EVOLUSI DRIPPER PADA POUR OVER

Kemajuan teknologi membuat segala penemuan jadi terkesan lebih baik, termasuk dalam urusan peralatan kopi.

DALAM membuat kopi, proses brewing atau penyeduhan adalah salah satu fase cukup penting –bahkan krusial– yang akan menentukan hasil akhir seduhan nantinya. Nggak heran kalau untuk satu konsep dripper saja pun variasinya cukup banyak, lengkap dengan detail masing-masing yang konon bisa memberikan hasil seduh yang berbeda pula. Well, jauh sebelum Hario V60 populer di kalangan penggemar pour over, Melitta sebenarnya adalah yang kali pertama menemukan konsep dripper.

Berikut adalah semacam evolusi 4 dripper yang cukup legendaris dari masa ke masa. Apa-apa saja?

1. Melitta, immersion dripper

Melitta dripper

Di awal abad ke-20, seorang ibu rumah tangga berkebangsaan Jerman bernama Melitta Benz memiliki ide untuk menyajikan secangkir kopi terbaik kepada suaminya dengan menggunakan konsep paper filter. Dari sinilah kemudian lahir Melitta dripper yang legendaris itu. Awalnya, dripper komersial pertama diproduksi dengan memakai 8 lubang di bagian bawahnya. Namun di tahun 1960an, Melitta memutuskan untuk menggunakan format satu lubang kecil saja –yang kemudian menjadi signature merek ini– pada dripper-nya setelah ia melewati berbagai proses eksperimen. Format satu lubang ini membuat kopi terendam sedikit lama sebelum ia mengucur ke bagian server. Plus, infusi kopi pun dianggap lebih mudah karena cuma “diatur” oleh satu lubang saja. Tiga puluh detik setelah menuangkan air panas pada pouring pertama, penggunanya hanya perlu menambahkan sisa air panas sampai batas dripper. Means, dripper ini pun dianggap nggak membutuhkan teknik pouring yang terlalu jago-jago amat. Keep it simple.

 

2. Kalita, hybrid dripper

kalita

Dripper asal Jepang ini semakin dikenal di Amerika setelah mereka mengeluarkan seri-seri Kalita Wave memiliki 3 lubang dengan dasar flat pada dripper-nya. Kalita termasuk dedengkot dalam bidang dripper kopi, produk ini telah diproduksi sejak tahun 1959. Aslinya, bentuk Kalita sangat mirip dengan Melitta—kalau nggak bisa disebut tiruannya Melitta. Lol. Dan kalau kalian memerhatikan, nama brand dan logonya juga nggak jauh beda. Yang membuatnya sedikit terlihat lain cuma jumlah lubang di bagian dasar dripper: Melitta cuma punya 1, sedangkan Kalita punya 3. Nah, konsep dari Kalita dripper lebih kepada perendaman (immersion) dan perembesan (permeation). Tiga lubang di bagian bawah dripper didesain sedemikian rupa untuk “melancarkan” proses dripping dan mencegah over ekstraksi pada kopi yang diseduh.

 

3. Kono Meimon, pionir dripper conical

kono meimon

Kono Meimon mungkin saja tidak sepopuler rekan sejawatnya, Hario V60. Namun dripper ini termasuk pionir untuk dripper sejenis. Adalah Coffee Syphon Co., perusahaan asal Jepang yang telah memproduksi alat seduh syphon sejak tahun 1925. Berkembangnya industri kopi akhirnya membuat mereka ikut berinovasi dengan menciptakan dripper Kono Meimon di tahun 1953—setelah diuji coba selama 5 tahun sebelumnya. Hampir sama dengan kasus Melitta-Kalita, bentuk dripper ini juga nggak jauh beda dengan Hario V60, yang membuat lain hanya ribs di bagian dalam dripper saja.

Kono Meimon memiliki 12 ribs berbentuk vertikal yang tegas dan membuat kopi menetes sedikit lebih lama dibandingkan Hario V60. Dripper ini bagus untuk ekstraksi yang lebih merata dan utuh, namun di sisi lain Kono cenderung sulit untuk menjaga hasil akhir kopi yang konsisten bersih dan jernih.

 

4. Hario V60

hario v60

Meskipun Hario termasuk pemain lama dalam industri peralatan kopi, tapi nyatanya Hario V60 baru diperkenalkan pertama kali pada tahun 2005. Nama Hario V60 sendiri diadaptasi dari tampilannya, jika dilihat dari samping bentuknya memang serupa V shape dan membentuk sudut 60 derajat baik dari sudut interior atas dan sudut luar bawah.

Dripper ini memiliki satu lubang yang cukup besar di bagian bawah, dengan diameter yang lebih lebar dari Kono Meimon. Bentuk ribs juga nggak vertikal seperti Meimon, namun spiral dan lebih panjang. Garis spiral yang unik ini didesain untuk menjaga jalur ventilasi (pada degassing) dengan baik, termasuk juga untuk “memandu” ekstraksi kopi agar jatuh dengan lebih teratur.

Desain spiral dan lubang yang lebih besar ini juga menjadikan kopi yang diseduh bisa menitis lebih cepat dibandingkan Kono. Plus, proses seduhan pun dianggap bisa memberikan hasil akhir yang lebih baik. Karakter kopi yang dihasilkan dari Hario V60 dianggap lebih bersih dan jernih.


pour-over

Foto tambahan dari Flickr, courtesy dari Junya Demura/canbuydesign/Jason Clifton.

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

1 Comment
  1. Thanks atas Informasinya.
    Setelah Saya coba beberapa Kali mengunakan V60 dan Calista, dengan ukuran grind yang sama, lebih cepat Calista proses brewingnya (Mungkin karena lubangnya lebih Banyak dibanding V60). Dengan Calista Saya masih bisa menikmati hot coffee.
    Maaf ya ini pengalaman pribadi Saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.