FIKRY AZDA DIN: JUARA INDONESIA AEROPRESS CHAMPIONSHIP 2018

Ia adalah Juara yang tadinya tak diunggulkan, namun berhasil memberi kejutan. Dan kejutannya tak berhenti hingga ke perhelatan puncak World Aeropress Championship di Sydney 2018 lalu.

NAMA Fikry Azda Din muncul seperti guncangan yang datang entah dari mana saat ia berhasil menembus babak final di kompetisi Indonesia Aeropress Championship tahun lalu. Setidaknya ia berhasil membuat hampir semua orang bertanya-tanya siapa dirinya dan mengapa ia bisa sampai di sana mengalahkan banyak sekali barista dan penyeduh bintang yang jauh lebih dijagokan. Namanya pun—sebelum ia menjadi juara IAC 2018—hanya dikenal terbatas oleh satu-dua orang di Sumatera Utara, daerah asalnya, selain Ricky Abraham bosnya di Mo Coffee tentu saja.

Fikry tampil cukup menonjol terutama setelah babak quarter final Indonesia Aeropress Championship. Teknik seduhnya yang menggunakan injeksi nitrogen—yang karenanya mengeluarkan bunyi cukup dramatis saat alat itu disuntikkan di atas panggung—membuatnya benar-benar terlihat mencolok. Konon teknik ini pulalah yang menjadikannya pusat perhatian di perhelatan puncak kompetisi Aeropress, World Aeropress Championship (WAC) di Sydney, pada November 2018 lalu.

Saat berbincang dengan saya belum lama setelah ia kembali dari Sydney, Fikry tampak lebih percaya diri dibandingkan saat kami bertemu pertama kali beberapa bulan sebelumnya. Bicaranya lebih lugas dan ia semakin lancar mengeluarkan apapun yang ada di kepalanya tanpa lagi malu-malu. Asumsi saya, pengalaman menduduki posisi 9 Besar Dunia pada WAC 2018 lalu pastilah telah memberikannya pengaruh yang demikian signifikan.

 

Mewakili penasaran yang mungkin datang dari hampir semua orang, selain adalah barista di Mo Coffee, sudah berapa lama kamu menggeluti kopi hingga bisa mendapat pencapaian seperti sejauh ini?

Kalau mengenal kopi, sudah dari 2015. Tapi itu baru sebatas mengenal. Tapi setelah gabung dengan Mo (Coffee) di tahun 2017, di sanalah baru belajar tentang (kopi) spesialti. Yang serius. Dan diajarin sama bang Ricky (pemiliknya—red). Waktu itu yang pertama kali diajarin justru cupping, bukan bikin kopi. Saya diajarin mengenal (karakter) kopi, mana yang fine, mana yang underextract, overextract, bagaimana karakter yang body, bitterness, lebih ke hal-hal yang seperti situ. Istilahnya sejak di Mo, saya jadi bereksperimen setiap hari.

 

Termasuk bereksperimen dengan Aeropress?

Nah, itu. Justru aku baru belajar tentang Aeropress setelah didaftarkan bang Ricky ke IAC 2018 yang itupun nggak tau didaftarkan. Tiba-tiba dia udah ngasih tau aja, “eh kau udah kudaftarin”, gitu.  Aku baru ngulik-ngulik (resep) Aeroress setelah akan mulai penyisihan regional IAC di Medan. Dan itu juga diancam sama dia “kau kalo kalah penyisihan regional, kau tanggung ongkos pulangmu sendiri!” (tertawa)

 

Dan akhirnya lolos ke Jakarta…

Sebelum ke Jakarta, aku bereksperimen, cari resep lagi. Karena kopinya sudah beda. Kalau pake resep yang lama, hasilnya jadi sour. Pas ulik-ulik lagi, dikasih tau sama bang Ricky kalau kopinya fresh roasted. Jadi, mau nggak mau, aku milih ikutan pakai nitro—seperti bang Ricky. Di penyisihan regional, hanya dia yang pakai. Tapi di Jakarta, aku ikutan. Trus dia bilang “aduh, ini bahaya kalau kita ketemu satu stage.” Soalnya alatnya cuma satu. Kan nggak mungkin kami ganti-gantian makai di atas. (tertawa) 

Kini, di Mo Coffee, ia makin sering mendapatkan permintaan kopi yang diseduh khusus dengan Aeropress.

