AMPAS KOPI ‘DISULAP’ MENJADI ASPAL JALANAN

 

Barangkali nasib ampas kopi tergantung pada setiap manusianya. Kalau ketemu petani maka ia akan jadi kompos yang baik. Kalau ampas kopi ketemu insinyur, bisa jadi apa?

PEMANFAATAN ulang ampas kopi seperti tidak ada sudahnya. Setelah menjadi kompos yang kaya nutrisi, tepung kopi, dan bahan utama budidaya jamur, kini ampas kopi bisa jadi aspal jalanan. Penemuan ini dilakukan oleh Profesor Arul Arulrajah bersama kru penelitiannya di Universitas Teknologi Swinburne di Melbourne, Australia.

Semuanya bermula dari kesukaan ngopi Arul. Dia beberapa kali melihat barista yang membuang ampas kopi usai menyajikan pesanannya.

“I thought, why not look at this material from engineering perspective?” ucapnya.

Sejak saat itu, dia bersama beberapa koleganya mulai mengumpulkan ampas kopi yang masih basah lalu mengeringkannya. Ampas kopi basah itu dimasukkan ke dalam mesin oven bersuhu 50 derajat celcius selama 5 hari. Setelah ampas kopi itu kering, mereka mengayaknya agar memisahkan bagian yang menggumpal dengan yang tidak. Bagian yang tidak menggumpal inilah yang selanjutnya dipakai sebagai bahan utama aspal.

Ada pencampuran lebih lanjut antara ampas kopi kering dengan ampas bijih dari pabrik produsen baja. Agar kedua komponen itu dapat menyatu lebih solid, Arul menambahkan senyawa alkali.

Campuran akhir itu lalu dipotong-potong berbentuk silinder. Setelah itu, potongan silinder itu diujicobakan menjadi lapisan bagian dalam, sebelum ditutup dengan permukaan aspal yang biasa dilalui kendaraan bermotor. Ternyata, potongan ampas kopi itu cukup untuk menjadi fondasi aspal.

Selain kuat, potongan ampas kopi itu juga dinilai dapat mengurangi penumpukkan limbah kopi yang banyak berakhir di TPA. Di Melbourne sendiri, menurut Arul, rata-rata kedai kopi bisa memproduksi sekitar 150 kg ampas kopi tiap minggunya. Jika 150 kg ampas kopi dikalikan jumlah kafe di Melbourne, Arul memperkirakan bisa membuat jalanan beraspal ampas kopi sepanjang 5 kilometer.

Meski sudah mulai diuji coba sejak 2016 lalu, proyek ini masih perlu dikembangkan terus. Seperti, memastikan ongkos yang tidak bengkak ketika hendak membuat aspal ampas kopi ini dalam jumlah yang banyak. Kalau harga pembuatannya masih lebih mahal daripada aspal konvensional yang terbuat dari bitumen dan mineral, Arul mengaku akan agak kesulitan untuk segera mewujudkan aspal ramah lingkungan ini.

Penemuan itu hanya satu dari sekian pemberdayaan ampas kopi. Itupun baru dari perspektif teknik insinyur dan konstruksi. Yang lain bagaimana? Kamu ahli di bidang apa? Barangkali ada ide lain soal pemanfaatan kopi?


 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri
Disunting dari newscientist.com dan engineersaustralia.org.au
Foto utama dari curacaosewegenbouw.com
cari-kopi

Otten Coffee

Otten Coffee adalah coffee source terbesar dan penyedia alat-alat kopi terlengkap bagi para pencinta kopi Indonesia.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.