JACOWEEK 2019: KOLABORASI ANTARA LOMBA DAN PAMERAN YANG LEBIH GRANDE

Event tahunan ini terlihat semakin matang dan penuh variasi.

JACOWEEK termasuk salah satu event kopi yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Selain karena menghadirkan dan mempersatukan berbagai roastery, kedai kopi, dan pelaku industri dari seluruh Indonesia, event yang tahun ini masih menggandeng Bank Mandiri sebagai penggalang dana utamanya juga merupakan ajang berkumpulnya orang-orang kopi dari berbagai penjuru Nusantara. Mengutip pernyataan yang kerap dikatakan beberapa teman barista pada saya, “kalau nggak lagi event, nggak akan ngumpul.” Maka event ini pun termasuk perwujudan dari cita-cita mulia untuk saling bersilaturahmi tersebut.

Selain menampilkan banyak sekali booths kedai-kedai kopi dan roastery yang selama ini keharuman namanya hanya bisa dinikmati melalui laman sosial media atau portal online, Jacoweek 2019 yang tahun ini digelar di Swissôtel ballroom, PIK Avenue, juga adalah expo istimewa dimana banyak Juara-juara—dan, err, mereka yang konon dianggap selebritas di dunia kopi—berseliweran.

Padat merayap bahkan hingga ke booths di luar hall.
Banyaknya pilihan biji-biji kopi yang menggoda dari roastery luar negeri siap-siap membuat kantong bolong. Lol.
Konon selama 3 hari pergelaran Jacoweek 2019 telah dihadiri oleh lebih dari 15.000 pengunjung.

Mikael Jasin, Juara IBC 2019, melakukan demo berbeda di booth Victoria Arduino dan Hario. Joo Yeon, Juara WBC 2019 asal Korea yang kehadirannya menarik banyak penggemar kopi di event Jacoweek (ia kerap berhenti setiap sepuluh langkah demi meladeni permintaan foto bareng) mengisi sesi khusus mengenai kejuaraan World Barista Championship. Tiket masuk untuk mengikuti seminar khusus dari Joo Yeon ini dibandrol cukup mahal, tapi tampaknya sebanding dengan isi materi yang dibagikannya.

Robby Firlian, Juara ILAC 208, menyeduh dengan syahdu di booth Otten Coffee. Sementara Fikry Azda Din (Juara IAC 2018 yang lebih dikenal dengan nama Wakblek), Muhammad Fakhri, a.k.a Fakhri Murad (Juara IBrC 2019), Muhammad Aga, Evani Jesslyn, dan para selebritis kopi lainnya tampak lalu lalang menikmati pertunjukan, atau sekadar menunjukkan kehadiran.

Miki mendemonstrasikan bagaimana espresso yang diekstraksi dengan suhu berbeda bisa menghasilkan rasa yang berbeda pula.
Robby Firlian meladeni pengunjung yang ingin dibuatkan kopi khusus olehnya, ataupun yang minta foto bareng.
Booth Otten Coffee yang, menurut MC-nya, tak pernah sepi.

Seperti namanya, Pesta Kopi (Mandiri), event ini pun menjelma perayaan penuh gempita yang menyenangkan, terutama untuk para pengunjung. Menurut saya, Jacoweek tahun ini lebih memberi sorotan kepada booths dan stan yang ikut serta daripada kompetisi besutannya yang umumnya menjadi penyemarak setiap tahun—meskipun kompetisi tahun ini masih sama memikatnya. Hanya saja, berbagai booths yang berpartisipasi di Jacoweek 2019 memberikan lebih banyak variasi menarik, pengalaman baru yang jauh lebih atraktif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan tentu saja taburan pesta diskon, potongan harga, dan ledakan bonus dimana-mana.

Expat Roasters memberikan sensasi pengalaman berbeda dengan mengajak pengunjung memadukan sendiri biji kopi favorit mereka. Hasil blend khusus dari pengunjung itu kemudian akan dikemas dalam packaging kaleng yang berdesain keren dan, hmm, terlihat sedikit hypebeast.

