BEHIND THE LEAF COFFEE : SINGLE ORIGIN TRIP MYANMAR

PERLU berbulan-bulan buat saya untuk siap menulis single origin trip ke Desa Hta Ngo, Pinlaung, Shan State, Myanmar.

NOVEMBER 2018 adalah kesempatan yang paling saya tunggu. Tiga orang teman mengajak saya untuk mengunjungi Myanmar lagi tapi kali ini ke sebuah desa tempat teman mereka mengabdi bersama komunitas penduduk PaO dan mengasuh kopi. Tentu saya setuju untuk ikut. Apalagi saya tidak pernah mengunjungi perkebunan kopi di luar Indonesia.

Perjalanan kami tempuh dari Medan ke Kuala Lumpur lalu lanjut ke Yangon, Myanmar. Dari Yangon kami harus terbang sekali lagi dengan pesawat kecil ke Bandara Heho. Bandara terdekat dari Behind The Leaf Coffee berada. Seorang perempuan Amerika berdiri di ruang tunggu bandara melambai dan memberi sambutan paling hangat. Dialah Melanie Edwards, otak di balik Behind The Leaf Coffee yang sudah tinggal di Myanmar kurang-lebih 18 tahun dan fasih berbahasa Burma.

Behind The Leaf Coffee sendiri adalah nama merek kopi mereka. Dinamakan Behind The Leaf karena mengambil filosofi para suku PaO, orang-orang yang tinggal di gunung sekitar perkebunan kopi tersebut dan sering tak terlihat jasanya. Juga kopi-kopi terbaik biasanya cerinya terlindung di bawah dedaunan dan jadilah filosofi nama tempat ini.

Meski tempatnya berada jauh dari keramaian dan tersembunyi, Behind The Leaf memiliki sistem dan alat kopi yang cukup modern. Di bangunan utama ada mesin sangrai 5 kilo dan di lantai dua menjelma kedai kopi kecil dengan mesin espresso Feima dua grup yang biasa dipakai untuk menjamu tamu.

Di sepanjang pekarangan ada tempat penjemuran ceri kopi yang dibuat beringkat-tingkat. Setiap hari kami membantu para pegawai Behind The Leaf untuk membolak-balik ceri agar proses penjemurannya merata. Di bangunan belakang adalah rumah tinggal Melanie dan staffnya. Sedang satu bangunan di samping adalah tempat proses pascapanen berlangsung.

Bagian terseru dari single origin kali ini adalah kami ikut serta menjemput ceri-ceri kopi yang sudah dipanen penduduk. Melanie Edwards mempercayakan para penduduk desa memilih ‘ketua’ mereka. Di satu rumah ketua tersebut mereka mengumpulkan ceri dan kemudian dijemput dan diproses oleh Melanie dan staffnya. Di beberapa rumah kami menemukan ceri sudah dikarungi tanpa penghuni rumah. Tinggal diangkut saja. Di rumah lain kami malah dijamu dengan teh dan susu sambil bercakap-cakap. Sangat menyenangkan meski kami tak tahu bahasanya.

Kopi di sini tumbuh bersisian bersama teh hijau. Para petani menanam kedua minuman ini dengan kasih sayang yang sama. Sejak 2016 didirikan hingga detik ini Behind The Leaf Coffee tetap berusaha mengedukasi para suku PaO agar konsisten memetik ceri yang benar-benar merah sempurna. Malah mereka diberi reward jika kopi dari desanya mendapatkan cupping score yang tinggi.

Hampir seminggu berada di Behind The Leaf Coffee dan melihat hampir semua prosesnya saya cukup kagum dengan perusahaan kecil ini. Myanmar yang sebelumnya tidak dikenal karena kopinya hanya tumbuh sedikit, kini mulai menjadi penghasil kopi spesialti yang unggul. Kopi dari Behind The Leaf sendiri telah diekspor ke berbagai negara dan memenangkan beberapa penghargaan di Myanmar.

Kualitas kopi di sini tak hanya sampai di proses panen saja. Di sini saya menyaksikan dua kali proses penyortiran. Penyortiran ganda ini dilakukan sesaat sebelum biji kopi disangrai dan sesaat setelah sangrai sebelum dikemas lalu didistribusikan. Malah saya ikut membantu penyortiran ini dengan penuh semangat. “Kopi yang baik adalah kopi yang disortir ganda. Jadi kecacatannya bisa diminimalisir dan sampai ke penikmatnya dengan istimewa,” kata Melanie disela-sela penyortiran.

Lalu bagaimana rasa kopi Behind The Leaf itu sendiri? Berbeda-beda tergantung prosesnya apa. Favorit saya sendiri adalah single origin black honey dan natural. Rasa buah yang khas dengan finish yang panjang membuat saya jatuh cinta dengan jenis ini sampai-sampai memboyongnya pulang beberapa kilogram. Bagian menarik lagi dari perkebunan kopi di sini adalah lokasinya yang terpencar di berbagai desa. Jadi tidak membentang luas di satu lokasi saja tapi berpencar-pencar sehingga sukar dihitung berapa luasnya secara keseluruhan.

Behind The Leaf Coffee akan kurang mengagumkan jika tidak ada sosok Melanie Edwards yang akan saya tulis secara terpisah di artikel lain. Karena menceritakan perempuan yang dipanggi “white gold” oleh penduduk sini ini tak cukup dalam satu-dua baris saja. Jika kalian ingin melakukan perjalanan single origin ke sini sebaiknya dengan kelompok karena untuk mencapai tempat ini tidak semudah kelihatannya. Di kelilingi pengunungan, terpencil dari semua yang ada menjadikan tempat ini istimewa dan tersembunyi layaknya ceri di balik dedaunan.

Salam kopi!

Behind The Leaf Coffee

Hta Ngo Village, Pinlaung,

Shan State, Myanmar

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.