APA YANG BISA DIAJARKAN SECANGKIR KOPI PADAMU?

Tulisan ini mungkin bersifat personal tapi saya percaya bahwa ada beberapa poin yang mungkin akan menyentilmu sedikit secara personal.

SEBERAPA sering kamu  bahwa dalam setiap cangkir kopi mengandung pelajaran yang berbeda-beda setiap harinya? Untuk peminum kopi aktif seperti saya, kopi tidak lagi sekedar minuman pengawal hari, pelengkap di antara percakapan dan teman kencan untuk laptop saya yang dibuai mesra deadline.

Pernahkah kamu merasa bahwa secangkir kopi juga bisa menjadi guru yang memberi pelajaran yang remeh tetapi penting juga. Setidaknya setelah empat tahun belakangan berkutat dengan kopi dan tiga tahun aktif bergelut di industri kopi saya merasa kopi mengajarkan saya tentang bagaimana caranya mengapresiasi. Secangkir kopi yang tiba di mejamu enak atau tidak enak menurut pallet lidahmu itu berasal dari kerja keras rantai industri yang begitu panjang. Setidaknya habiskan kopimu hingga tandas karena dalam tiap tetesnya mengandung nilai-nilai yang perlu di apresiasi salah satunya kerja keras.

Credit : catch.nsw.edu.au

Tak berhenti di satu poin, secangkir kopi mengajarkan saya berlapis-lapis kesabaran. Kesabaran adalah kunci lahirnya kopi nikmat di mulai dari hulu hingga ke hilir. Jangan tanya lagi berapa tebal rasa sabar para petani dan antek-anteknya di hulu sana mengasuh kopi sepenuh hati. Jangan tanya lagi berapa sabarnya para pelaku industri kopi yang berjuang mendapatkan cita rasa yang nikmat. Dan terakhir jangan pernah ungkap lagi seberapa sabar para barista menghadapi penikmat kopi yang terkadang kejam dalam menilai. Kopi yang enak mungkin lahir dari sang ahli. Tapi kopi yang nikmat itu lahir dari mereka yang tekun, tulus dan bersabar. Setidaknya saya mengamini ini.

Credit : cdn-images-1.medium.com

Meski kopi mengajarkan begitu banyak hal tapi saya harus memilih bahwa kopi mengajari saya menikmati proses. Setiap orang tentu mengelu-elukan hasil akhir yang sukses, tapi tidak semua orang mampu menikmati dan beradaptasi dengan proses. Pada kopi saya belajar banyak perihal menikmati proses, berproses dan menjadi rantai dari proses itu sendiri. Tanpa proses kopi hanyalah minuman pereda haus atau penunda kantuk. Proses baik menyeduh maupun pascapanen adalah seni yang menentukan akan jadi apa kopi dan manusia yang terlibat di sana. Tanpa proses kopi kita akan menjadi disobek bukan diseduh. Ah, yang disobek pun bahkan perlu proses!

Sekian dulu yang diajarkan kopi pada saya sejauh ini. Well, kopi mengajarkan kita menikmati pahit dan candu. Tapi kopi tak pernah mengajarkan kita soal penghakiman dan menjadi jagoan instan. Meski banyak hakim kopi, jangan pernah salahkan kopinya. Salahkan oknumnya yang mungkin sedikit malas ‘belajar’ mengenai biji hitam nan seksi ini. Salam kopi!

Foto utama dari  squarespace.com

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.