COFFEEWAR: KEDAI YANG TAK MENGAJAK PERANG TAPI BERSENANG-SENANG  

Warung kopi nyentrik di selatan Jakarta ini seumpama “permata tersembunyi” yang harus didatangi penggemar kopi dari luar Jakarta—terutama oleh mereka yang tidak hanya menyukai kopi, tapi juga seni.

NAMA kedai ini berkali-kali mampir di telinga saya dan sekelebat pandangan karena guliran di media sosial sejak beberapa tahun terakhir. Selain karena berkali-kali disebutkan oleh Bang Willie sebagai tempat tongkrongan langganannya setiap kali ke Jakarta (yang ditambahi pesan bernada perintah bahwa saya harus main ke sana jika ke ibukota), kelompok musik Payung Teduh yang sedang menata kembali formasi mereka setelah ditinggal Is vokalisnya beberapa waktu lalu juga terlihat mengerjakan aransemen lagu untuk album terbaru mereka di kedai ini. Dan ada beberapa nama cukup terkenal dari kalangan musisi indie maupun seniman yang juga kerap menyambangi kedai ini entah sekadar ngopi atau mengerjakan proyek seni.

Dari luar, Coffeewar tidak tampak seperti kedai-kedai kopi fancy yang—menurut istilah millennial—kekinian. Kedai ini terlihat ‘biasa saja’. Hanya saja, daun pintu masuknya sedikit menarik perhatian saya, seperti pintu masuk bar atau kedai minuman yang berisi para koboi, petarung jalanan, dan kesatria-kesatria penyendiri yang menenggak bergelas-gelas bir seperti di film-film bertema wild wild west.

Daun pintu yang rock ‘n roll sekali.
Bagian dalam Coffeewar.

Di dalamnya Coffeewar pun terlihat bersahaja. Barangkali akan sedikit mengejutkan untuk orang yang berharap ada mesin espresso canggih nan mewah di barnya, terutama karena anggapan bahwa “kedai ini sering disinggahi para seniman”. Meja-meja dari kayu sederhana disusun berdekatan, sebuah meja bar yang merangkap dapur untuk memasak berada di ujung ruangan. Para personel kedai ini pun tidak ada yang tampil berlebihan, sewajarnya saja. Di meja bar yang minimalis, hanya ada beberapa alat seduh manual seperti French Press, mokapot, dan ibrik beserta grinder Feima 600N untuk membuat kopi karena menu andalan mereka adalah sebuah metode sederhana budaya Indonesia sejak dahulu kala: tubruk. (Namun, menu ini justru sangat favorit dan kerap dipesan pelanggan yang datang ke sini).

Di banyak artikel yang mengulas tentang Coffeewar sebelumnya, kedai ini memang sudah tercap idealis dan bagi saya terkesan sedikit pemberontak. Mereka tak mau terjebak dalam skema yang diciptakan oleh tren gelombang ketiga, bahwa kedai kopi harus punya mesin espresso untuk membuat kopi dan mesinnya pun mesti glamor. Sebaliknya, mereka seolah mengajak pelanggannya untuk kembali pada kenikmatan minum kopi mula-mula, ya ditubruk.

Kopi yang terbuat dari cerita.
Jajaran single origin yang dijual.
Kopi dengan metode French press juga termasuk salah satu favorit.

Di jajaran single origin, mereka menawarkan biji-biji kopi daerah Indonesia yang dibungkus dalam kemasan cukup unik. Hanya ditempeli sebuah stiker dimana semua informasi biji kopi mulai dari level roasting, varietas, hingga asal/originnya dicantumkan dalam desain typography. Setiap origin memiliki pola desain masing-masing sehingga dugaan saya pastilah cukup merepotkan mengerjakan kemasan berbeda dengan model custom begitu. Tapi, yah, seniman mah bebaass…

Saya memesan Toraja Pulu Pulu untuk teman malam itu. Ternyata karakternya sangat menarik, dengan notes herbal dan sweet acidity ala tangerine.

Selain kopi, Coffeewar (yang ternyata merupakan akronim dari “coffee warung” a.k.a warung kopi) juga menyediakan menu makanan berat yang tetap khas Indonesia, antara lain nasi goreng atau nasi rawon seperti yang saya pesan saat datang. Menariknya, rata-rata menu di sini dibandrol dengan harga yang ramah di kantong… untuk ukuran Jakarta selatan.

Menu khas Indonesia.
Datang, duduk, dan bercengkerama!

Meski terbilang sederhana, Coffeewar nyatanya justru memberikan kehangatan dan kedekatan yang barangkali tak bisa diberikan kedai-kedai kopi mahal. Semua personelnya ramah dan memerlakukan para pelanggan seperti tamu yang bertandang ke rumah. Bernice dan saya bahkan hanya butuh waktu tak sampai 5 menit untuk segera akrab dan bersenda gurau seperti teman lama dengan Satria, baristanya. Padahal kami sama-sama baru kenal.

Ada suasana berbeda yang dengan cepat menyergap begitu kita datang dan duduk di kedai ini. Atmosfir yang santai, bersahabat dan dekat sehingga tak akan membuat siapapun yang datang pertama kali merasa terasing atau terintimidasi. Coffeewar seperti memiliki esensi kedai kopi seharusnya: mendekatkan dan mengakrabkan. Barangkali karena itu pula banyak seniman (yang umumnya terkenal dengan pemikiran idealis dan “anti keterbatasan”) senang bertandang ke sini.

 

Coffeewar

Jalan Kemang Timur Raya No. 39CD – Jakarta Selatan.
Jam buka: 09.00-01.00 WIB

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.