BAHASA KOPI JOGJA: MEMBAHASAKAN RASA, MENUTURKAN KISAH

Ada hal-hal yang tak hanya bisa dibahasakan, tapi hanya dirasakan saja. Di Bahasa Kopi Yogyakarta, rasa kopi ternyata mampu dibahasakan.

YOGYAKARTA dengan segala pertumbuhan kedai kopinya yang sungguh luar biasa mengantarkan saya pada sebuah kedai kopi kecil nan istimewa bernama Bahasa Kopi. Teman saya Bernard Batubara mengajak saya ngopi di kedai yang berada di sebuah gang kecil yang luasnya sebesar garasi saja. Menuju Bahasa Kopi dengan berjalan kaki dari satu kedai kopi lain saya agak berdebar juga. Apa gerangan yang dihadirkan kedai kopi di gang ini.

Bahasa Kopi sore itu menyenangkan sekali. Meski kata Bara waktu terbaik Bahasa Kopi adalah pagi hari, tapi sore itu matahari menerpa hangat dan ramah juga. Kedainya tak luas. Bar kopi tepat di pintu masuk berjejer dengan kursi-kursi yang dipenuhi pengunjung tetapnya. Di depan kedai ada kursi yang bersender di tembok. Menjadi ciri khas Bahasa Kopi yang selama ini hanya saya lihat di media sosial saja.

Bahasa Kopi lahir dari Gilbert, pemuda asal Kupang yang berkuliah di Yogyakarta. Bahasa Kopi tak hanya sekedar kedai kopi tapi juga merangkap tempat ‘belajar bahasa asing’ gratis karena memang ada kursus bahasa gratis di sini.

Selain itu, di sini juga seperti ‘mini market’ yang mana teman-teman dari Gilbert sering titip menjual apa saja. Mulai dari kaos, kue-kue hingga apa saja. Bahasa Kopi memang tak hanya membahasakan nikmat kopi tapi juga merangkul banyak hal atas nama berbagi.

Cukup cerita tentang Bahasa Kopi, saya yang sedari tadi mondar-mandi di dekat bar tergiur memesan kopinya. Saya pesan single origin Sunda Nyi Pohaci yang entah kenapa sore itu sedap benar di tegukan. Tak cukup dengan filter coffee, saya pesan secangkir hot latte dan satu kopi susu dingin terbaru yang diberi nama “Berbahasa”. Demi apapun “Berbahasa” mampu mengungguli rasa kopi susu dingin yang menjadi tren di dunia kopi. Bahasa Kopi, kamulah juaranya!

Yang membuat Bahasa Kopi berbeda dari kedai kopi lainnya mungkin adalah jam operasinya. Bahasa Kopi mengusung kembali ritual ngopi pagi yang mungkin sudah mulai dihilangkan kedai-kedai kopi di Indonesia. Pukul 7 pagi hingga 6 sore Senin sampai Sabtu kamu bisa menikmati kopi nikmat dengan suasana yang lain dari yang lain. Meski tak ada interior mewah atau pendingin ruangan Bahasa Kopi mampu memberi sejuk yang nyaman. Tak kalah dengan segala kemewahan yang ditawarkan di tempat lain.

Saya sendiri tak menyangka bahwa kedai kopi kecil mampu memberi keluasan pada hati para pendatang. Perasaan betah yang dibangun mungkin tak hanya perkara rasa pada cangkir saja, melainkan atmosfer yang terbangun saat saya ngopi di sini. Di sini semua orang saling kenal. Temu ramah, sapa hangat semua lebur dengan begitu sempurna. Siapa coba yang tak betah ngopi di tempat yang meski asing tapi tak merasa terasing?

Entahlah apa pendapat kamu tentang kedai kopi yang asyik. Tapi jujur buat saya kedai kopi yang asyik itu sesederhana Bahasa Kopi yang mampu menuturkan rasa, cerita, merangkul siapa saja yang datang dan tentu tak menguras kantong kalian.

Bahasa Kopi 

Gang. Gatotkaca No.5, Caturtunggal, Kec. Depok,

Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

565 total views, 8 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.