CHINA HOUSE PENANG: TEMPAT ‘AJAIB’ YANG LEBIH DARI SEKEDAR KOPI

Pernahkah kamu merasa terkagum-kagum pada sebuah kedai kopi hingga berhari-hari tanpa henti? Saya pernah dan China House Penang adalah penyebabnya.

Aneka buku menu di China House.
Aneka buku menu di China House.

PENANG dengan keanggunannya yang khas memang harus saya akui berkali-kali mampu membuat jatuh hati. Kawasan heritage nan otentik yang berhias bersama masyarakat ramah dan makanan enak yang tersebar di seluruh penjuru kota adalah magnet yang terus saja mampu membuat saya terpikat. Saya rela bolak-balik ke sini hanya untuk makan, ngopi atau sekedar menonton manusia berlalu-lalang. Ya kawan, Penang memang sememesona itu.

Ruang pertama yang kami singgahi.
Ruang pertama yang kami singgahi.

Pesona itu kian bertambah saat saya kembali lagi dan melakukan coffee shop hopping di sini. Takdir membawa kaki melangkah ke sebuah tempat yang sudah begitu tersohor namanya tetapi belum pernah saya singgahi. Memalukan memang. Tapi kali ini saya tak mau gagal lagi. Di sebuah siang yang baik akhirnya saya melangkahkan kaki ke China House, sebuah restoran, kedai kopi, perpustakaan, galeri yang kesemuanya dilebur menjadi satu. Ajaib? Memang. Tak ada yang lebih ajaib dari kedai kopi, pastry, restaurant, galeri dan tempat baca yang tergabung menjadi China House yang unik ini.

Courtyard area.
Courtyard area.

China House Penang ini berlokasi di Jalan Lebuh Pantai yang tembus ke Jalan Lebuh Victoria. Berdiri di sebuah gedung yang memiliki lorong panjang. Di setiap lorongnya kamu akan menemukan dekorasi dan tema yang berbeda-beda. Diperlukan waktu 10 menit (jika sedang tak ramai) untuk menghabiskan perjalanan dari pintu masuk ke lorong paling ujung. Waktu itu saya masuk dari pintu di Jalan Lebuh Victoria. Pintu bertuliskan The Canteen ini ternyata tak menemui ujung hingga saya dan tiga teman lainnya merasa kebingungan, bingung yang takjub.

Masih di area outdoor.
Masih di area outdoor.

Setelah The Canteen kemudian kami melewati courtyard sebuah arena outdoor yang asik. Di sana-sini terpampang mural dan origami, juga ada kolam serta bangku dan meja yang dilindungi pohon-pohon asri. Selanjutnya kami melewati lorong yang di dindingnya dipenuhi lukisan. Lorong itu panjang dan sempit memberi perasaan penasaran akan apalagi yang akan ada setelah ini. Ternyata setelah lorong tersebut ada sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang. Di sana ada banyak buku dan majalah yang dipajang. Saya menyimpulkan inilah mungkin yang dimaksud perpustakaan.

Semacam menuju lorong waktu.
Semacam menuju lorong waktu.
Situasi di balik coffee bar.
Situasi di balik coffee bar.

Tak cukup sampai di situ setelah ruang ‘perpustakaan’ tadi ada ruang lain yang dipenuhi lebih dari 20 jenis cakes. Cakes ini berjejer rapi, ditutup dengan begitu misterius. Aduh-aduh rasanya berdebar melihat begitu banyak makanan manis yang tak sabar ingin dicoba satu per satu. China House ini sebenarnya tempat apa? Kenapa begitu misterius dan mengejutkan dalam satu kemasan begini? Setelah ‘ruang cakes‘ tadi barulah kami menemui ruangan Kopi C yang berada di paling ujung (tembus ke Jalan Lebuh Pantai). Di sini suasananya riuh sekali. Para barista sibuk di coffee bar sedang mesin espresso sedari tak tak henti-henti berbunyi.

Salah satu 'karya seni' di dinding.
Salah satu ‘karya seni’ di dinding.
Salah satu indoor area.
Salah satu indoor area.

Nah, setelah menjelajah seluruh bagian dari China House tugas yang tak kalah sulit selanjutnya adalah menemukan tempat terbaik di bagian mana enaknya duduk sambil ngopi. Dan setelah berunding akhirnya kami memilih bersantai di bagian courtyard. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi, kami juga menilai di sinilah yang paling tak banyak manusianya.

Salah satu ruang lain yang tersembunyi.
Salah satu ruang lain yang tersembunyi.
Lorong penuh lukisan.
Lorong penuh lukisan.

Nongkrong pun terasa lebih asik. Tanpa menunggu lama kami memutuskan memesan beberapa menu. Piccolo latte, cold brew, aneka jus menjadi pilihan untuk melebur dahaga. Sedang chocolate cake, beef hotdog dan pizza yang saya lupa namanya kami pilih untuk menemani siang ini. Tak perlu menunggu lama semua pesanan datang tepat waktu.

Piccolo latte!
Piccolo latte!
Chocolate cake rasa surge. :D
Chocolate cake rasa surga. 😀

Kedua menu kopi terasa begitu pas, hanya saja saya sedikit kecewa dengan penyajian cold brew yang langsung disajikan di cangkir. Tidak datang bersama botol cold brew selayaknya coffee shop lainnya. Tak hanya menu kopi, beef hotdog dan pizza yang kami pesan juga cukup memuaskan meski saat itu tiba dengan keadaan yang tak terlalu hangat lagi. Maklum China House saat itu sangat ramai pengunjung dan pastilah banyak kekurangan di sana-sini diakibatkan keramaian yang membludak ini.

Pizza & beef hotdog!
Pizza & beef hotdog!

Tapi semua kekurangan itu seketika terbang jauh-jauh saat kami mencicipi chocolate cake yang rasanya nikmat benar. Sebut saya berlebihan tapi cake dengan teksur lembut dan cokelat premium yang padat ini serasa mampu membenturkan saya ke surga. Nikmatnya ampun-ampunan. Kami sepakat cake ini adalah cake paling nikmat yang pernah kami cicipi sejauh ini. Tak salah jika banyak yang memuji bahwa China House adalah surganya cake di seantero Penang. Belakangan saya diberi tahu bahwa China House rata-rata menjual 7000 potong cakes per bulannya. Wow!

30 jenis cake siap untuk disantap!
30 jenis cake siap untuk disantap!
Ulala!
Ulala!

Untuk kamu yang menginginkan sebuah tempat makan yang menyajikan kopi, main course, cakes dan aneka camilan lainnya mungkin akan akan terpesona dengan China House Penang ini. Kenapa? Karena tempat ini mencakupi semuanya dan malah memberikan aneka kejutan yang tak pernah saya jumpai sebelumnya di tempat lain. Bagaimana mungkin sebuah kedai kopi merangkap sebuah galeri dan perpustakaan dalam satu gedung? Ya, China House memungkinkan semuanya terjadi. Saya tak mau kagum sendirian dengan tempat ini. Silakan mampir dan buktikan apakah saya benar atau hanya membual. 😀

China House 

153, Lebuh Pantai, 10300 George Town,

Pulau Pinang, Malaysia

PAKET CAFE

508 total views, 2 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.