BAGAIMANA HUBUNGANMU DENGAN KOPI?

Artikel ini lahir karena pertanyaan besar yang saya tanyakan pada diri sendiri “apa kedudukan kopi di hidup saya sebenarnya?”

MAKA setelah saya telaah dan riset diri ini dalam beberapa pekan, akhirnya saya temukan bahwa kopi bagi saya adalah sebuah kebutuhan yang dikombinasi kesukaan. Kebutuhan di sini adalah tanpa kopi, hidup saya tidak akan mulus 100% bergerak seperti biasanya. Kopi bagi tubuh dan pikiran saya adalah bensin yang menggerakkan. Tanpa bensin mobil takkan bisa jalan. Jika bensin diganti solar, mungkin bisa jalan tapi tak sempurna. Mungkin sama jika kopi diganti teh atau susu, saya tetap bisa beraktivitas hanya saja kurang ‘beres’. Ha-ha-ha.

Setelah riset kecil-kecilan pada diri sendiri, beberapa teman dekat dan kenalan di sekitar saya. Maka saya menyimpulkan bahwa hubungan manusia dengan aktivitas minum kopi terbagi secara sederhana dalam tiga pola.

Pertama, tentu saja kebutuhan. Kebutuhan menjadi poin paling penting. Kopi di sini adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Jika kamu tak mampu melewatkan kopi pagimu atau kopi sehabis makan siang maka kopi bagimu adalah kebutuhan. Bukan sekadar minuman iseng yang dinikmati di waktu senggang. Jika tanpa kopi kepala kamu mendadak migrain dan kerja kurang fokus, maka hubunganmu dengan kopi adalah kebutuhan. Penting, intens dan tentu sakral.

Hubungan yang kedua masuk pada poin kegemaran. Kopi buat kamu adalah minuman yang kamu sukai. Entah suka karena rasanya atau kopi mendadak menjadi sarana paling seru untuk bertukar cerita. Jika ke suatu kafe kamu akan memilih kopi di antara banyak daftar minuman lain. Tapi kamu tidak harus minum kopi setiap saat. Tidak ada jadwal rutin minum kopimu. Jika ada kopi, maka kamu akan hepi. Jika  tak ada, kamu juga tak kenapa-kenapa. Hanya saja jika bisa kamu mau kopi ada. Kopi buat kamu tidak penting. Tanpanya aktivitasmu tetap berjalan lancar. Hubungan kamu dengan kopi seperti kamu dan gebetan baru yang ke sekian. Senang sih ada dia, tapi kalau tak ada juga tak apa.

Poin terakhir dalam klasifikasi “hubungan dengan kopi” adalah keinginan. Poin ini mungkin berada di antara kebutuhan dan kegemaran. Ada kalanya kamu menginginkan kopi lebih besar dari hal lain. Jika inginmu tak terpenuhi maka akan terjadi ketidakstabilan hidup. Setidaknya ini yang terjadi pada saya jika menginginkan boba tea. Ingin bukan berarti butuh. Hanya saja jika tak dituruti tampaknya akan sangat sulit. Kamu tidak memiliki ritual wajib dalam ngopi, hubunganmu dengan kopi seperti kekasih panggilan. Jika diinginkan harus segera didapatkan. Jika tak dibutuhkan ya hilang begitu saja.

Saya sendiri pernah berada di poin 2 dan 3, sebelum candu menjajah menjadikan saya makhluk yang berhubungan dengan kopi sebegitu dalamnya. Sebelum kamu protes, artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dan bertujuan untuk bersenang-senang saja. Jadi hubunganmu dengan kopi sudah masuk jenjang yang mana?

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

2 Comments
  1. kategori yang terjadi pada saya adalah “ndatuk”
    (istilah jawa)
    kalo ngga ngopi di pagi hari, maka siang hari kepala akan migrain

Leave a Reply

Your email address will not be published.