COFFEE TRIP: PASAR DOLOKSANGGUL DAN GABAH PETANI KOPI

Mengapa petani kopi di sini masih jual gabah kopi di pasar padahal sudah ada pengumpul yang memudahkan para petani kopi untuk memasarkan hasil panen mereka, hal ini yang terngiang di benak saya ketika berkunjung ke Pasar Doloksanggul di jalan Melanthon Siregar Kabupaten Humbang Hasundutan.

AWALNYA jum’at lalu kami tim Otten sudah berancana mengunjungi para petani kopi di desa Ria-Ria kecamatan Pollung, namun ternyata kebiasaan para petani di sini setiap hari jum’at, mereka ke pasar untuk belanja kebutuhan harian seperti sayur dan sembako lainnya. Jadi kami tidak berkesempatan hari itu untuk berkunjung, tapi tidak kalah menarik ketika mengetahui bahwa pasar Doloksanggul yang terletak di jalan Melanthon Siregar ini setiap jum’at banyak petani kopi dari berbagai desa yang menjual gabah kopi mereka di pasar ini. Saya sendiri merasa sangat bersemangat mendengar informasi tersebut, dan kami pun mengalihkan destinasi kami sebelumnya menjadi ke pasar ini, tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap hanya butuh waktu 15 menit kurang lebih menggunakan kendaraan.

Transaksi Gabah Kopi

Tiba di jalan Melanthon Siregar, kami disuguhkan pemandangan yang begitu menyenangkan, melihat banyak orang yang berlalu-lalang dengan aktifitas mereka masing-masing. Ketika pertama masuk ke jalan ini, saya sangat tertarik dengan aktifitas seorang ibu yang sedang menjual gabah kopinya kepada orang lain. Seorang ibu tua yang tidak sempat saya tanyakan nama, hanya akrab saya panggil dengan sebutan ompung. Ompung ini mengeluh karena gabah yang dijualnya sedang mengalami penurunan harga, dari yang biasanya dia dapat 43.000 per liternya, jum’at lalu gabah kopinya dijual seharga 34.500 per liter. Tapi ketika saya tanyakan, ompung pun tidak mengetahui secara pasti sebab penurunan harga tersebut, mereka hanya tahu alasan turun harga karena menjelang bulan puasa, jadi banyak yang puasa untuk konsumsi kopi.

Mengangkut Gabah Kopi Dari Petani Untuk Dikirim

Gabah kopi adalah biji kopi yang setelah panen telah melalui proses pengupasan dengan mesin pulper memisahkan biji dan buah kopinya, yang kemudian dicuci untuk mengurangi lendir yang masih menempel pada biji kopi, setelah dicuci tinggal kulit biji kopi (silver skin) dan biji kopinya kemudian dijemur. Satuan ukur di sini menggunakan liter untuk menghitung jumlah gabah kopi, bila dikonversikan ke kilogram dengan masa jenis biji kopi, mungkin 1 liter gabah kopi sekitar 1.5 kg. Nantinya gabah kopi ini akan melalui proses pengupasan lagi menggunakan mesin, memisahkan silver skin dengan green bean selanjutnya green bean ini yang dipasarkan ke pada pembeli seperti roaster atau pun eksportir.

Aktifitas Jual Beli Gabah Kopi Di Pengumpul

Tak jauh dari tempat para petani kopi menjual langsung gabah kopi mereka pada pembeli, ada dua pengumpul gabah kopi di sekitar pasar tersebut. Ramai juga petani kopi yang tengah sibuk membawa gabah kopi mereka dalam goni untuk dijual ke pengumpul. Petani kopi nantinya akan datang membawa gabah kopi mereka, selanjutnya pengumpul akan menaksir harga dengan mencelupkan tangan ke tumpukan gabah kopi dan melihat aroma gabah kopi. Setelah pengumpul mengetahui taksiran gabah kopi, selanjutnya negosiasi harga antara pengumpul dan petani kopi. Pada kualitas gabah kopi yang diinginkan pengumpul, rata-rata gabah kopi yang dijual di sini sekitar 37.000 per liternya. Pengumpul akan menentukan harga dari perkiraan kadar air pada gabah kopi, perkiraan sampah dan defect pada gabah kopi, dan perkiraan lainnya. Selanjutnya pengumpul akan memasukkan gabah kopi ke goni, dan mengirimnya ke gudang mereka untuk diproses lagi sebelum dijual dalam bentuk green bean.

Mobil Pengangkut Gabah Kopi

Kebanyakan para petani kopi yang datang ke pasar ini menjual gabah kopi mereka untuk belanja kebutuhan harian dan memenuhi kebutuhan keluarga, setelah terjual mereka menggunakan uang hasil jual gabah kopi untuk mencari kebutuhan di pasar ini juga. Menariknya lagi, ketika ketemu dengan dengan seseorang ibu petani kopi setelah menjual gabah kopi mereka di pengumpul. Beliau sangat akrab bertukar cerita, diawali dengan keluh kesah tentang harga yang terkadang naik dan turun, tapi walau pun demikian beliau bersyukur bisa membiayai 8 anaknya dengan hasil dari bertanam kopi. Jika ingin membeli langsung melalui petani kopi dalam bentuk gabah kopi, datanglah di hari jum’at di pasar Doloksanggul jalan Melanthon Siregar.

Para Petani Kopi Berjualan Gabah Kopi

Melihat langsung dan berkesempatan mengobrol akrab dengan para petani kopi di pasar ini, menyadarkan saya bahwa secangkir kopi yang kita minum tiap hari menempuh banyak perjuangan dan terselip harapan. Sudah seharusnya kita menghargai secangkir kopi yang kita teguk hari ini. Semoga panjang umur petani kopi Indonesia.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.