Siapa lawan terberat waktu di Jakarta?

Semua berat. Aku nggak kenal soalnya.

 

Saat akhirnya masuk ke final Indonesia Aeropress Championship, bagaimana sensasinya?

Bingung. Aku YOLO (You Only Live Once—red) ajalah udah. Gimana, ya. Soalnya aku lebih nyantai di final daripada di semifinal. Karena kalau di final kan setidaknya sudah pasti bawa pulang piala. Dan pas di final, hasilnya seri sampe head judge-nya turun. Jadi lebih puas aja kalau ada head judge, berarti (hasilnya) lebih real.

 

Setelah menang di IAC, ada jeda beberapa bulan ‘kan sebelum ke WAC?

Iya. Dan aku nggak ada latihan di situ. Persiapannya cuma doa, dan maen Dota. Dan ngurus visa. (tertawa) Iya, kayaknya lebih sibuk ngurusin yang kayak gitu.

 

Sama sekali nggak ada persiapan dan latihan?

Karena kopi untuk kompetisinya memang nggak ada dikasih. Kopi (kompetisi WAC) baru dikasih setelah kita berada di practice room, di Sydney. Dan itu 3 jam sebelum lomba.

Jadi di hari H kompetisi, para juara Aeropress dari seluruh dunia—totalnya ada 61 Juara Nasional—kumpul di Commune (sebuah event space yang berada di Waterloo, pinggiran kota Sydney—red) jam 10 pagi. Ada sambutan pembukaan dulu, cheers vodka. Lalu makan siang. Setelahnya, semua peserta udah harus masuk ke dalam practice room, dan kami sama sekali tak boleh lagi keluar dari tempat event. Di practice room itulah beans kompetisinya kemudian dikasih. Kopi Kenya Mugaya AA yang di-roasting oleh Single O.

Oh, ya. Sebelum WAC, mungkin persiapanku adalah mencari koneksi yang bisa membantu menyediakan cream whipper dan nitrogen. Karena dua benda itu nggak bisa lewat kalau dibawa dengan pesawat. Nah di practice room itulah aku jadinya harus latihan, mengulik-ulik beans, dan memaksimalkan waktu 3 jam yang diberikan sebelum lomba sebenarnya dimulai. Karena setelahnya, lomba lanjut terus, tidak ada jeda lagi.

Para Juara Aeropress dari seluruh dunia berkumpul bersama dan berfoto dulu sebelum kompetisi sesungguhnya dimulai.

Di practice room ada ketemu peserta yang aneh-aneh?

Yah di practice room emang aneh-aneh pesertanya. Ada yang nggak latihan cuma nyortirin kopi sambil makanin Quakers, ada yang bawa refractometer trus disambungin ke laptopnya, ada orang Finlandia… biji kopinya cuma diliat-liat aja. Yang kayak-kayak gitu. Entah stress, atau mabuk, nggak tau. (tertawa)

 

Karena udah dicekokin vodka duluan tadinya?

Yah kan kompetisi Aeropress ini konsepnya just for fun.

 

Kalau kamu, apa yang kamu lakukan di sana?

Aku stress. (tertawa) Karena pas coba, air (yang disediain panitia) Brita filtered water nggak bisa mengekstraksi kopinya dengan maksimal. Trus aku telpon bang Ricky. Eh, rupanya di sini (di Indonesia—red) baru jam 10 pagi dan dia baru tidur 4 jam. Nggak konsen dia jawabnya. (tertawa)

 

Berarti, di WAC Sydney kemarin itu taktiknya kira-kira seperti… “ini nih para Juara Aeropress dan yang terbaik dari seluruh dunia. Jadi kalian dikumpulin, dicekokin vodka, trus dikandangin, dan nggak boleh kemana-mana lagi.” Jadi konsentrasinya sengaja “dibuyarin” duluan dengan vodka. Gimana caranya masih bisa tetap membuat kopi yang enak meski dengan kondisi seperti itu, nah itulah yang terbaik. Haha.