Pigeonhole Coffee memberikan bonus khusus yaitu sebuah tote bag spesial mereka yang desainnya dikonstruksi dengan pola-pola urban untuk setiap akumulasi pembelian tertentu. Smoking Barrels Coffee menawarkan “paket hemat” Bundle of 4 Beans seharga 250 ribu Rupiah saja yang mana paket ini segera diserbu banyak penggemar kopi. Dan banyak hal-hal menggiurkan lainnya dari berbagai booths lainnya.

Otten Coffee tanpa terkecuali adalah salah satu booth yang tampaknya tak asing lagi memberikan banyak sekali diskon pada setiap event yang mereka ikuti. Misalnya, ada boneka Chemex desain khusus Otten Coffee yang dibagikan selama 3 hari berturut-turut selagi event berlangsung. Lalu potongan harga 10% untuk produk apapun yang kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan banyak penggemar kopi—termasuk oleh mereka yang berada di luar kota dengan meminta jastip kepada temannya yang sedang berada di event ini. Karena, kapan lagi menikmati potongan harga 10% untuk scale Acaia yang premium itu, misalnya?

Pasar Kopi, tempat khusus dimana para petani dari seluruh Indonesia berkempatan menjual biji-biji kopinya secara langsung pada konsumen.
Petani dari Nusa Tenggara Timur.
Membeli biji kopi dari Papua.

Pasar Kopi, spot khusus dari Jacoweek yang menghadirkan green beans dari berbagai daerah di Indonesia dan dibawakan langsung oleh petaninya masih menjadi salah satu highlight penting event ini. Yang menarik saya antara lain adalah biji kopi dari Puncak Jaya, Papua. Bukan hanya karena originnya yang tak lazim—selama ini kopi-kopi dari Papua yang lebih dikenal publik dan banyak dijual ke pasaran adalah yang berasal dari Wamena—tapi juga ketinggian tanamnya yang membuat saya cukup terpukau, minimal 1800 mdpl. Wow, tinggi juga. Sepanjang pengamatan saya, kopi-kopi dengan ketinggian demikian umumnya berasal dari Afrika dan beberapa wilayah Amerika Latin. Bukan berarti dari Indonesia tidak ada, hanya saja jarang sekali. Maka pastilah biji kopi dari Puncak Jaya ini memiliki rasa yang menarik.

Hanya ada dua jenis beans saja yang dibawa para petani Papua di booth ini, yaitu green beans proses natural dan ceri kopi (ya, ceri kopi!) yang sudah mengering. Green beans yang dibawa pun tak banyak, barangkali tak lebih dari 50 kg, dibandingkan dengan biji kopi yang dibawa petani-petani dari daerah lain. Menurut Pak Yatimus petaninya, terbatasnya akses transportasi dan sarana di Papua termasuk kendala yang membuat mereka kesulitan mengangkut kopi-kopi dalam jumlah besar. “Membawa (kopi) 1 kilo saja dari kampung, kami perlu sewa motor,” terang Pak Yatimus dengan penuh kepolosan. Hmm, tentu saja ini adalah pekerjaan rumah Pemerintah yang harus segera diselesaikan untuk menciptakan “keadilan sosial bagi seluruh petani Indonesia”.

Audy Riri, a.k.a. DJ Riri, mencoba peruntungan di Fire and Gas Roasting Competition.
Petugas PMI selalu berjaga-jaga seandainya ada yang membutuhkan di venue Fire and Gas Competition.
Bapak M. Yusuf dari Sumatera Selatan dengan biji kopi full wash berhasilkan mendapatkan Jacoweek’s Cup of Awesomeness 2019.
Billy Bramandhika dari Lantai Ngopi adalah Juara IAC 2019. Selamat, dan selamat berjuang di London!

Melengkapi pergelaran pameran dan booths adalah dua kompetisi kopi, Indonesia Aeropress Championship dan Fire and Gas Roasting Competition yang tak kalah menarik. Kedua kompetisi ini sebagian besar diisi oleh nama-nama baru yang lebih segar. Juara Indonesia Aeropress Championship 2019 diraih oleh Billy Bramandhika dari Lantai Ngopi yang berhasil mendapatkan tiket ke WAC di London. Sementara pemenang Fire and Gas adalah Andri Hardian dari Herd Coffee Roaster yang mendapatkan satu unit mesin Nordic Roaster.

Selamat kepada seluruh pemenang, dan sampai bertemu di event kopi berikutnya!

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.