JATUH HATI DI LUKA CAFE BANGKOK

Saya mudah jatuh hati pada sebuah tempat cantik yang dipenuhi manusia ramah dan menyenangkan ditambah kopi nikmat tak terkatakan. Di Luka Cafe Bangkok hati saya jatuh tak mampu lagi diselamatkan.

Pintu utama tempat segala nikmat bermula.
Pintu utama tempat segala nikmat bermula.

KEKECEWAAN karena sebuah kedai kopi yang ingin saya datangi tutup, seketika terobati oleh atmosfer menyenangkan dari Luka Cafe Bangkok. Nama tempat ini memang Luka, tapi tak sekalipun ada kesan ‘melukai’ saat saya mampir ke sini. Yang ada malah jatuh hati yang hadir berkali-kali. Sebenarnya Luka Cafe bukanlah tujuan utama saya dan sahabat saya siang itu. Kami ingin ngopi di sebuah coffee shop ternama yang namanya sudah lama nongkrong di list saya. Rupanya coffee shop tersebut tutup di akhir pekan. Jadilah saya ‘berjudi’ dengan memilih sebuah tempat secara acak. Nama Luka Cafe muncul tiba-tiba dan saya tidak berekspektasi apa-apa. Namun ternyata tempat ini sungguh memberi bahagia yang tak disangka.

Kesibukan di Luka Cafe.
Kesibukan di Luka Cafe.
Full house as always.
Full house as always.

Luka Cafe Bangkok berlokasi di daerah Silom, Bang Rak, Bangkok. Wilayah ini terkenal oleh jajaran restoran dan kafe kekinian tempat nongkrongnya hipster Bangkok. Dari luar Luka Cafe terlihat begitu megah. Sebuah jendela kaca dan pintu kayu berukuran gigantis menyambut dengan gagah. Di luar ada sebuah bangku kayu yang diduduki sepasang love birds dengan asiknya. Saat memasuki bagian indoor saya begitu terkesima dengan penuh sesaknya tempat ini. Seluruh meja dan kursi terisi penuh. Seorang barista yang kemudian saya tahu bahwa dia adalah salah satu owner-nya menyambut dengan ramah dari balik meja kasir. “Luka sedang full. Tapi sudah ada yang hampir selesai. Kalian bersedia sedikit menunggu? katanya dengan ramah. Tentu kami mau menunggu karena sudah terlanjur suka dengan suasananya.

Tangga menuju lantai dua.
Tangga menuju lantai dua.
Luka Coffee nikmatnya tak melukai.
Luka Coffee nikmatnya tak melukai.

Tak berapa lama disiapkan meja dan sepasang kursi. Kami duduk tepat di sebelah jendela yang memungkinkan cahaya matahari masuk dengan sempurna. Luka Cafe tampak seperti galeri. Di sana-sini banyak terpajang instalasi seni dan juga kursi-kursi yang sangkin cantiknya tak rela saya duduki. Tempat ini terdiri dari dua lantai. Bagian atas dan bawah sama-sama didesain dengan interior kayu dengan pernak-pernik yang sungguh fotogenik. Setelah cukup lama terkagum-kagum dengan interiornya, kami pun memutuskan memesan secangkir hot cafe latte, iced latte, single origin Costa Rica yang diseduh dengan Hario V60 dan menu brunch lezat menggoda granola + yogurt + fruit. 

Suasana lantai dua yang tak kalah nyaman.
Suasana lantai dua yang tak kalah nyaman.
Nyamannya nongkrong di bagian outdoor.
Nyamannya nongkrong di bagian outdoor.

Sambil menunggu pesanan tiba saya pun mengitari tempat ini dengan asiknya. Coffee bar berada di bagian belakang ruangan. Sebuah espresso machine Rancillio bertengger manis di sana. Ada pula aneka ragam cake dan pastry. Tapi yang menarik perhatian saya adalah cold tea brew yang dikemas dalam botol yang mirip botol wiski. Kalau di dunia coffee specialty adalah cold brew, maka Luka Cafe menyediakan cold tea brew. Ada banyak sekali jenis tehnya mulai dari black tea, chinese tea sampai teh bebungaan yang sekarang memang sedang naik daun. Belakangan saya tahu Luka Cafe memang memiliki brand teh sendiri bernama Malou. Pantaslah.

The coffee machine!
The coffee machine!
Costa Rica coffee.
Costa Rica coffee.

Kopi dan makanan pun akhirnya tiba. Manual brew yang sudah saya tunggu-tunggu akhirnya mampir juga. Rasa kopinya bold, mouthfeel dan intens. Sedangkan hot cafe latte dan iced latte-nya menurut saya cukup nikmat. Komposisi susu dan kopi ‘menikah’ dengan sangat pas. Inilah yang ditunggu-tunggu granola + yogurt + fruit. Sebagai orang yang tidak begitu menggandrungi makanan jenis begini, semangkuk penuh granola ditambah yogurt, kiwi dan berries ini secara ajaib membuat lidah berdansa. Entah kenapa siang itu surga mendadak pindah ke dalam mangkuk. Sedap benar!

Cafe latte my love.
Cafe latte my love.
Surga dalam mangkuk!
Surga dalam mangkuk!

Sambil menikmati kopi yang sedikit demi sedikit habis ditegukan, sang pemilik (yang saya lupa namanya) menghampiri kami. Dari obrolan singkat akhirnya saya paham kenapa kopi di Luka Cafe Bangkok memiliki karakter yang strong, bold dan intens. Tidak mengikuti pergerakan Gelombang Ketiga yang lebih mengarah ke clean, fruity dan light. “Luka Cafe Bangkok dibuat dengan sisi maskulinitas. Baik itu dari interior yang sedikit gelap dan hangat. Hingga ke cita rasa kopi yang terkesan lebih ‘kuat’. Di Bangkok sudah sangat banyak kafe dan coffee shop yang bertema “cute“. Kami rasa Luka Cafe tidak cocok dengan tema itu,” katanya menjelaskan. Dari situlah saya tahu kenapa kafe ini begitu terasa sentuhan maskulinitasnya. Meski begitu saya tak bisa menolak kenyamanan yang dihadirkan membuat betah dan hati saya tak mau pindah.

Iced latte, everyone!
Iced latte, everyone!
Teh dengan kemasan kece.
Teh dengan kemasan kece.

Untuk kalian yang mengunjungi Bangkok, Luka Cafe adalah sebuah persinggahan yang tak mungkin dilewatkan. Kedai kopi keren ini memiliki banyak sekali pilihan menu kopi, main course, brunch menu, snacks hingga teh ajaib yang layak untuk dicoba. Mampirlah jika semesta merestui. Dijamin akan jatuh hati juga seperti saya kali ini.

Luka Cafe Bangkok

64/3, Soi Wat Kack, Pan Rd., Si Lom, Bang Rak, Bangkok 10500 Thailand

Buka Setiap Hari: 08:30-19:00

 

PAKET CAFE

45 total views, 3 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.