Iya, soalnya mau berpikir di practice room juga nggak bisa. Musik DJ-nya kenceng. Kuat sekali. Pening kepalaku.

Supporter Fikry di WAC ternyata juga banyak dari kalangan bule.

Apa yang terjadi saat kompetisi? Saya dengar ada kejadian menarik karena kamu bolak-balik ganti resep.

Iya, di putaran pertama aku pakai resep bang Ricky (Juara 3 Regional Barat IAC—red) yang pakai 20 gram kopi. Karena takut enggak ngekstrak kopinya (seperti kejadian di practice room). Pakai yang 20 gram saja tidak ekstrak, apalagi pakai 30 gram (resep asli Fikry—red).

Di putaran awal aku ketemu Meksiko dan Swiss. Meksiko bawa coach orang Australia, Swiss selo-selo aja orangnya. Dia malah datang sendirian ke event. Aku menang di putaran awal, lalu masuk quarter final. Interval menuju babak itu paling hanya sekitar 8 menit, karena menunggu peserta di stage lain selesai. Pokoknya lanjut terus. Nggak ada lagi “preparation room” segala macam karena semuanya dianggap sudah beres waktu di practice room selama 3 jam yang sebelumnya itu.

Menariknya aku baru tau kalau kopi itu enak saat diseduh di suhu rendah. Di sela-sela menunggu quarter final itu, aku naik lagi ke panggung dan masih ada kopi sisa buatanku sebelumnya. Sudah dingin. Pas aku minum lagi, hasilnya malah lebih manis. Biasanya kalau suhu rendah kan hasilnya asam, nah ini enggak. Dari sana aku modifikasi suhunya, yang awalnya pake 94°C jadi pakai 88°C (sejak babak quarter). Makanya kalau ditanya, resepku nggak konsisten sebenarnya.

Di quarter final, aku ketemu Bahrain dan Austria. Menang lagi. Lanjut masuk ke semifinal, babak 9 Besar. Di sana ketemu sama China dan Jepang. Di babak itu, aku kalahnya sama Xiaobo Zhang, peserta dari China (yang menjadi Juara 2 WAC 2018). Kayaknya dia udah nemu duluan kalau kopinya enak diekstraksi pake suhu rendah. Soalnya persiapan dia udah pakai air dingin, dan main di suhu 80°C.

 

Saya lihat pendukungmu bukan hanya penonton Indonesia, tapi juga bule-bule yang ternyata banyak ikut bersorak untukmu.

Mungkin karena mereka lihat aku pakai nitrogen. Jadi beda sendiri. Aku sekalian dijadikan bahan taruhan kayaknya. Karena di sana begitu, mereka taruhan siapa yang jadi juaranya. Ki***! Sekalian cari duit mereka. (tertawa)

Fikry di babak Semifinal WAC 2018, berhadapan dengan China dan Jepang. Dan langkahnya hanya bisa sampai di sini: Top 9 World

Jadi kalau disederhanakan, resep juaramu seperti apa?

Berat kopi: 30-35 gram biji kopi

Level gilingan: coarse (di angka 11-14 pada grinder Mahlkoenig EK43S)

Air yang digunakan: filtered water by Brita

Suhu: 88°C

Persiapan: cream whipper dan nitro charger

Cara seduh:

  1. Giling biji kopi, masukkan ke dalam tangki cream whipper. Tutup tangki. Lalu pasang nitro charger.
  2. Semprotkan nitro ke dalam chamber Aeropress. (Ini juga bagus untuk membantu mengeringkan dinding chamber Aeropress yang basah setelah dipanaskan).
  3. Masukkan bubuk kopi ke chamber Aeropress. Tuangkan air hingga 150 ml. Tidak ada blooming, karena sudah memakai sistem nitro flushed.
  4. Aduk sebentar, tunggu sekitar 50 detik.
  5. Pasang filter Aeropress, tutup chamber.
  6. Balikkan Aeropress, lalu tekan selama sekitar 30 detik. Berhenti saat plunger Aeropress sudah hampir mencapai dasar (jangan tekan hingga habis).
  7. Tambahkan air panas (dengan suhu sekira 83°C) hingga sekitar 80 ml. (Perbandingannya 1:8)
  8. Tuangkan ke dalam cup. Sajikan.

