‘BEROBAT’ KE KLINIK KOPI YOGYAKARTA

Klinik Kopi membuktikan bahwa untuk ‘berobat’ kamu tak perlu sakit dulu.

KEDAI kopi yang satu ini mungkin sudah begitu tersohor dari Sabang sampai Merauke. Ditambah lagi menjadi salah satu lokasi syuting film Ada Apa dengan Cinta 2 yang kala ini sedang booming sekali. Tapi alasan saya ke Klinik Kopi bukan karena film itu ataupun alasan ‘ingin tahu’ saja. Saya ingin merasakan pengalaman menjadi ‘pasien’ yang meski tak sakit tapi rela diobati.

‘Berobat’ kali ini memang jauh, kawan. Diperlukan penerbangan 3 jam dari Medan ke Yogyakarta untuk sampai ke Klinik Kopi. Saya sudah diwanti-wanti teman-teman yang mengatakan kalau ke Klinik Kopi harus paling tidak sejam sebelum klinik buka. FYI, Klinik Kopi buka pukul 4 sore. Jadi menurut mereka saya harus mampir sebelum jam 4 agar tak mengantri lama. Baiklah.

Tapi saya tidak mengikuti saran teman-teman saya itu. Pukul 4 saya justru masih berada di taksi sambil diam-diam berdoa kalau pun harus mengantri please jangan lama-lama amat. Mungkin saya sedang beruntung atau doa saya dipeluk Tuhan. Sore itu Klinik Kopi yang baru pindah lokasi ini tak begitu ramai. Ada beberapa grup yang mengantri tapi tidak semengerikan bayangan saya. Syukurlah.

Klinik Kopi dibangun di atas bangunan bata dan bambu. Di kelilingi tanaman bambu dan pagar batu Klinik Kopi terlihat begitu asri. Di depannya ada bangku-bangku dan lesehan yang menjadi ruang untuk para pasien yang menunggu. Saya mengambil nomor antrian di dalam. Mba Pipit (istri Mas Pepeng) ternyata masih mengenali saya. Kami pernah bertemu di Jakarta Coffee Week dan ngobrol sedikit waktu saya main ke booth Klinik Kopi.

Di dalam Mas Pepeng sedang melayani pasien dari China atau mungkin daerah sekitar sana saya kurang paham juga. Saya dapat nomor antrian 8. Sebuah angka keberuntungan karena pada saat itu antrian sudah tiba pada nomor 6. Asyik! Sambil mengantri saya mencoba berkeliling Klinik Kopi. Di bagian dalam ada sebuah ruang sangrai kopi yang di dindingnya di pajang aneka foto. Oh iya, ada juga sepasang kekasih yang memainkan musik. Menambah syahdu saja.

Di Klinik Kopi tidak ada WiFi, tapi disediakan colokan yang banyak di lesehan depan. Antrian saya tiba. Ada debar-debar menyenangkan juga karena akhirnya bisa mengalami pengalaman jadi pasien untuk perkara kopi. Di Klinik Kopi tidak ada mesin espresso, jadi jangan harap kamu bisa memesan menu kopi espresso base. Di sini hanya ada filter coffee dengan ragam single origin yang disangrai sendiri.

Sore ini saya memesan single origin Padusi dari Sumatera Barat yang diseduh dengan pour over Koka (pour over buatan lokal yang terbuat dari tanah liat bekerja sama dengan Kaloka Pottery). Koka ini bisa menggunakan paper filter apa saja. Mulai dari Hario V60, Kalita Wave, Kalita Flat Bottom, Mellita hingga Chemex. Mas Pepeng menyeduh kopi sambil berbincang tentang kopi yang diseduhnya. Dan baru kali ini saya minum kopi di depan coffee bar sambil berdiri dan mendengar celoteh dari baristanya. Ruangan kecil nan remang-remang ini pun menjadi saksi betapa saya dan teman saya berbahagia minum kopi tanpa duduk santai di antara meja dan kursi.

“Kedai kopi itu harus ada interaksi. Pemiliknya harus berinteraksi dengan yang datang. Harus ada dialog yang terjadi antara barista dan pelanggan,” satu hal yang diutarakan Mas Pepeng dan membuat kami manggut-manggut di antara seruput. Dia juga mengungkapkan bahwa kopi itu adalah perjalanan yang tak bisa putus rantainya. Dari petani sampai ke penikmat, makanya semuanya harus terjalin dan kalau bisa saling bertatap muka.

Jika tidak ada orang lain yang mengantri rasanya saya mau-mau saja mengobrol dengan Mas Pepeng hingga malam tiba. Tak pernah saya merasakan pengalaman ngopi sambil berdiri, mendengar celotehan perkara kopi sambil tak sadar sudah tandas secangkir penuh. Buat saya Klinik Kopi ini bukanlah tempat mengobati penyakit minum kopi yang salah. Tetapi lebih membereskan isi kepala perkara minum kopi yang kadang suka lari maknanya.

Pepeng bukanlah dokter kopi yang mengobati selera buruk kopimu. Dia adalah penyeduh kopi yang kebetulan diberikan cinta dan kasih yang begitu besar akan kopi yang jika tak dibagi dengan pelanggannya terasa begitu mubazir. Dan saya senang menjadi salah satu pasien yang mendengar itu. Dan karena waktu juga yang memisahkan kami, maka single origin Minang Solok Bu Nur dan selembar kaos kopi pun kami jadikan oleh-oleh untuk diri sendiri.

Jika ke Yogyakarta, kamu sah harus berobat ke Klinik Kopi. Tak ada suntik soal harus ngopi begini, atau dipaksa menenggak pil tentang keyakinan minum kopi tertentu. Klinik Kopi adalah tempat di mana berobat kadang bisa menjelma diskusi panjang. Terima kasih Mas Pepeng, Mba Pipit. Semoga bisa mampir lagi!

Klinik Kopi

Jalan Kaliurang KM. 7.8, Gang Bima, Sinduharjo, Ngaglik,

Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Buka: 16.00 – 20.00

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.