ICE 2020: MENGUSUNG TEMA KOPILABORASI

Perhelatan tahunan Indonesia Coffee Event musim ini kembali pada tuannya dan berusaha menggandeng semua kalangan.

SETELAH beberapa tahun terakhir diselenggarakan dengan bantuan asosiasi Barista Guild Indonesia, di tahun 2020 salah satu event kopi nasional yang cukup penting, Indonesia Coffee Event, akhirnya ditangani sepenuhnya oleh SCAI. Momen dikembalikannya ICE kepada SCAI terjadi pada November 2019 lalu (yang informasi mengenai itu sempat menimbulkan sedikit pembicaraan di kalangan orang-orang kopi).

Menurut John Chendra, ketua panitia ICE 2020, penyelenggaraan event tahun ini terutama Indonesia Barista Championship (IBC) dan Indonesia Brewers Championship (IBrC) dikerjakan dalam tempo yang sedikit mendesak mengingat kedua kompetisi ini harus segera mengirimkan utusannya ke Melbourne pada hajatan global World Coffee Event pada 19-24 Mei mendatang. (Pada awalnya SCAI berencana hanya melaksanakan kompetisi IBC dan IBrC saja untuk ICE tahun ini karena keterbatasan waktu namun di tengah jalan mereka dibantu oleh event organizer dan Beangasm sehingga memungkinkan atraksi lain seperti booths partisipan dan dan talkshow).

Durasi yang “sedikit tergesa-gesa” ini kemudian menjadi alasan dihilangkannya babak eliminasi regional kompetisi IBC dan IBrC. Dengan kata lain, semua putaran hanya dilangsungkan sekali di Jakarta—persis kompetisi Aeropress tahun lalu. Pada akhirnya, keputusan ini berdampak pada berkurangnya jumlah partisipan yang ikut serta—meskipun kedua kompetisi ini masih tetap tak kehilangan tajinya dan tetap dipadati oleh orang-orang kopi, baik penggemar maupun suporter para kompetitor, yang penasaran.

Ibu Victoria Simanungkalit memberikan sambutan dan menyeduh kopi sebagai seremoni pembukaan Indonesia Coffee Event 2020.

Sebagaimana event resmi berskala nasional (seharusnya), ICE 2020 dibuka dengan upacara pembukaan yang cukup khidmat, antara lain dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan kata sambutan dari beberapa tokoh-tokoh penting. Salah satunya adalah Ibu Victoria Simanungkalit, yang merupakan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran perwakilan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Indonesia. (Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, yang menjadi tamu undangan saat itu berhalangan hadir karena mendadak dipanggil ke Istana oleh Presiden Jokowi). “Semoga acara ini dapat mendukung koperasi, usaha kecil, dan usaha kopi lainnya bahkan sampai ke tingkat dunia,” ujar Ibu Victoria pada sambutannya.

ICE 2020 diikuti oleh total 83 partisipan, 44 brewers dan 39 barista, yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, yaitu dari wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sehingga dapat dikatakan bahwa ICE 2020 sudah terbilang bagus meskipun “ditinggalkan oleh partnernya bertahun-tahun”. Selain kompetisi, dalam 3 hari perhelatan ini juga diisi dengan kegiatan talkshow dan kehadiran sekitar 18 booths yang terdiri dari roastery, kedai kopi, maupun usaha non kopi lainnya. Beberapa booth yang menarik perhatian pengunjung antara lain Lakkon (yang seolah tak pernah absen di setiap event kopi), Iit Coffee, Victoria Arduino, dan tentu saja Otten Coffee yang berada tepat di depan panggung kompetisi. (Kepada seorang teman, saya sempat bercanda bahwa letak booth Otten ini benar-benar strategis. “Kalau ada server atau dripper kompetitor yang pecah, mereka tinggal ambil saja ke booth Otten,” yang dibalas teman saya dengan tertawa).

