BERTEMU BU NUR SI IBU KOPI DI AIA DINGIN SOLOK

Perjalanan saya bertemu “Ibu Kopi” di Aia Dingin Kabupaten Solok Sumatera Barat mungkin sudah berselang nyaris setahun. Tapi kenangannya tinggal lebih lama dari yang dibayangkan.

PAGI itu bersama teman-teman dari Koperasi Kopi Minang Solok Radjo dan Rimbun Brew & Bar kami bertolak ke Aia Dingin. Cuaca berhujan rintik dan turunnya kabut menambah misteri tempat tumbuhnya kopi ini. Kami ingin bertemu dengan Ibu Nur. Ibu yang mengasuh ladang kopi miliknya bersama sang suami Pak Ajo.

Saat sampai di rumah Bu Nur sayang sang tuan rumah rupanya masih di kebun. “Amak masih di kebun. Mungkin sebentar lagi turun,” kata anak bungsu dari si Ibu. Daripada tidak melakukan apa-apa akhirnya kami pergi ke bukit yang merupakan kebun kopi. Aduhai kebun ini benar-benar bukit. Sport shoes saya bahkan tidak sanggup mengarungi medan yang mendaki dan menurun. Meski begitu perjalanan senantiasa seru karena kami bertemu beberapa petani dan melihat berkeranjang ceri kopi yang merah betul.

Setelah puas di kebun kami kembali ke rumah Bu Nur. Rumah beliau juga merupakan tempat pengepul hasil tani di Aia Dingin. Semua petani kopi mengumpulkan ceri kopinya di sini sebelum dibawa ke Koperasi Minang Solok Radjo. Juga di rumahnya diadakan drying station untuk menjemur kopi yang diproses setelah panen.

Sambil menyeruput kopi, Bu Nur dan Pak Ajo berkisah tentang awal mula mereka bertani kopi. “Dulu kami dianggap gila karena memilih kopi. Awalnya kami memiliki kebun markisa. Terus saya berpikir bagaimana jika markisa tidak menghasilkan lagi? Dengan apa keluarga kami hidup? kata Pak Ajo mengingat-ingat awal mula dia memilih kopi dengan Bahasa Minang yang fasih. Beruntung saya bisa berbahasa Minang jadi mengerti apa yang mereka bicarakan.

Pak Ajo dan Bu Nur mengubah kebun markisahnya menjadi kebun kopi. Sebuah keputusan yang dianggap ‘sakit’ oleh para tetangganya. Pada saat itu kopi tidak dilirik sebagai komoditi, tidak dilirik sebagai sesuatu yang menghasilkan. Tapi Pak Ajo dan Bu Nur yakin pilihan mereka tak salah. Dan kini terbukti bahwa kopi yang mampu membawa hidup mereka menjadi lebih baik. Bahkan dengan bangga dia mengatakan bahwa anak-anaknya bisa kuliah dan semua dari hasil kopi.

“Kami mengasuh kopi dengan sebaik-baiknya. Maka kopi memberi rezeki dengan cukup kepada kami,” sebuah pernyataan yang mengharukan dari pengasuh kopi seperti Bu Nur yang ternyata lebih suka dipanggil amak. Sebelum pulang saya bertanya apa yang membuat kopi Bu Nur begitu istimewa? Adakah pupuk atau cara menanamnya yang ‘lain’? “Indak ada. Semua di tanam di tanah seperti biasa. Tidak ditambahkan ini dan itu. Tumbuh begitu saja. Cuma dirawat baik dan percaya sama Allah saja.”

Saya si orang kota yang jarang main ke kebun kopi rasanya ditampar berkali-kali dengan segala yang dipaparkan Bu Nur dan tak mungkin saya paparkan di sini sangkin banyaknya. Kesederhanaan Bu Nur dan Pak Ajo, keteguhannya memilih kopi, kesungguhannya merawat kopi menjadikan kopi dari kebun mereka tersohor hingga kemana-mana. Oh iya, di sela-sela obrolan Bu Nur juga mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah mau menjenguknya jauh-jauh di Aia Dingin. Jangan bosan main lagi katanya.

Terima kasih kepada Bang Tengku, Bang Adi dari Koperasi Solok Radjo

Dan Bang Alan serta Verdy dari Rimbun Kopi.

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.