BENARKAH KECENDRUNGAN SELERA NGOPI BISA BERUBAH-UBAH?

Kita digilas perubahan. Baik oleh modernitas hingga ke hal-hal kecil yang mampir ke hidup kita. Salah satunya selera dalam menikmati kopi.

BANYAK peminum kopi yang selera ngopinya kerap berubah dari tahun ke tahun. Dan hal itupun terjadi kepada saya. 5 tahun lalu kecenderungan selera dalam menikmati kopi saya adalah merujuk pada kopi-kopi bersusu. Produk turunan espresso seperti caffe latte dan cappuccino adalah primadona. Hari-hari saya diisi dengan dua jenis minuman ini. Menurut saya susu yang bercampur espresso adalah kenikmatan yang tak terbantah. Susu menyelamatkan pahit kopi. Susu yang dipanaskan memang ‘mengeluarkan manis’ melebur pasti pada espresso yang pahit namun kompleks. Sempurna benar!

Credit : lacolombe.files.wordpress.com

Namun selera kopi saya berubah seiring waktu. Semakin saya mendalami dan terkecimpung jauh di dunia kopi, maka kopi bersusu perlahan berkurang saya nikmati. Meski masih mau sesekali. Saya mulai jatuh cinta pada kopi hitam yang tersaji lewat seduhan manual alat-alat seperti V60, Kalita Wave, Chemex dan lain-lain. Menurut saya kopi hitam seperti ini begitu jujur dan apa adanya. Rasa yang keluar memang seharusnya karena dia membawa karakter dari biji itu sendiri. Begitu menyenangkan. Hari-hari saya hingga saat ini diisi oleh kopi hitam ini. Ya, meski sesekali kembali dengan kopi susu juga.

Saya rasa bukan hanya saya yang mengalami kecenderungan perubahan selera ngopi. Banyak teman-teman seperkopian juga mengalami hal yang sama. Dan saya rasa ada beberapa faktor yang memengaruhi perubahan selera ngopi kita.

Pertama, kecendrungan ingin mencoba pengalaman ngopi yang baru. Awalnya hanya ingin mencari variasi menu kopi namun kemudian berakhir menikmati kebaruan ini dan meninggalkan selera ngopi yang lama.

credit: stali.com.au

Kedua, faktor tren kopi. Di Gelombang Kedua orang-orang begitu terpesona dengan espresso dan turunannya. Mesin-mesin espresso di kedai-kedai kopi begitu memikat dan membuat orang mencintai produk yang dihasilkan mesin itu. Di Gelombang Ketiga, manual brew menjadi primadona. Penikmat kopi yang mengikuti tren pun mencoba kopi jenis ini lalu terjebak dan jatuh cinta.

Ketiga, faktor kesehatan. Beberapa orang mengaku mengubah selera ngopi mereka karena faktor kesehatan. Dahulu menikmati tubruk dengan gula, kini karena ingin hidup lebih sehat memilih kopi hitam yang diseduh manual.

Apapun perubahan yang terjadi dalam urusan ngopi ini, semoga mengarah ke yang lebih baik. Kareka perubahan tanpa kebaikan sesungguhnya adalah ketersesatan. Bukan begitu?

 

Foto utama dari shopback.com

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.