Dari segi kompetisi, para partisipan yang ikut di tahun ini, baik IBC dan IBrC, tampak lebih mantap dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut saya, hampir semuanya bahkan datang dengan persiapan yang sangat matang—bukan hanya sekadar matang saja. Para kompetitor hadir dengan meyajikan presentasi bagus dan penuh dengan gagasan-gagasan cemerlang, meskipun beberapa diantaranya ada yang terbentur masalah teknis saat menyajikan kopi sehingga harus overtime selama beberapa puluh detik. Tapi, begitulah. Persaingan memang betul-betul sangat ketat tahun ini.

Beberapa kompetitor yang menurut saya sangat menarik perhatian sejak awal, antara lain Santoso Ardiansyah (Juara Indonesia Brewers Championship 2020) yang terlihat cukup santai dan tidak melupakan detail-detail kecil saat presentasi. (Sebagian besar barangkali sudah familiar dengan closing statement-nya yang cukup “nyeleneh”: tidak semua yang spesial memakai telur). Lalu, Mikael Jasin yang tampil semakin gemilang sejak babak awal. Tahun ini, ia kembali membawa kopi Indonesia dari Flores di babak final.

Pada akhirnya, mengutip pernyataan John Chendra, perhelatan dan kompetisi kopi nasional ini diharapkan dapat ikut menaikkan standar dan kualitas para barista Indonesia secara umum. “Karena para barista, mereka yang dari kalangan profesi kopi, atau (pemilik) coffee shop-coffee shop sudah melihat lomba-lomba barista seperti ini dan mereka (seharusnya) jadi sudah punya acuan. Setidaknya, untuk serving kopi atau menyajikan kopi, minimal udah mulai ngikutin (standar) yang dilakukan saat lomba. Karena secara global pun begitu. Saat WBC mulai bikin aturan, aturan itu yang menjadi acuan. Misalnya, belakangan orang mulai menghindari pemakaian single group head. Salah satunya karena hampir 20 tahun lalu, WBC memulai aturan untuk tidak menggunakan itu. Selalu pakai yang group head-nya dua,” ujarnya.

Lalu untuk menjawab penasaran hampir semua orang yang barangkali bertanya mengapa para kompetitor seolah-olah sungkan untuk membawa kopi Indonesia begitu mereka memasuki babak final, John Chendra pun menjelaskan alasannya dengan transparan. “Di babak nasional kita sebetulnya terbuka bagi para kompetitor yang akan membawa kopi-kopi Indonesia. Namun, pada akhirnya, barista yang menjadi sang Juara kita ini ketika akan bertanding ke luar akan menghadapi (barista yang membawa) kopi-kopi luar. Kalau dia punya kopi Indonesia yang sangat bagus, yang cocok bersaing dengan kopi-kopi itu, why not? Tapi kalau tidak, dia harus siap menghadapi itu, dan dia juga harus punya peluru yang sama, dong. Mungkin di luar negeri, mereka punya inovasi dan teknologi baru untuk processing, yang teknologi itu belum kita adopsi di sini. Akhirnya kan kita berbeda nih dengan mereka, dan jadi nggak selevel permainannya. Tapi kita terbuka untuk kopi Indonesia, dan sangat memungkinkan kalau baristanya mau memakai kopi Indonesia. Silakan saja,” tutupnya.

Jajaran tiga besar Juara Indonesia Barista Championship (IBC) 2020 adalah sebagai berikut:

1. Mikael Jasin dari PT. Republik Kopi Nasional

2. Arief Rachman dari Visma Coffee

3. Josaphat Jakabramasta dari PT. Republik Kopi Nasional / CG Roastery

 

Top 3 kompetisi Indonesia Brewers Cup 2020 adalah sebagai berikut:

1. Santoso Ardiansyah dari Two Coffee Beans
2. Harison Chandra dari Ottoman’s Coffee
3. Monika Zendrato dari Reirom Indonesia

 

Selamat untuk semua kompetitor, selamat mewakili Indonesia untuk para Juara, dan sampai bertemu di event-event kopi berikutnya.

 

__

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.