CULTURE COFFEE HOUSE MEDAN

Nuansa kayu menebar kehangatan sembari kopi terus berpulang pada tegukan. Di Culture Coffee House kami tunaikan ibadah ngopi sekali lagi.

ENTAH apa yang menyebabkan Ariyanda memberi nama kedai kopinya Culture Coffee House, saya tak sempat pula bertanya. Mungkin dia mau membudidaya kebiasaan minum kopi atau justru karena dia datang dari Fakultas Ilmu Budaya, tempat kami sama-sama berkuliah. Apapun itu, untuk saya sendiri Culture Coffee House memberi suasana beda dijamaknya kedai-kedai kopi di sepanjang Kawasan Ringroad.

Beberapa kali mampir ke Culture Coffee House, suasana yang didapat tetap saja sama. Lampu remang-remang yang memberi hangat yang cukup, kursi-kursi kayu klasik dan aroma kayu kedai ini memang jauh dari kesan tren kedai kopi kini. Namun, itulah yang membuat asyik. Berbeda menjadikannya tetap dicintai apa adanya.

Malam itu kami duduk di kursi yang mirip kursi kakek-nenek kita. Duduk di dekat jendela sambil menatap laju hidup di luar sana. Saya dan beberapa teman dan kemudian disusul sang owner ngopi sambil ngobrol panjang lebar. Kami memesan single estate Naman Teran dari Tanah Karo kalau tidak salah. Sambil ditemani pisang coklat keju yang renyah menagih.

Seorang teman lain memesan caffe latte yang begitu lembut di awal dan pahit di akhir. Pas seperti hubungan percintaan seorang teman yang kala itu bersama kami. Ha-ha-ha. Saya selalu suka dengan kedai kopi yang tenang seperti ini. Di luar riuh namun di dalam kedai seperti kamu temukan jiwamu yang sepi. Sedap betul.

Di temboknya banyak tulisan-tulisan yang familiar di mata saya. Beberapa slogan dan ‘lawakan’ semasa kuliah tampak pindah di kedai kopi ini. Serasa memunculkan nostalgia beberapa tahun lalu. Atau ini memang menjadi tujuan sang pemilik agar setiap kami yang punya keterikatan dengan Fakultas Ilmu Budaya (dulu namanya Fakultas Sastra) USU terpanggil pulang. Entahlah.

Di sini mereka ternyata menyangrai sendiri biji kopinya. Hebat juga dalam kurun waktu singkat sudah ada perkembangan. Awalnya hanya seduh kopi, kini mulai sangrai, selanjutnya apa lagi?

Menurut kami waktu-waktu terbaik ngopi di Coffee Culture House adalah sore menjelang matahari punah di Barat. Saat Medan tak seganas siang dan sendu pulang pada langit malam. Di sini tak hanya ada kopi, ada minuman lain dan yang paling kami suka adalah menu makan beratnya. Nasi Ayam Cabe Hijau cukup memuaskan lidah dan Nasi Goreng Biasa rasanya jauh dari biasa. Ya, setidaknya untuk kami.

Untuk warga Medan yang sering mengeluh tentang kurangnya pilihan tempat ngopi di Kawasan Ringroad, bolehlah putar balik ke Coffee Culture House. Karena di sini cocok untuk banyak kalangan. Terutama mereka yang merokok karena bisa merokok dengan nyaman!

Culture Coffee House

 Jalan. Arteri Ring Road, Tanjung Sari, Kecamatan

Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara 20133

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.