FENOMENA THIRDWAVE COFFEE SHOP SEBAGAI WADAH INTERAKSI SOSIAL

Benarkah suasana di kedai kopi merupakan sebuah wadah untuk tiap interaksi sosial bertemu, kemudian membaur dalam satu ekosistem sosial, hal ini tidak terlepas dari daya tarik estetika alat kopi atau mesin kopi yang digunakan.

JIKA melihat ke belakang, kedai kopi tentu memiliki sejarah yang panjang tidak hanya sebagai ruang untuk konsumsi kopi, lebih dari itu bahkan kedai kopi pada masa itu sebagai wadah sosialitas publik di mana ruang sosial untuk berekspresi sangat tipis. Kemudian kedai kopi memberikan nuansa baru di mana orang-orang bebas bersosialisasi dan kopi menjadi saksi pada evolusi sosial manusia. Dan uniknya, hingga kini kedai kopi masih menyimpan banyak cerita tentang orang-orang yang datang dan bersosial satu sama lain. Ruang kedai kopi punya kisah dan cerita, bahkan tidak sedikit ide-ide kerja lahir di kedai kopi, percayakah orang yang datang ke kedai kopi tidak hanya berinteraksi dengan sesamanya. Mesin kopi pun ikut memberikan interaksi positif pada seseorang yang singgah di kedai kopi.

Mesin Espresso Dan Interaksi Sosial

Kedai kopi di era gelombang ketiga telah menjadikan kedai kopi tidak hanya sebagai tempat ngopi, tapi juga semacam ajang pameran seni, di mana sajian kopi menjadi nilai seni yang dipajang dan mesin kopi sebagai kuratornya. Sekarang ini tentulah kedai kopi akan mengedepankan kopi speciality dalam tiap sajian mereka, dan selebihnya merupakan perkembangan dari suasana yang dibangun oleh interior, dan alat kopi khususnya mesin espresso menjadi interior yang punya daya tarik lebih. Jika mesin espresso dibilang sebagai jembatan antara interaksi sosial yang ada di kedai kopi, mungkin terdengar agak berlebihan, tapi begitulah adanya.

credit: pixabay

Ruang-ruang sosial kini semacam pindah ke kedai kopi, bahkan ajakan untuk ngobrol di luar jam kantor tidak dibuka dengan “yok ngobrol” tapi lebih akrab lagi “yok ngopi“, ajakan ngopi sekarang dikenal sebagai ajakan ngobrol. Bukan hanya kalangan eksekutif, kalangan pelajar pun membuka ruang sosial mereka dengan ajakan ngopi, telah sahlah ngopi kini merupakan ruang sosial. Tidak heran, kedai kopi sangat ramai orang membaur di meja-meja kopi mereka, tidak hanya ngopi tapi juga ngobrol banyak hal. Walau pun ruang sosial kini ada di genggaman masing-masing di antara kita, namun interaksi yang sebenarnya ada di kedai-kedai kopi.

Pernahkah kalian memesan espresso langsung di meja bar, kemudian dengan sadar menunggunya sambil melihat-lihat mesin espresso, dan di sinilah mesin espresso mulai berinteraksi teman ngobrol untuk tatapan yang ingin tahu. Dan, pada akhirnya membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan tentang kopi itu sendiri. Bukan berarti, kedai kopi manual brew tidak mampu menciptakan suasana ruang interaksi, hanya saja tidak semua alat kopi manual brew mampu memanjakan mata pengunjung yang datang. Malahan ada sebagian pengunjung yang mencari suasana ruang sosial yang menurutnya “homey“, dan itu hanya ditemukan pada kedai kopi yang mengusung suasana ngopi yang otentik manual brewing.

Diakhir jurnalnya, John Manzo menjelaskan bahwa peralatan seduh kopi atau pun mesin kopi merupakan bagian penting dari ruang sosial pada suasana yang tercipta di kedai kopi. Maka tidak heran jika seseorang betah berlama-lama di kedai kopi, baik sendiri dengan segala aktifitasnya atau pun bersama teman kerabat untuk temu bual bersama.

disadur dari jurnal Karya John Manzo “Machines, People, and Social Interaction in “Third-Wave” Coffeehouses” img: workshopcoffee

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.