FAIR TRADE DAN DIRECT TRADE: APA BEDANYA?

Dua istilah ini semakin santer terdengar dalam kaitannya dengan isu sustainability. Tapi apakah kedua istilah ini memiliki makna yang sama?

DALAM beberapa tahun terakhir, isu sustainability atau keberlanjutan adalah topik yang kian serius seiring dengan semakin serius pula industri kopi belakangan ini. Setidaknya dalam satu dekade terakhir, kopi bukan lagi hanya dipandang sebagai minuman penyuplai kafein tapi juga bagian dari entitas yang ujungnya berhubungan dengan para petani, processor kopi, dan aktor-aktor lain yang tak kalah penting di bagian hulu. Keberlanjutan dalam hal ini, tentu saja, otomatis ikut menyinggung banyak faktor lain yang ada dalam lingkaran industri kopi, mulai dari sisi ekonomi hingga dampak lingkungannya. Di sinilah kedua istilah Fair Trade dan Direct Trade lalu muncul dan menjadi semacam pilihan (yang dianggap bijak) bagi para pelaku industri kopi untuk “memberi keadilan” dan menjaga keberlanjutan (sustainability) hidup para petani kopi, daerah pertanian, sekaligus lingkungan dimana pertanian-pertanian itu berada.

Memilih entah sertifikasi Fair Trade atau Direct Trade memang dianggap baik untuk membantu lingkungan dan orang-orang yang berada di pangkal kopi itu bermula. Tapi kedua istilah ini memiliki tujuan akhir dan konsep yang berbeda. Apa saja?

Fair Trade dan Direct Trade dianggap pilihan bijak bagi pelaku industri kopi untuk memberi keadilan dan menjaga keberlanjutan para petani kopi.

Fair Trade

Sistem fair trade awalnya terbentuk sebagai akibat dari krisis kopi di tahun 1988. Pada waktu itu tidak ada penetapan kuota harga dan pasokan kopi menjadi tersedia jauh lebih banyak melebihi jumlah permintaan. Akibatnya harga kopi jatuh di bawah nilai semestinya, para petani kopi tidak mendapat kesejahteraan yang seharusnya, sementara perusahaan-perusahaan besar diuntungkan dengan pasokan melimpah dengan harga yang murah.

Max Havelaar, label Fairtrade pertama yang berada di bawah agensi pembangunan Belanda Solidaridad, kemudian mengambil inisiatif untuk memulai sertifikasi perdagangan yang adil (fair trade). Tujuan awal mereka adalah untuk meningkatkan harga kopi secara artifisial. Beberapa asosiasi dan organisasi kecil serupa di luar Belanda kemudian bermunculan dan akhirnya berkolaborasi membentuk badan nirlaba antarbangsa yang sekarang dikenal dengan Fairtrade International.

Fairtrade adalah sebuah sistem dan juga sebuah lembaga. Misi utamanya adalah memberikan harga yang adil untuk kedua belah pihak, baik untuk produsen kopi (petani, koperasi/kelompok tani) maupun buyer kopi (perusahaan kopi/roastery). Mereka adalah penengah yang menjembatani kebutuhan kedua pihak ini tanpa mengorbankan kesejahteraan petani di negara-negara berkembang dimana kopi itu berasal, termasuk pula memberlakukan sejumlah regulasi dan peraturan yang menyangkut masalah perdagangan dan ekspor-impor kopi. Fairtrade antara lain melarang produsen kopi untuk memperkerjakan tenaga anak atau melakukan kerja paksa. Sehingga, dengan kata lain, Fairtrade memastikan bahwa kopi yang berasal dari negara-negara berkembang dan dikirimkan ke negara-negara maju adalah komoditi yang dihasilkan dengan proses adil dan etis, bukan hanya harganya tapi juga seluruh perjalanannya.

Untuk mendapatkan sertifikasi dan lisensi Fairtrade, baik produsen maupun buyer harus mendaftar sebagai anggota, membayar iuran, dan mematuhi sejumlah standar yang telah ditetapkan oleh Fairtrade. Bagi para produsen kopi yang kebanyakan berada di negara-negara berkembang Amerika Latin, Afrika dan beberapa Asia Pasifik, mereka diuntungkan dengan diberikan akses seluas-luasnya pada jaringan buyer yang kebanyakan berada di Amerika Utara dan Eropa. Buyer dan perusahaan kopi yang berada di negara-negara maju ini umumnya akan berhubungan langsung dengan produsen untuk menentukan harga fair bagi kedua belah pihak, dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor prinsipil lain seperti nilai pasar dan biaya operasional buyer. Setelah harga disepakati, buyer akan membayar sebagian biaya pesanan di muka—ini tentu sangat berpengaruh bagi para petani (terutama kelompok petani kecil) yang membutuhkan dana untuk proses produksi selama pengolahan maupun untuk menutupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sisa biaya akan dibayarkan setelah pesanan selesai. (Fairtrade juga menyediakan layanan pinjaman dan kredit kepada para petani.)

Sementara bagi para buyer, mereka akan menambah nilai (dan gengsi) pada perusahaannya karena gerakan kepedulian yang mereka lakukan. Setidaknya ini menjadi prestise sosial karena perusahaannya turut mendukung gerakan kesetaraan para petani kopi, praktik bisnis yang berkelanjutan, dan juga tanggung jawab terhadap lingkungan. Buyer dan perusahaan-perusahaan kopi yang mendapat sertifikasi fair trade lalu bisa mencantumkan logo Fairtrade (yang dianggap keren) pada kemasan kopinya.

