COFFEE TRIP: MENYEDUH KOPI DI NEGERI DI ATAS AWAN 

“Rasanya berbeda dari kopi yang biasanya kami rasakan, terima kasih banyak Anak Jun”, seru Ame Alex tersenyum sembari mengusap lembut kepala saya.

SAAT memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kopi saya ke tanah Flores, saya tahu ini tidak akan menjadi perjalanan yang biasa saja. Tanah Flores terlalu luar biasa untuk dianggap biasa saja. Dengan semua pesona yang dimiliki olehnya, Flores tidak pernah berhenti memukau siapapun yang datang, baik oleh keindahan alamnya ataupun keramah-tamahan masyarakatnya.

Sejak saat pertama , saya memutuskan untuk memenuhi impian saya berkunjung ke sebuah desa adat di Flores yaitu Desa Waerebo Kabupaten Mangarai, yang terletak diatas ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut. Butuh banyak persiapan untuk bisa tiba di sana, dari mulai fisik, waktu, dan juga biaya yang tidak sedikit. Karenanya, setibanya di Desa Waerebo saya menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk bertemu dengan masyarakat asli dan mengobrol banyak hal. Beruntung, di hari pertama kedatangan saya, saya di sambut langsung oleh tetua adat mereka yang bernama Alex. Saya memanggilnya dengan sebutan Ame Alex, yang berarti sebuah panggilan penghormatan kepada pria yang lebih tua umurnya.

Belum lama saya mengenal dan berbincang bersamanya, saya langsung mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang sangat ramah. Bahkan ia tidak sungkan mengajak saya ke rumah utama untuk mencicipi kerupuk ubi buatan istrinya, Mama Veronica. Karena kesempatan yang sangat baik ini, saya mencoba untuk membuatkan sebuah kopi untuknya.

Preferensi cita rasa kopi masyarakat Desa Waerebo sedikit berbeda dari selera orang kebanyakan, dimana pada kota-kota besar dengan third wave coffee, lebih terbiasa dengan rasa kopi yang cenderung fruity, ketebalan yang sedang, juga bersih dari sisa ampas karena menggunakan metode seduh dengan penyaring. Sedangkan masyarakat Desa Waerebo terbiasa mengonsumsi kopi dengan tingkatan sangrai yang gelap. Mereka ‘menggoreng’ kopi menggunakan cara tradisional dengan wajan dan api besar, dimana mereka mengindikasi hasil gorengannya tersebut saat biji kopi tersebut berwarna hitam legam dan mengeluarkan minyak.

Seperti kita ketahui bersama bahwa tingkatan tersebut bisa dikatakan sebagai tingkatan paling atas atau Italian Roast Level. Pada tingkatan tersebut kopi menyimpan banyak sekali karbon dan hanya meninggalkan sedikit cita rasa asli karena hasil panggangan gosong tentunya akan menguapkan banyak rasa. Tentu hal tersebut bukan  soal salah atau benar, ketika semua bicara soal selera, rasanya cukup adil bagi siapapun untuk menikmati kopi dengan cita rasa yang sangat mereka suka.

Saat menunjukan kopi Bali dari Otten Coffee dengan warna kecoklatan, Ame Alex sedikit heran mengapa saya akan menyeduh kopi dengan tingkatan yang menurutnya masih ‘mentah’. Sembari saya menyiapkan air yang disediakan Mama Veronica, Ame Alex membantu saya dengan menggiling biji kopi menggunakan Handy Grinder Rhinowares. Ini merupakan pengalaman pertama untuknya, karena masyarakat Desa Waerebo biasanya menumbuk biji kopi hingga halus menggunakan alat yang serupa dengan lumpang dan alu.

Setelah saya selesai menyeduh (dengan resep standar seduhan yang biasa saya buat), Ame Alex cukup terkejut dengan rasanya. Ia mengatakan tidak pernah menyangka jika tingkatan roast yang lebih muda akan menyimpan banyak rasa dibandinkan dengan yang biasa ia minum sehari-hari.

“Kok ada rasa asam seperti jeruk ya?” ujar Ame Alex sembari menggerakan rongga mulutnya.

Saya hanya tersenyum, kemudian saya bertanya kepadanya,

“Ada hal lain yang bisa Ame Alex rasakan dari kopi tersebut?”

“Kaya wangi bunga, Anak Jun. Menarik sekali kopi ini”

Saat kami berdua berdiskusi soal hasil seduhan, semua masyarakat di desa tersebut hanya bisa menonton keasikan kami berdua. Karena setelah saya ketahui, jika alat pribadi seperti alat makan, merupakan barang yang sangat pribadi dan mereka tidak diperkenankan untuk menggunakan satu alat secara bersamaan, apalagi barang yang bukan miliknya.

“Ini gelas hanya satu, jadi kopi ini hanya untuk saya ya Anak Jun?” ujar Ame Alex memastikan.

“Betul Ame, selamat menikmati kopinya” jawab saya sembari melirik ke kerumunan orang yang sedari tadi memperhatikan. Mereka terdiam sambil membayangkan semua cita rasa dalam secangkir kopi yang sasya hidangkan untuk Ame Alex.

Saya berjanji untuk kembali dan menyeduhkan kopi untuk semua penduduk disana pada kesempatan yang lain.

Sampai jumpa lagi, Waerebo.

 

Tulisan ini ditulis oleh Jun, kontributor Otten Coffee dan diedit oleh redaksi.


Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.