APA YANG KAMU LAKUKAN JIKA DISAJIKAN KOPI YANG TAK ENAK?

Apa yang kamu lakukan jika saat mampir ke kedai kopi, meneguk kopi pertama dan ternyata kopinya tidak enak? Sebuah pertanyaan yang mudah tapi ternyata tak cukup mudah untuk menanggapinya.

SAYA suka sekali ngopi di kedai kopi. Sangkin sukanya saya sering tak keberatan duduk berlama-lama, memesan aneka jenis minuman kopi dan berbincang-bincang dengan barista di sana. Di balik semua kebaikan dan asiknya nongkrong di coffee shop saya juga memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan. Mulai dari pelayan yang tak ramah, kedai kopi yang terlampau berisik dan yang paling fatal: kopi yang tak enak. Untuk masalah terakhir saya punya maklum yang besar. Untuk orang lain mungkin mereka akan langsung meninggalkan kedai kopi itu dan tak kembali lagi. Atau yang lebih parah datang ke barista dan protes sambil marah-marah. Sedangkan saya, saya punya tiga cara beretika saat kopi yang saya pesan jauh dari nikmat. Dan pssstt.. biasanya jitu mengusir sakit hati sekaligus tidak menyakiti baristanya.

Credit : standardmarket.com
Credit : standardmarket.com

Kasih Kesempatan Di Cangkir Kedua

Secangkir single origin yang baru saja diseduh dengan pour over V60 mampir ke meja dan surprisingly rasanya tidak enak atau mungkin terlalu watery. Rasa kecewa sudah pasti ada. Tapi saya tidak mau buru-buru terbakar emosi. Karena bisa saja saya yang salah pilih biji kopi atau para barista di kedai kopi ini punya standar menyeduh sendiri. Untuk yang begini biasanya saya mencoba memesan jenis kopi lain yang diseduh dengan cara yang sama. Jika rasanya masih tidak enak, berarti yang salah lidah saya atau metode mereka tidak cocok dengan standar lidah saya. Gugur sudah di manual brew, biasanya saya penasaran mencoba di espresso base. Jika espresso base-nya masih juga tidak enak, berarti ada yang salah dengan baristanya, atau pilihan bijinya atau apapun itu namanya. Untuk kasus begini saya biasanya langsung ajak baristanya ‘ngobrol’ daripada marah-marah. Hi-hi-hi.

Credit : kaxumena.com
Credit : kaxumena.com

Ngobrol dengan Sang Barista

Kopi yang tidak nikmat adalah tanggung jawab barista. Ya walaupun melibatkan roaster juga tapi tetap baristalah yang mengemban tugas paling besar di semesta kedai kopi ini. Saya pernah main ke salah satu kedai kopi yang kopinya tidak nikmat (tak hanya menurut saya, tetapi juga 3 teman saya yang ‘orang kopi’ juga). Untuk kasus yang ini kita mengajak baristanya ngobrol. Dan tentu akhirnya kita tahu bahwa baristanya adalah pemula yang masih belajar. Saat barista lain menyajikan kopi yang sama, rasa kopinya justru berbeda. Ngobrol dengan barista itu penting sekali, jika tidak mana mungkin kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Memang tidak semua orang setoleran saya. Tapi dalam kopi bukankah segalanya bisa dibicarakan? 😀

Credit : media.mlive.com
Credit : media.mlive.com

Drink Like A Man!

Saya pecinta kopi setengah mati. Kopi tidak enak, barista yang tidak bisa diajak ngobrol dan hasrat untuk memesan kopi lagi sudah kandas, maka yang bisa dilakukan hanyalah habiskan kopinya hingga tandas. Untuk saya, tidak menghabiskan kopi adalah sebuah kesia-siaan. Ada proses panjang yang dilalui secangkir kopi ini. Ya meskipun berakhir dengan tidak nikmat di dalam tegukan, rasanya sungguh sayang jika harus dibuang begitu saja. Demi apapun di muka bumi, menghabiskan kopi yang tidak nikmat adalah perjuangan. So yeah people, I will drink like a man!

 Kalau kamu apa yang kamu lakukan jika disajikan kopi tak enak? Please drop us some interesting comments.

 Foto utama dari occasions.mynslc.com

single origin ethiopia

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

8 Comments
  1. pernah dapat kopi yang nggak enak. cukup sering malah. biasanya karena baristanya masih baru. saya bilang ke baristanya dan minta ia untuk mencicipi kopi bikinannya. kalau menurut dia memang nggak enak, biasanya dia kasih minuman pengganti dengan gratis.

  2. Saya pernah dapat kejadian seperti ini.. saya ngobrol ke baristanya(biasanya Baru), kenapa kopi ini beda karakter seperti kopi(spesiality) biasanya. minta dibuatkan dengan sedikit metode dari saya. tetapi tetap bayar biarpun dikasih konpensasi gratis utk menghargai baristanya..

  3. saya lagi seneng2nya sama cappucino, kopi ini sederhana tp paling susah dapat yang enak ap lgi foam susunya yg tebal trus padat, jadi sering kecewa, pernah paling parah cappucinonya panas bget dan rsanya bukan kyk cappucino, jadi di tinggalin aj

  4. true story point ke 3, kesan pertama gak menyenangkan dan baristanya sulit diajak ngobrol juga. pas kunjungan ke 2 milih minuman non coffee.. hehehe

  5. Pernah waktu itu pesan bali pupuan pakai v60. Rasanya terlalu watery dan air nya panas banget. Pengen saya ajak ngobrol baristanya tapi sedang ada tamu. Alhasil saya gak balik lagi. Hehe

  6. saya setuju dengan statement terakhir. seburuk apapun rasa kopi itu harus tetap dihabiskan. Selain prosesnya yang panjang, membuat kopi itu tidak semudah yang dibayangkan orang awam (seperti menyeduh kopi instant). Posisikan diri sebagai barista, dan bagaimana rasanya jika kopi yang sudah kita buat dengan susah payah ternyata tidak dihargai? Saya memang bukan seorang Barista, tapi dirumah saya sering membuat kopi dengan metode pour over. Kadang kalau buru2 atau pas lagi banyak bikin beberapa cangkir kopi suka kewalahan nakar kopi dan airnya jadi (mungkin) resultnya ga bagus. Jadi suka sedih klo ada yang ga abisin kopinya. Better sih bilang aja kurangnya apa.. hehee

Leave a Reply to maspenn Cancel reply

Your email address will not be published.