BERSANTAI DI CHILLAX BISTRO  

Chillax Bistro yang berada di Inle Lake, Myanmar, ini benar-benar tempat yang ajib untuk rileks.

MESKIPUN waktu ketika saya datang masih akhir musim dingin tapi cuaca di Inle Lake saat itu sama sekali tidak ada dingin-dinginnya. Apalagi di siang hari. Matahari kayak disetel sampai maksimal, teriknya pol nggak ngasih ampun. Saya yang sudah puas menjelajahi Inle Lake sehari sebelumnya—dan terlalu malas kalau cuma mentok di kamar hostel saja—pun hanya kepengin santai kali ini, menikmati me time entah sambil baca. Dan, seperti biasa, nanya ke resepsionis wajib hukumnya. Ehehe.

Kali ini resepsionis hostelnya ramah dan menguasai daerah, jadi jawabannya nggak sekedar “this way and that way” seperti yang kemarin saya alami di BaganLol. Waktu bertanya apa kedai kopi terbaik di Inle, ia dengan cepat merekomendasikan tempat ini, lalu berbaik hati memesankan Tuk Tuk untuk mengantarkan saya ke kedai ini.

Ketika sampai, saya merasa agak sedikit takjub melihat tempatnya. Bangunan kafe ini cenderung modern—kontras dengan bangunan di sekitarnya yang agak vintage–tapi terkesan natural. Arsitektural utamanya dibuat dari bahan kayu yang berdesain trendi. Karena hampir sepenuhnya dari kayu, tak heran kalau kafe ini pun jadi terasa teduh dan sejuk. Cocoklah buat ngadem di tengah cuaca Inle yang terik itu.

Seorang laki-laki yang tampaknya berada di usia awal 30an menyapa saya—belakangan saya tahu dia adalah pemiliknya. Raut wajahnya ramah, binar matanya memancarkan senyum. “Hello, do you have espresso?” tanya saya sambil mendekati meja bar. Lalu “menginspeksi” mesin espresso apa yang mereka pakai. Haha… Ternyata mereka menggunakan Vibiemme dua groups. Cool. Padahal suasana kedainya (setidaknya di saat saya datang) nggak sibuk-sibuk amat. Hanya ada dua pasang bule yang duduk di bangku terpisah.

Pemilik kedai yang ramah
Pemilik kedai yang ramah
Mesin espresso yang mereka gunakan
Mesin espresso yang mereka gunakan

Ketika tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, si pemilik kedai sedikit terperanjat. “Ah! Indonesia! Apa kabar?” tanyanya. Gantian. Sekarang saya yang surprise. “Do you know Indonesian?” tanya saya sambil memerhatikan tangannya yang cekatan meracik espresso. “Nope. That’s the only words I know,” katanya lagi. Kali ini espresso saya sudah mendarat di meja bar. Di hadapan saya.

“There lots of Indonesians coming here? How do you know that words?” tanya saya lalu mengendus espresso itu di depan hidung. Aromanya kuat. “Not really. I just have Indonesian friends when working in Dubai,” jawabnya tersenyum, matanya cermat memerhatikan saya yang menghabiskan espresso itu dalam sekali teguk, kayak guru lagi mengawasi murid ujian. Ugh! Espressonya ternyata agak strong—kalau nggak bisa dibilang terlalu bitter. “How does it taste?” tanyanya. Ia sepertinya bisa membaca ekspresi saya yang agak kaget begitu meneguknya. Haha…

“A bit strong, honestly. What beans did you use?” Ia lalu memberi tahu kalau kedai mereka menggunakan biji asal roaster-Italia-yang-kalian-pasti-tahu-apa. Oh, panteslah. Espressonya emang kayak hasil Italian roasted.

Saya memesan secangkir cappuccino lagi dan spaghetti untuk makan siang, meminta agar pesanan itu diantarkan ke meja di bagian teras depan lalu permisi mengambil gambar kedainya—yang segera diikuti anggukan cepat dan keramahan si pemilik kedai yang belum luntur.

"Barista" di Chillax yang meracik cappuccino untuk saya
“Barista” di Chillax yang meracik cappuccino untuk saya
keadaan-dalam-bar
Bar dalam kedai ini

Sekelompok bule mulai berdatangan ketika saya selesai memotret dan kembali ke meja saya. Tampaknya mereka juga sama menemukan bahwa kedai ini adalah spot yang bagus untuk ngadem karena terik matahari di luar masih belum reda juga. Malah makin menggila.

Chillax Bistro sebenarnya menyediakan juga minuman-minuman lain di luar kopi, sementara untuk makanan mereka cenderung menyediakan Western food. Harga minumannya dibandrol sekitar IDR 30 ribuan sampai IDR 50 ribuan, makanannya yang rada lumayan. Diatas IDR 70 ribuan. Ya, harga standar lah… untuk turis di Myanmar. 😀

suasana-di-teras-luar
Suasana di teras luar

To conclude, Chillax Bistro yang bukan hanya memiliki interior eksterior natural tapi juga suasana yang cozy, vibes yang menyenangkan, plus pemilik dan staff yang semuanya friendly tampaknya adalah faktor yang menjadikan kedai ini benar-benar bikin rileks.

Chillax Bistro,

Kyaung Daw Anauk street,

Nyaung Shwe 081 – Inle Lake

Myanmar

 

barista-tools

152 total views, 4 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.