BLEND COFFEE & TEA: ASUPAN KAFEIN DI SUDUT KERAMAIAN

Kedai kopi mini yang menarik—konsep dan pilihan menunya.

SAMA seperti ABCD Coffee yang berada di Pasar Santa, atau Kedai Apek di Medan yang terletak di Pasar Hindu, barangkali kira-kira begitulah gambaran keberadaan kedai Blend Coffee & Tea. Meskipun letaknya tidak benar-benar di pasar tapi ia berada di kawasan jajanan yang cukup ramai, menyempil di sebuah tempat makan di Jalan Nipah, kota Padang. Jalan ini tampaknya merupakan area para backpacker atau para pelancong melihat orang-orang yang makan dan sarapan di sini kebanyakan mengobrol dengan aksen khas Ibukota, atau dengan bahasa Indonesia murni tanpa campuran dialek Minang.

Kedai ini menarik perhatian saya karena meskipun “mungil” dan tidak terlalu menonjol jika dilihat dari luar, tapi mereka terlihat cukup sungguh-sungguh mendandani dekorasi kedainya. Instalasi tumbuhan hijau, beserta jam taman klasik bergaya Victorian London menjuntai di langit-langit. Sementara warna monokrom beserta desain minimalis dipilih menjadi tema utamanya. Sekilas, kedai ini jadi terlihat sedikit kontras dengan suasana “food court” di depannya.

Tampak depan.
Instalasi hijau yang segar sekali.
Asupan kafein di sudut keramaian.

Di meja bar, mereka memiliki barisan mesin espresso Simonelli Oscar II dan grinder elektronik dengan merek yang sama. Canggih juga. Terutama jika dibandingkan dengan kedai-kedai lain yang memiliki konsep serupa. “Dulunya kita memang pake Rok Presso, tapi karena makin banyak permintaan, udah nggak sanggup lagi. Apalagi sekali bikin menu, bisa 3-4 minuman,” terang ko Adit, pemilik kedai ini. Saat ini, mereka bisa meladeni permintaan espresso-based rata-rata 30 cups setiap hari. Frekuensi yang lumayan bikin gempor juga kalau dibuat dengan alat espresso manual. Haha.

Karena berada di kawasan tempat makan—yang mana sebuah strategi bagus menurut saya karena orang-orang umumnya akan memesan kopi untuk membakar lemak yang mereka makan—maka kebanyakan menu yang dipesan di sini, sudah bisa ditebak, adalah minuman-minuman populer seperti cappuccino, latte, dan Americano. Saya melongok daftar menunya, ada beberapa pilihan yang menggelitik penasaran saya. Maka saya memilih menu yang berbeda saja—kenapa tidak?

Perangkat tempur di meja bar.
“Petunjuk untuk barista”.
Silakan dipilih sendiri menunya.

Pilihan pertama saya jatuh pada Caffé Banana. Ternyata rasanya oke juga. Taste kopi dan flavor pisangnya melebur dengan pas, manisnya juga tidak terlalu berlebihan. Cocoklah untuk mereka yang menyukai minuman-minuman “ringan” yang rasa kopinya tidak terlalu nendang, atau bagi mereka yang sejak tadi sudah kebanyakan menenggak espresso.

Pilihan berikutnya adalah sebuah “privileged drink”, Lemonica. Nama menunya unik, sekelebat rimanya jadi mengingatkan saya akan nama mesin espresso Etnica dan Phonica. Haha.

Masih menurut ko Adit, ternyata minuman ini merupakan hasil dari racikan eksperimental mereka sendiri, yaitu kombinasi antara Americano, lemon dan madu. Rasa minuman Lemonica, hmm, kesannya hampir sama seperti Caffé Banana sebelumnya. Citarasa kopinya tidak terlalu kental dan lebih mendekati lemon tea, tapi cukup segar dan, yah, bolehlah dicoba. Haha. (Saat saya datang, mereka menggunakan biji kopi 100% Arabika Pasaman sebagai espressonya).

Latte.
Manual brew by request.

Selain kopi, kedai ini juga menyediakan menu lain seperti teh dan coklat. Juga kue-kue, seandainya kalian sedang tidak ingin makan makanan berat. Menariknya, semua kue-kue yang dijual di sini adalah buatan sendiri dan semua menu yang ditawarkan pun dibanderol dengan harga yang ramah di kantong. Minuman paling mahal hanya dikenai 20 ribu Rupiah saja. Kalau kalian sedang singgah di Padang, bolehlah main-main ke sini.

 

Blend Coffee & Tea

Jl. Nipah no. 2C

Padang Barat, PADANG

Business hours: Setiap hari, 8am – 3pm

 

——

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.