BENARKAH COFFEE BUYER HARUS SERING TRAVELING KE KEBUN KOPI?

Berbicara tentang seorang coffee buyer, mungkin beberapa orang mengira bahwa seorang coffee buyer harus memiliki waktu lebih untuk traveling ke banyak perkebunan kopi, apakah itu untuk mengontrol kualitas tanaman kopi, atau sedang mencari single origin yang masih jarang dijumpai di pasar kopi.

JIKA berkesempatan bertemu dan mengobrol banyak dengan seorang coffee buyer, pasti akan sangat menarik mendengar ragam kisah single origin yang mungkin mereka temukan atau yang mereka beli dan kemudian dijual kembali. Menemukan single origin yang masih dikelola tradisional dengan prasarana budidaya yang tak memadai, akan menjadi tantangan serius bagi coffee buyer untuk ikut serta mengembangkan perkebunan tersebut. Seorang coffee buyer haruskah traveling ke kebun kopi? Harus, namun bukan berarti terlalu sering. Sebab membeli kopi pada petani, bukan hanya tentang mengunjungi kebun kopi, tapi juga memenuhi permintaan pasar.

Membeli kopi pada petani tidak sembarang, perlu banyak pertimbangan untuk seorang coffee buyer memutuskan apakah sudah siap untuk dibeli dan dipasarkan atau butuh banyak pengembangan budidaya di segala aspek. Menjadi coffee buyer tidaklah harus sering mengunjungi kebun kopi para petani, atau kebun kopi rekanan. Untuk di awal menjalin rekanan pada petani kopi tempatan, seorang coffee buyer sudah pasti harus melakukan negosiasi untuk mendapatkan kepercayaan pada para petani.

Namun demikian, seorang coffee buyer bukanlah hanya tentang membeli biji kopi kemudian menjualnya kembali, ini tentang bagaimana caranya agar tetap memenuhi kebutuhan biji kopi ketika ada permintaan. Secara umum permintaan akan biji kopi berasal dari kalangan roastery, instansi, bahkan juga penikmat kopi.

 

credit: lovers.coffee

KUALITAS DAN KUANTITAS
Bepergian ke kebun kopi merupakan salah satu cara untuk menjaga kualitas dan kuantitas, namun tidak selamanya menadi seorang coffee buyer harus bepergian. Seorang coffee buyer yang paling terpenting harus menjalin relasi pada para importir, sehingga pekerjaan menjadi seorang coffee buyer tidak terlalu sulit. Coffee buyer bisa jadi adalah seorang importir, tapi tidak selamanya seorang coffee buyer adalah importir. Semisal seseorang yang bertanggung jawab atas persediaan biji kopi pada suatu instansi kopi juga termasuk coffee buyer. Tidak selalu menjadi coffee buyer harus berkeliling ke kebun kopi, dengan menjalin kepercayaan pada importir maka sangat membantu pekerjaan sebagai coffee buyer.

Tapi perlu diingat, bagaimana pun sistem coffee buyer bekerja apakah itu dibantu oleh para pemasok biji kopi, atau membeli langsung dari petani kopi, tetaplah seorang coffee buyer harus mempunyai standarisasi kualitas. Dan bukan hanya itu saja, banyak yang harus dipertimbangkan yang terkait dengan kuantitas biji kopi yang akan dibeli. Karena menjadi coffee buyer juga harus mengelola persediaan, biaya yang digunakan, resiko-resiko yang mungkin mengganggu, perlengkapan yang tersedia, arus keluar masuk uang, dan banyak lagi. Dari menemukan titik keseimbangan tersebut, barulah coffee buyer memutuskan apakah suatu single origin bisa dipasarkan. Pada kesempatan lain, kami akan mencoba mengulas hal yang demikian, apa saja hal yang menjadi indikasi seorang coffee buyer mengambil keputusan.

credit: coffeeenterprises.com

COFFEE BUYER DI SEBUAH INSTANSI
Terkadang instansi mempekerjakan seseorang yang memang mengerti tentang kualitas di bagian persediaan, seperti seorang Q Grader yang menjadi front liner untuk urusan kualitas rasa. Sedikit banyaknya, untuk coffee buyer pada sebuah instansi harus mengerti beberapa hal berikut:

– Mampu mengidentifikasi produk yang dibutuhkan instansi berdasarkan cupping dan evaluasi
– Mampu mengambil keputusan untuk mengeluarkan biaya-biaya produk yang sekiranya memang perlu
– Memahami kontrak kerja yang akan disepakati oleh rekanan dan juga instansi
– Menjalin relasi kerja yang baik pada para importir kopi untuk memudahkan penuhi persediaan kebutuhan kopi
– Memiliki kemampuan untuk menginformasikan biji kopi ke semua kalangan bisnis, apakah itu tertulis ataupun lisan

Tidak selamanya para coffee buyer harus menjadi seorang traveler yang berkeliling kebun kopi untuk melihat langsung bagaimana kualitas biji kopi terbentuk pada proses tanamnya. Dengan menjalin relasi yang baik dan mempercayai para pemasok kopi juga membantu memudahkan pekerjaan seorang coffee buyer, namun bukan berarti menjadi seorang coffee buyer yang hobi traveling menjadi kendala untuk pekerjaan seorang coffee buyer.

src: scanews.coffee Buku Dear Coffee Buyer “A Guide to Sourching Green Coffee” oleh Ryan Brown img: metriccoffee.com

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.