JAKARTA COFFEE WEEK 2017 (HARI KEDUA DAN TERAKHIR)

Kemeriahan dari puncak perayaan pesta kopi terbesar di Indonesia terus berlanjut. Bahkan kian semarak di hari-hari berikutnya.

EKSIBISI Jakarta Coffee Week sesungguhnya bukan hanya menampilkan booths dan pertunjukan dari kedai kopi—yang menurut beberapa orang yang barangkali cemburu, tidak lebih dari sekadar lifestyle dan komersialisasi (padahal jika itu hanya sekadar komersialisasi, mereka tak akan mengundang para petani kopi dan Koperasi kecil)—tapi juga sebuah tempat pertemuan seluruh pelaku industri kopi, dari hulu ke hilir, dari petani ke pengusaha kopi.

Yang menarik, eksibisi ini juga tidak hanya membawa para pelaku kopi yang berasal dari ibukota saja namun juga dari berbagai daerah, wilayah dan pulau, bahkan dari ujung Indonesia seperti Papua. Perwakilan dari banyak daerah ini kemudian dipersatukan dalam sebuah event yang dibungkus dengan megah dan meriah, maka tak salah ‘kan kalau ia kemudian disebut terbesar? (Yang ingin protes, coba beritahu, event kopi berskala nasional mana lagi yang mampu menghadirkan banyak sekali perwakilan kopi dari segala lini dan dari berbagai daerah di Indonesia seperti ini?)

Pertunjukan live Teh Tarik yang menarik.
Tamper Coffee yang membawa LM GS3 pada booth-nya.
Booth Otten Coffee.

Di hari kedua dan terakhir Jacoweek, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan semakin seru. Dua booth kedai kopi yang cukup terkenal antara lain Noah’s Barn dan Two Hands Full mengadakan uji citarasa kopi yang terbuka untuk publik. Pada kegiatan ini, pengunjung yang datang—tak peduli apakah mereka sudah sangat paham kopi atau baru belajar tentang kopi—bisa mencobai, merasai dan (pada akhirnya) diharapkan mengenali keistimewaan kopi-kopi yang sedang diuji tersebut. Two Hands Full dari Bandung mengajak pengunjung menguji cita rasa kopi Geisha, sementara Noah’s Barn membawakan kopi dari Kolombia. Keduanya, meski tak menyelenggarakan dua kegiatan yang sama itu di saat bersamaan, toh bisa sama-sama menyedot animo pengunjung yang penasaran dengan sama banyaknya.

Sesi cupping di booth Noah’s Barn.
Booth Two Hands Full.
Ken Basuki, selebriti di booth ini, bergaya untuk Otten Coffee. :p

Hari kedua dan terakhir event ini juga membuat saya bisa lebih leluasa menikmati macam-macam booth dengan lebih fokus. Booth VNT Indonesia menurut saya termasuk salah satu yang perlu diantisipasi. Booth ini menghadirkan mesin roasting VNT, singkatan dari Vina Nha Trang, produksi Viet Nam yang memiliki teknologi aspiration filter, auto scale, centrifugal screener, dan sistem penyangraian khas “mesin-mesin roasting mahal”, namun dibandrol dengan harga yang nyaman di kantong. Konon, insinyur dan pencipta mesin VNT ini pernah bekerja di Probat Coffee Roaster selama beberapa tahun. Tak heran jika melihat desainnya sedikit mirip dengan mesin asal Jerman tersebut.

Objek pameran lain yang tak kalah menarik perhatian adalah Aillio Bullet R1, mesin home roaster futuristik yang sempat menjadi salah satu highlight pada event SCAA 2016 silam. Tampilan mesinnya keren, dengan berbagai fitur-fitur yang serba digital. Aillio Bullet R1 ini pun disebut-sebut sebagai mesin roasting berkapasitas 1 kg terkecil di dunia yang sangat hemat energi.

Mesin roasting VNT yang perlu “diwaspadai”.
Bullet R1, yang berdesain keren dan elegan.
Ada Harison, menyeduh khusus di booth Beangasm

Selain pameran teknologi dan booths kedai kopi, pada Jacoweek juga diadakan pemilihan dan penganugerahan kopi terbaik (yang ada dalam Pasar Kopi) menurut dua kategori, antara lain Jacoweek Cup of Awesomeness, yang penilaiannya diambil berdasarkan skor dari para Q grader, roaster, dan brewer professional, lalu Jacoweek People’s Choice Cup yang pemenangnya diambil berdasarkan pilihan para pengunjung.

Kedua kategori ini, menariknya, dimenangkan oleh kopi Kerinci, tepatnya dari Perkebunan Kayu Aro, Kerinci, provinsi Jambi yang diurus oleh Mas Triyono. (Saya sempat bertemu dengan Mas Tri ini ketika melakukan single origin trip ke Solok beberapa bulan lalu. Saat itu Mas Tri melakukan kunjungan rutinnya ke Solok karena kopi Kerinci Kayu Aro masih berada di bawah “pengasuhan” Koperasi Solok Radjo di Sumatera Barat). Tanpa bermaksud berlebihan, namun melihat sendiri bagaimana kopi-kopi asuhan Solok Radjo ini dikelola dan diolah membuat saya akhirnya memaklumi mengapa kopi Kerinci mendapat skor tertinggi. Tak heran mereka menang.

Pasar Kopi yang semakin ramai di hari kedua dan terakhir.
Head Roaster Otten Coffee (berbaju merah muda) yang sekaligus merangkap barista dan brewer sampai “turun tangan” di belakang Brew Bar.

Salah satu acara pamungkas yang menjadi daya tarik tentu saja putaran final Indonesia Aeropress Championship 2017 yang begitu ditunggu-tunggu. Kompetisi ini diwarnai dengan banyak sekali trivia dan kejadian menarik yang membuatnya semakin istimewa. Misalnya, dua dari Top 9 IAC 2017 diisi oleh partisipan asal Medan, para Juri yang dibuat bingung selama hampir 15 menit hanya untuk menentukan Juara IAC tahun ini—karena masing-masing peserta 3 besar sama-sama memiliki kualitas seduhan yang menarik satu sama lain—dan juga daftar pemenangnya yang seolah-olah “mewakili” setiap regional: Medan, Malang, dan Yogyakarta.

Penyisihan menuju Top 9. (Bukan, bukan. Mereka bukan saudara yang tertukar. Haha).
Penonton kompetisi IAC 2017 di hari terakhir. Semakin membludak!
Tiga besar IAC2017 yang menanti pengumuman Pemenang dengan (barangkali) sambil berdebar.
Jaya Pranata dari 38 Coffee Lab, Medan, menjadi Juara Kedua IAC2017. Selamat!
Dan… Damaring Kalpika dari Yogyakarta adalah Juara IAC 2017. Selamat untuk kemenangannya! Dan selamat berlatih ke WAC di Korsel, November mendatang.

Pada akhirnya setelah melewati proses penjurian –sangat– alot (yang bukan hanya membuat berdebar para pesertanya tapi juga penontonnya), terpilihlah Damaring Kalpika Wawi dari Yogyakarta sebagai Juara Indonesia Aeropress Championship 2017, Jaya Pranata dari Medan sebagai Juara Kedua, dan Sigit Tri dari Malang sebagai Juara Ketiga.

 

Selamat untuk para pemenang, dan sampai bertemu di event kopi berikutnya! 🙂

 

5,853 total views, 4 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.