DI UGANDA, PETANI PINJAMKAN LAHAN UNTUK ANAKNYA BERTANAM KOPI

Siapa yang tak kenal biji kopi dari Uganda, salah satu negara produsen kopi yang punya karakter sehingga bisa dikenal di banyak negara, paling famous dari biji kopi Uganda adalah biji kopi arabikanya yang punya kesan rasa floral dan coklat, serta asam lemon yang creamy.

BERBAGAI negara punya permasalahannya masing-masing di industri kopi, apakah itu masalah yang terjadi pada hulu atau hilirnya, tapi yang menjadi permasalahan bersama adalah isu kelangkaan komoditas kopi. Dari mulai perubahan cuaca ekstrim yang mengancam atau kurangnya minat untuk meneruskan usaha para petani kopi untuk membudidayakan tanaman kopi speciality. Di Uganda, para pelaku industri kopi mulai memperhatikan bagaimana masa depan tanaman kopi mereka. Sebuah proyek yang sedang berlangsung di sana menghimbau dan meyakinkan para orang tua yang memiliki lahan tanam untuk memberikan bagian lahan untuk anak-anak mereka. Kurang dari 1 acre atau seluas 4046,86 m2, cukuplah untuk menjadi bahan belajar para anak-anak mereka tentang pertanian kopi. Tujuan dari proyek itu sendiri untuk meneruskan pertanian kopi dari generasi ke generasi dan juga untuk mengurangi pengangguran di pedesaan.

Joshua Rukundo, kepala Akademi Pengembangan Kopi Kigezi kelompok komunitas berbasis lokal menanggapi proyek ini sebagai sebuah perubahan yang sangat positif. Bahkan jika setengah acre pun yang diberikan pada anak-anak untuk mengurus tanaman kopi sekarang, dalam jangka tiga tahun akan memberikan hasil panen, tentunya orang yang menganggur sekitar perkebunan akan mencari nafkah dari kopi. Dan muncul pertanyaan, 1 acre bisa menampung berapa pohon kopi?

 

credit: sunrise.ug

 

Menurut Otoristas Pengembangan Kopi Uganda (UCDA) bahkan 1 acre dapat menampung 450 pohon kopi robusta atau 600 pohon arabika, dan tentunya setiap pohon dapat menghasilkan 10 kilogram kopi per tahun. Mungkin sekilas terkesan sebuah proyek yang sangat beresiko mempercayakan anak-anak untuk mengelola lahan tanam dengan daya tampung ratusan pohon kopi. Tapi di sini, proyek ini benar-benar berjalan di Uganda di beberapa perkebunan kopi.

Perdana Menteri Uganda, Dr. Ruhakana Rugunda dalam pidatonya pada sebuah simposium dengan tajuk “Membuka Potensi Kopi dan Pariwisata Uganda” menjelaskan beliau memiliki harapan tinggi untuk produksi kopi, baik sebagai ekspor yang bernilai mau pun sebagai daya tarik wisata. Tentunya bukan hanya sekadar harapan yang tidak mendasar, pasti ada banyak pendekatan mengapa kopi menjadi potensi membantu negara tersebut tidak hanya dari komoditasnya melainkan juga dari daya tarik terhadap turis yang datang ke Uganda. Hal ini, akan membuat ekosistem perekonomian sekitar lahan menjadi bergairah juga menyambut orang-orang yang datang.

Bahkan dari proyek memberdayakan lahan tanam kopi lebih optimal lagi merupakan sebuah indikator bagi Menteri Pertanian Kibanzanga. Lebih jelasnya lagi, menurutnya pertanian kopi ini adalah indikator untuk pendapatan meningkat dan jumlah turis yang datang, bagi para petani berarti permintaan akan meningkat juga dengan memaksimalkan potensi di lini produksi tentunya.

 

 

Tidak hanya di Uganda, di Indonesia pun sudah serius untuk menjadikan komoditas kopi lebih bersaing dari segi kualitas. Otten Coffee dan para pelaku industri kopi lainnya pernah diundang ke Istana Negara khusus berdiskusi tentang isu komoditas kopi ini, lihat artikelnya di sini.

src: allafrica.com img: carbonbrief.org

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.