Beberapa perusahaan/roastery kopi yang menjalani prinsip Fairtrade antara lain: Higher Grounds Coffee, Joy Beans Coffee, Kafiex Roasters.

Roastery yang mendapat sertifikasi fair trade bisa mencantumkan logo Fairtrade pada kemasan kopinya.

Direct Trade

Sistem direct trade muncul sebagai reaksi ketidakpuasan beberapa praktisi di industri kopi—umumnya dari kalangan roastery spesialti—terhadap beberapa faktor yang dianggap kelemahan di dalam sistem fair trade. Pada sebagian kondisi, sistem fair trade dianggap hanya menguntungkan perkebunan-perkebunan besar dan merugikan pertanian kecil. Termasuk kemungkinan sistemnya yang rentan disisipi korupsi dan praktik pencairan dana yang tidak etis.

Beberapa roastery kopi kemudian berinisiatif membuat sistem direct trade untuk memecahkan permasalahan-permasalahan esensial yang kerap terjadi di hulu perjalanan kopi. Para buyer yang umumnya merupakan roastery spesialti atau perusahaan-perusahaan kopi independen ini mendatangi langsung pertanian kopi dan berhubungan langsung dengan produsen tanpa perantara atau pihak ketiga. Inilah sebabnya mengapa banyak roastery spesialti memiliki posisi green buyer tersendiri, karena mereka adalah perwakilan dari perusahaannya untuk mencari dan menemukan kopi-kopi terbaik lalu bernegosiasi langsung dengan para petani.

Karena buyer yang mengusung sistem direct trade umumnya mencari kualitas, maka mereka kerap membayar harga yang lebih tinggi kepada para petani. Para produsen kopi dibayar dengan harga yang layak sesuai dengan kualitas kopi yang mereka berikan. Karenanya sistem ini pun dianggap lebih transparan dan saling menguntungkan: petani dibayar lebih banyak (karena kopi mereka yang berkualitas dibayar dengan harga premium), buyer diuntungkan (karena mendapatkan komoditi yang berkualitas), dan konsumen peminum kopi bahagia (karena telah mendapatkan kopi-kopi yang bagus).

Dalam perkembangannya, sistem ini dianggap mampu memperbaiki seluruh aspek dalam pertanian kopi. Para petani akan berlomba memperbaiki kualitas kopi mereka untuk mendapatkan harga yang bagus, dan pada akhirnya akan ikut meningkatkan kesejahteraan petani pula.

Berkebalikan dengan sistem fair trade yang resmi dan rapi, direct trade lebih bersifat metode atau ideologi. Tidak ada organisasi atau asosiasi induk apapun yang mengurusi sistem ini dan menetapkan peraturannya selain dari roastery atau perusahaan kopi masing-masing. Beberapa roastery yang menjalani prinsip direct trade antara lain: Intelligentsia Coffee, Stumptown Coffee Roasters, dan Counter Culture Coffee.

Roastery yang menjalankan sistem transaksi langsung ini juga bisa mencantumkan logo direct trade masing-masing pada kemasan kopinya.

Fair Trade vs Direct Trade

Kedua sistem fair trade dan direct trade bagaimanapun memiliki maksud dan tujuan besar untuk menyokong pendapatan berkelanjutan bagi produsen, terutama para petani kopi di negara-negara berkembang. Keduanya juga sama-sama mempromosikan perlindungan lingkungan, sustainability dalam segala aspek, dan juga hak-hak buruh/petani. Namun, kedua sistem ini pun tak lepas dari kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Perbedaan konsep dan sistem dalam fair trade dan direct trade bisa dilihat melalui tabel berikut.

Jika membeli kopi-kopi berlabel fair trade, kita bisa turut menjamin dipenuhinya sejumlah standar etika dan regulasi resmi yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku dalam rantai tersebut. Perusahaan yang tergabung dalam sistem fair trade pun biasanya memiliki cita-cita mulia terkait kesejahteraan para petani dan produsen kopi.

Sementara pada roastery pengusung konsep direct trade, tidak ada standar resmi dari asosiasi resmi yang mengatur sistemnya selain dari kebijakan masing-masing perusahaan. Namun, sebagian besar roastery yang menjalankan sistem ini memiliki transparansi untuk menunjukkan idealismenya, dan membawa tujuan mulia yang sama untuk akhirnya menjamin keberlanjutan para petani kopi.

Jadi, fair trade atau direct trade… itu hanya masalah legalitas saja.

 

Sebagian foto-foto diambil dari Flickr (credit: Jake Liefer, Wneuheisel, McKay Savage), Getty Images (Craig Mithcelldyer), dan situs pencari.

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

1 Comment
  1. Bukankah sejatinya tujuan direct trade adalah saling mensejahterakan satu sama lain di dalam coffee value chain?
    karena bagi saya ini tidak semestinya selalu didefinisikan “dengan tujuan akhir kesejahteraan petani” namun kenapa tidak diarahkan narasinya bahwa direct trade memungkinkan untuk adanya kesejahteraan dan keberlanjutan di masing-masing rantai nilai dari hulu sampai hilir.

    untuk penjelasan fair trade saya sepakat 🙂

    nice work!

Leave a Reply

Your email address will not be published.