proses ekstraksi, gramasi dan lain sebagainya bermain menciptakan rasa yang beraneka. Espresso di kedai yang satu tak mungkin sama dengan kedai lain meskipun mereka menggunakan house blend yang sama. Percayalah, kawan!

Bahkan saya pernah mencicipi espresso yang sama sekali tidak ada pahitnya. Pahitnya samar dan tipis. Yang tersisa adalah manis karamel yang membuat saya bertanya-tanya dewa mana yang mencuri pahit pada secangkir kecil minuman berkrema ini.

credit: pixabay.com

Lalu kenapa harus pesan espresso? Tak harus sih. Tapi jika ada yang mengatakan espresso hanya sekadar minuman untuk menambah energi atau memberi tendangan agar mata terbuka lebih lebar saya takkan bisa setuju. Karena espresso adalah si kecil menyenangkan yang membuka lebar indera pencecap dan indera penciuman saya berbahagia. Kecil dan mematikan. Namun mencandu jika kebetulan sedang beruntung.

Ngomong-ngomong ada yang suka pesan espresso juga jika ke kedai kopi?

 

Foto utama dari market-inspector

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

10 Comments
  1. Baru kali ini saya komen setelah sekian lama hanya membaca tulisan anda.
    Artikel anda kali ini sangat lugas sekaligus argumentatif, sebagaimana espresso menyapa indera saat ia diteguk.

    Bravo!

  2. Dulu kalau lagi berkunjung ke kedai kopi pasti pesen espresso, tapi kebanyakan dapet yang tidak enak , sekarang biar lebih aman pesen piccolo, kalo enak pasti minuman base kopinya enak

  3. Sayaaa,…!!!! selalu pesan espresso,… sampai ada barista sebuah kedai kopi nerangin kalo espresso itu adalah kopi yang pahit dan hanya sedikit saja, mungkin dia ga yakin kalo saya pecandu kopi,.. makanya di ingetin ama dia,.. he he, kali aja dia kira saya pesen karna espresso termurah dari jenis racikan kopi lainnnya,..

  4. Kalo masuk ke kedai kopi pertama kali harus pesen espresso, kaio masih cukup waktu saya akan pesan flat white atau latte, dengan begini kita jadi tau kwalitas kopi dari sebuah kedai dan bisa membandingkan dengan kedai2 yg lain

  5. Dulu saya suka memesan frappuccino, lalu dutambahkan dengan short espresso. Sekali waktu, iseng pesan Americano dengan 4 short espresso. Rasanya pekat, lebih enak. Sejak itu saya ketagihan espresso dan meninggalkan frappuccino. Dengan espresso jg, dpat meningkatkan stamina dan performa saya.

    Di kedai2 kopi jg, espresso 1 kedai dg kedai lainnya jg dapat terasa beda. Begitu mencoba espresso, sudah susah pindah kelain hati. Bravo si kecil yg dasyat. 😄

  6. Sayaaaa juga!!! minum white coffee atau latte hanya karena terpaksa atau no sama sekali!!
    Saya pernah mengalami hal yg sama seperti Bro Beni. Secara mungkin krn saya imut2 dan kelihatan muda jadi si Barista ingatin, nih kopi yg saya pesan udah ukuran sangat kecil dan super pahit karena pesannya double espresso, sampai saya harus jelasin, kalau saya sudah biasa minum espresso dan cuman bisa minum espresso, baru deh si mas barista yakin dan bikinin pesanan saya 🙂 Saya setuju banget dengan tulisan Anda, kalau kopi itu enak atau tidak bisa dinilai dari espresso. Kalau boleh tau dimana tuh minum espresso yg rasa pahitnya samar dan tipis dan yg tertinggal hanya rasa karamel ?? Rasanya sudah lama saya lupa akan rasa itu.

  7. Saya juga selalu cari espresso dulu, kadang gak semua kedai kopi menyediakan espresso, pelampiasannya ya V60, tapi tetep aja gak afdol klo ndak ketemu espresso. Pernah sehari sampe pindah ke kedai lain, gara2 hanya mencari espresso yang mantap……dan pernah juga ada barista yg heran, saya perempuan tapi nyarinya espresso…hehe…

  8. Dulu si ga suka sama espresso tp sekalinya nyoba malah ketagihan. Klo ke kedai kopi yg baru didatengin ya nyobain espressonya dulu hahaha
    Dan setuju bgt sama tulisan ini 👍👍👍
    Kecil dan mematikan. Namun mencandu jika kebetulan sedang beruntung

Leave a Reply to Benni Dt Malintang Bumi Cancel reply

Your email address will not be published.