 

Dengan teknik yang tak biasa ini—memakai nitrogen, apakah ada juri yang nyamperin kamu?

Ada. Hugh Kelly, dari ONA Coffee. Dia nyamperin waktu aku di practice room, trus pas lihat (aku latihan) dia bilang “Oh, it’s old but gold.” Berarti konsep memakai nitro ini bukan teknik baru lagi kan sebenarnya.

Yang lucu juga, saat di after party setelah kompetisi WAC selesai, si Carol (Carolina Garay—red) Juara 1 yang dari Amerika itu malah kayak nggak dipeduliin. Yang kami lihat, orang-orang justru pada datangin dan ngerumunin aku sama si George (perwakilan ABCD Coffee yang menemani Fikri di WAC—red). Karena mereka penasaran dengan teknik yang aku pakai. Untung ada George yang bantu menjawab, soalnya Bahasa Inggris dia lebih jago. Dia ngomongnya udah kayak air, tanpa jeda. Jadi dialah yang kayak juru bicaraku di sana. (tertawa)

Para Juri WAC 2018: Julie Kerr, Hugh Kelly, Wendy de Jong – Foto oleh Abi Varney.
Penonton yang antusias mengetahui siapa Juaranya. – Foto oleh Abi Varney untuk WAC.
Selain piala Juara 1 IAC, Fikry juga membawa oleh-oleh dari Sydney, WAC Aeropress Cup, yang diberikan terbatas hanya untuk finalis di Top 9. Semuanya kini bertengger manis di Mo Coffee, Siantar.

Hmm, jadi menurutmu apa yang membuat alat Aeropress ini menarik?

Inkonsistensi. Ketidak-konsistenannya. Beda satu variabel aja, udah beda semuanya. Inilah yang membuat alat ini menarik. Bahkan menggunakan resep yang sama aja pun kadang hasilnya bisa berbeda. Dan inkonsistensi Aeropress ini adalah keistimewaannya yang sekaligus membuat penasaran, “kenapa aku nggak bisa konsisten?”

 

Terakhir, apa yang ingin kamu katakan tentang kopi, atau kompetisi di Indonesia?

Yah, katakanlah aku sudah pernah merasakan ikut kompetisi di Indonesia dengan di luar negeri ya, jadi mungkin setidaknya bisa melihat perbedaannya. Di luar (negeri), orang tuh bisa membuat kompetisi yang fun. Kalau di Indonesia, serius-serius aja. Malah kompetisi di Indonesia itu jadi kayak ajang para dewa-dewa bertarung, nggak ada fun-nya.

Dan di sana itu nggak ada hakim kopi. Kopi itu cuma dihakimi kalau yang sampai di tangan mereka… kopinya udah dingin. Nggak panas. Udah itu aja. Selebihnya, kalau kopinya dirasa nggak enak, ya, tinggal ditambahin gula. Selesai perkara.

 

Foto-foto lainnya adalah dokumentasi resmi World Aeropress Championship.

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

4 Comments
  1. Terima kasih Otten atas artikelnya yang menarik. Jawaban-jawaban Fikry yang terkesan ceplas-ceplos membuat artikel ini jadi semakin menarik dan enak dibaca. Jawaban dari dua pertanyaan terakhir sangat menarik 🙂
    Congrats Fikry!

  2. Saya sangat suka dan setuju dengan orang yang punya kesederhanaan dan akhirnya bisa membuktikan untuk bisa jadi juara
    Congrats fikri.. tetap rendah hati ya

Leave a Reply

Your email address will not be published.