GARA-GARA KOPI, ALTERNATIF LAIN NGOPI SERU DI BINJAI

Beberapa teman asal Medan kerap bergurau jika Binjai seumpama Bekasi: “kalau ke sana mesti naik roket.” Tapi justru di “planet asing” itu pulalah terdapat satu lagi kedai kopi seru yang sayang jika tidak disinggahi.

GELIAT industri kopi beserta segala trennya bukan hanya milik kota besar saja. Kota-kota kecil, termasuk juga kotamadya seperti Binjai yang berada sekitar 22 km dari kota Medan ini pun memiliki keistimewaan yang sama untuk merayakan tren kopi gelombang ketiga yang saat ini kian mekar dengan agresifnya. Arief Fauzi Pratama, sang pemilik kedai yang sebelumnya telah bermukim cukup lama di Denpasar, memutuskan untuk kembali ke Binjai setelah merasa cukup dengan segala pengembaraannya di Pulau Dewata itu. Dan setelah mendapatkan sekelumit pengetahuan tentang kopi beserta peluang industrinya tentu saja. “Mau membangun kampung halaman,” alasannya—yang segera saya sambut dengan tepuk tangan. (Saya selalu angkat topi kepada mereka yang rela meninggalkan kota besar dengan segala kenyamanannya demi misi senaif membangun kampung halaman).

Namun, saya cukup penasaran. Kenapa nama kedainya Gara-Gara Kopi? Sungguh sebuah nama yang tak lazim. “Karena banyak hal yang bisa terjadi gara-gara kopi. Gara-gara kopi, kita bisa kenal dengan banyak orang. Gara-gara kopi, saya bisa kenal dengan mereka ini (menunjuk beberapa barista di sebelahnya—red), dapat teman baru, dan banyak lagi. Semuanya gara-gara kopi,” jawabnya.

Pelataran luar Gara-Gara Kopi.

Kedai Gara-Gara Kopi tidak memiliki mesin espresso mahal dan fancy, melainkan hanya sebuah Rok Presso (yang menghasilkan setidaknya 20 cangkir minuman berbasis espresso setiap hari) dan beberapa perangkat alat seduh manual yang cukup lengkap, antara lain Hario pour over V60, Chemex, French press, Syphon dan Aeropress. Selain kopi yang diseduh dengan alat-alat ini, mereka juga menyediakan kopi cold brew dan teknik seduh tradisional, tubruk. Melengkapi barisan minuman-minuman berbasis espresso, ada menu-menu populer seperti cappuccino, latte, mochaccino, affogato, caramel macchiatto, long black, dan americano.

Kedai ini berada tepat di persimpangan Jalan R.A Kartini yang cukup sibuk, terutama pada akhir pekan seperti saat saya datang. Posisi yang strategis itu menjadikan Gara-Gara Kopi cukup mencolok, karena bangunannya akan segera terlihat dari berbagai sisi. Apalagi kedai ini juga kerap ditandangi anak-anak muda (gaul) sekota Binjai. Meja-meja semakin terisi penuh terutama saat malam beranjak semakin jauh.

Arief sang pemilik kedai dan koleksi single estate yang ada di kedai ini.
Bar dalam kedai.

Interior Gara-Gara Kopi banyak dipenuhi dekorasi dan pernak-pernik bergaya indie, dengan dominasi kayu yang hangat dan cat berwarna terang. Penarik utamanya adalah 4 siluet wajah di dinding depan yang bagi saya tampak seperti cetakan sampul album band indie rock and roll. Menurut Arief, empat figur di siluet itu adalah para pendiri kedai ini dulunya, termasuk dirinya. (Sekarang kedai ini hanya diurusi oleh ia sendiri).

Interior dalam.
Suasana dalam kedai.

Di jajaran koleksi single origin, kedai ini memiliki daftar kopi-kopi lokal Sumatera Utara yang beberapa namanya terdengar tak biasa. Arief mengaku bahwa ia memang ingin mengkhususkan kedainya menyajikan kopi-kopi single estate agar penikmat kopi yang datang ke sana bisa mengenal kopi-kopi lokal Sumatera Utara yang sebetulnya juga memiliki citarasa luar biasa dan tak melulu dibuai oleh nama-nama besar seperti Ethiopia atau kopi-kopi Afrika lainnya. Yah, mirip konsep yang diusung oleh Omerta Koffie.

Saat itu ia menyajikan kami kopi cold brew dari Pantan Musara, sebuah estate di daerah Gayo, yang terasa segar untuk udara kota Binjai yang cukup gerah malam itu. Pantan Musara ternyata cocok juga dijadikan cold brew, kopi dingin ini memiliki karakter winey yang ringan, dan notes orange peel yang cukup segar. Selanjutnya, Arief memberikan kami pula kopi seduh manual dari estate Pondok Baru, Kabupaten Bener Meriah, Aceh yang dibuat dengan pour over V60. Kopi ini memiliki after taste yang panjang, bold, dan nice acidity. Cocoklah bagi penggemar kopi yang mencari karakter-karakter tebal khas Aceh.

Menuangkan kopi seduh manual Pondok Baru yang nikmat.
Kopi dan camilan: pasangan yang pas.

Seperti kedai kopi ideal seharusnya, Gara-Gara Kopi juga tidak menyediakan makanan berat tapi hanya camilan-camilan ringan pendamping kopi, antara lain tahu balik yang merupakan camilan nikmat khas Binjai, tempe bacem, dan ubi goreng. Kedai ini juga tidak menyediakan wifi, sehingga semakin menguatkan gagasan bahwa “jika kalian datang ke kedai kopi, datanglah untuk benar-benar ngopi. Dan mengobrol dengan orang-orang dan teman-teman yang datang bersamamu. Bukan untuk menatapi permainan di ponsel, atau bolak-balik mengecek koneksi yang fana di dunia maya.”

 

Gara-Gara Kopi
Jl. R.A Kartini no 1Q
Binjai
Jam buka: 11.00 – 24.00 (Selasa tutup)

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

2 Comments
    1. dalam teknik fotograpfi itu namanya “slow speed” bro. biasa dipake kalo lagi malem untuk nambah kesan nuansanya, mengingat penulis melakukan liputan ini saat malam (dan mungkin pake tripod) jadi yg bro liat blur itu sebenernya adalah orang/objek yg bergerak, dan menunjukan dinamisme karena toh objek yg di sampingnya gak blur. wkwkwk…

Leave a Reply

Your email address will not be published.