CAPPUCCINO DENGAN ATAU TANPA LATTE ART?

Sejujurnya saya dan beberapa rekan seperkopian sering agak kecewa perkara cappucino klasik dengan taburan bubuk cokelat yang sering hilang di pasaran. Ah!

TANPA bermaksud apapun, cappuccino pada awalnya adalah secangkir kopi dengan komposisi espresso, susu dan busa susu yang tebal. Minuman yang berasal dari Italia dan biasanya dinikmati di waktu sarapan ini pada mulanya hadir dengan permukaan datar bertabur bubuk cokelat atau bisa juga polos saja.

Ukuran busa susu di atasnya yang dinilai tebal ‘pada masa itu’ tidak memungkinkan untuk ‘dilukis’ latte art pada masanya. Namun, kini semuanya tampak bergeser sesuai perkembangan zaman. Banyak peminum kopi yang juga mengapresiasi keindahan dan cappuccino yang tiba tanpa latte art biasanya kurang menggugah hati beberapa orang.

Padahal seharusnya biarlah cappuccino menjadi cappuccino yang sederhana tanpa bubuhan apa-apa. Biarlah rasa yang menentukan dengan kecup busa lembut pertama saat kita meneguknya. Asal tahu saja, latte art yang berada di permukaan cappuccino mengurangi komposisi tebal busa yang seharusnya. Mungkin di busa susu pada cappuccino yang sebenarnya harus dikurangi dengan menipiskannya agar latte art bisa bertengger di sana. Bagaimana rekan kopi sekalian menghadapi ini? Apakah tak mengapa cappuccino-mu tak 100% cappuccino demi rupa nan elok di atas cangkir?

Si seksi cappuccino!

Menurut opini pribadi saya sangat mengapresiasi latte art jika itu memang berada di secangkir caffe latte. Namanya juga latte art, sudah pasti milik caffe latte seorang bukan? Ya bisa juga menjadi milik piccolo latte, of course. Tapi bagaimana pun saya ingin secangkir cappuccino yang saya pesan datang dengan sebenar-benarnya cappuccino. Nikmat, hangat dengan busa tebal yang sensasinya hanya pada dirinya saja.

Lalu bagaimana dengan kedai kopi yang SOP cappucino-nya harus menyertakan latte art? Ya. tak salah juga. Semua terserah minat dan selera masing-masing. Namun alangkah indahnya jika pun ada latte art-nya coba diusahakan tebal busa susunya tidak dikurangi. Sehingga kita semua masih bisa membedakan mana caffe latte dan mana cappuccino tanpa bingung sendiri.

FYI, soalnya selama ini cappuccino dan caffe latte sering tertukar karena keduanya tak ada bedanya. Ha-ha-ha.

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

2 Comments
  1. Iya benar.. kadang jadi sulit membedakan mana Cappucino dan Latte, apalagi kalau ukuran gelas yg dipakai sama.
    Ujung2nya rasanya seperti sama saja…hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.