JAYA PRANATA: JUARA YANG MENCURI PERHATIAN

Juara Kedua pada kompetisi Indonesia Aeropress Championship 2017 ini muncul sebagai kejutan—namanya barangkali pun tidak masuk sebagai taruhan sejak awal perlombaan.

JORDAN Michelman, salah satu editor dari Sprudge pernah blak-blakan mengungkapkan bahwa ia tidak bertaruh untuk Sasa Sestic sejak permulaan musim World Barista Championship pada 2015 lalu. Lebih spesifik lagi, ia memilih “berjudi” untuk Ben Put dari Kanada yang ketika itu mungkin lebih dijagokan. Namun Sasa yang namanya belum populer di kalangan barista Internasional itu justru menjadi Juara—dan kini dunia mengakuinya. Mungkin saya pun harus membuat semacam pengakuan serupa, bahwa mulanya saya pun tidak pernah berpikir bukan hanya Jaya tapi juga perwakilan dari kota Medan akan ikut meninggalkan jejak di panggung 3 besar kompetisi Aeropress Nasional. Dan bahkan menjadi Juara keduanya.

Sebelum menjadi barista yang kini semakin terkenal, Jaya pernah menghabiskan 11 tahun masa kecilnya di kota Bireuen, Aceh Utara. Kota ini sejak lama sudah tenar sebagai salah satu daerah dengan peminum kopi terbanyak di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Menurut seseorang asal Bireuen yang pernah saya temui, kita bahkan akan menemukan satu kedai kopi dalam tiap 10 meter di sana. Entah itu betulan atau hanya guyonannya saja. Kopi-kopi Gayo yang populer hasil panen dari Takengon pun kerap dikumpulkan di kota ini sehingga membuat Jaya kian akrab dengan kopi.

Bertahun-tahun kemudian Jaya memutuskan kuliah di jurusan Computer Science di Sunway University College, Malaysia dan saat ini ia telah mendapatkan gelar Bachelor of Science. Ini seolah menambahi lagi daftar barista juara yang berlatar belakang sains. (Tetsu Kasuya, juara World Brewers Cup tahun lalu merupakan seorang mantan praktisi Information Technology, sementara Harison, juara Indonesia Brewers Cup tahun ini, juga seorang lulusan teknik kimia dan metalurgi).

Meski kini menjadi salah satu juara kompetisi, faktanya Jaya baru 10 bulan bergabung dengan industri kopi Gelombang Ketiga, saat artikel ini ditulis. Dan entah kebetulan atau tidak, ia pun langsung berkenalan dengan Aeropress sejak pertama kali mengenal konsep kopi seduh manual. “Mau invest ke syphon, kemahalan. Terus belum tahu makenya gimana. Ke V60, juga, alatnya sepertinya banyak sekali. Perlu ketel, dripper, dan lain-lain. Terakhir, pas lihat-lihat di Youtube dan menemukan Aeropress, kayaknya mudah nih. Dan murah pula,” kenang Jaya sambil tertawa.

Ia memang cukup rajin tertawa, setidaknya ia tidak pelit mengumbar senyum selama mengobrol dengan kami. Jadi jangan tertipu oleh penampilannya yang nyentrik dengan kumis melengkungnya yang hipster itu. Ia memiliki kepribadiannya hangat dan bersahabat. (Kesimpulan pribadi saya, ia cenderung sedikit pemalu pada awalnya, jadi jangan segan-segan untuk menyapa duluan kapan saja kalian mungkin bertemu dengannya. Seperti yang ia katakan, “Jangan lupa say hi kepada Mintjen pria berkumis saat Anda menyambangi 38 Coffee Lab, Medan).

Jaya Pranata, menyeduh untuk kami dengan menggunakan kopi dan resep yang sama seperti saat kompetisi, di 38 Coffee Lab miliknya.

Apa rasanya menjadi Juara Kedua di kompetisi Aeropress Indonesia? Nyangka tidak?

Tidak nyangka, sih. Karena itu (skalanya) sudah satu Indonesia, ya. Tapi saya kira semua juga berawal dari home barista. Juara Ketiga, Mas Sigit dari Malang, awalnya dia juga berangkat dari hobi.

Katanya langsung berkenalan dengan Aeropress begitu pertama kali kenal seduh manual?

Iya. Jadi dulu setelah belanja Aeropress, saya bersama teman-teman (yang sama-sama baru belajar seduh manual) biasanya bertemu tiap sore. Kami belajar memakai Aeropress bersama-sama, menyeduh bersama-sama dan memakai beans yang sama juga.

Ngomong-ngomong, apa persiapan kamu sebelum kompetisi?

Tidak ada yang spesial sampai akhirnya mendapat beans kompetisi. Waktu itu, kita diberikan Lintong Natural sebagai beans pertama. Seminggu kemudian baru saya buka, saya ajak teman untuk cupping kopinya. Saya dibantu oleh Darren Wang dari Sadia Coffee Roaster, karena (cupping) palette saya nggak terlalu sensitif, jadi cari dia. Dia cupping, lalu menyuruh mencari karakter-karakter yang terbaik pada kopi itu. Tugas saya adalah menyeduh dan menyajikan kepadanya. Karena kopi pertama adalah natural process jadi lebih gampang.

Jaya Pranata.

Lolos dari penyisihan regional, kita dapat beans baru. Data yang diberikan waktu itu hanya (single origin) Honduras dan washed process. Itu saja. Kali ini saya mencoba metode yang lain. Saya kasih kopinya ke pelanggan (di 38 Coffee Lab), lalu minta feedback dari mereka. Waktu itu ada satu pelanggan yang home barista juga, dan agak sensitif. Dia bilang, “Ini under extract nih. Lu perlu tinggiin lagi deh suhunya.” Saya memang pakai suhu rendah waktu itu dan notes-nya cuma dapat bergamot saja. Sementara notes pada kopinya ada yang lain, seperti strawberry dan yang lain. Jadi saya coba naikkan suhunya ke 92°C, ekstrim. Saya sajikan panas-panas seperti itu (ke pelanggan tadi), lalu dia tungguin beberapa menit sambil main hape. Ketika agak dingin, dia cicipi lagi “kok makin enak ya?”. Dari situ akhirnya dapat clue-nya.

Persiapan saya benar-benar cuma seminggu sebelum hari H. Sempat kepikiran untuk konsultasi dengan pakar-pakar dan sesama teman yang ada dalam kompetisi. Tapi mungkin saat itu semuanya kebetulan lagi fokus dengan kompetisi, jadi seperti enggan berbicara. Seperti menarik diri. Jadi saya cari customer saja. (tertawa).

 

Jadi apa resep Aeropress kamu kemarin?

· 21 gram biji kopi, giling fine to medium. (Atau di ukuran 10 pada Hario V60 electric grinder).

· 231 ml air mineral.

· Suhu 92°C (tergantung pada proses pengolahan biji kopinya, suhu ini untuk washed process).

 · Brewing time: 1 menit 55 detik.

· Inverted method.

· Double paper filter, basahi dengan air panas sebelumnya.

Jaya menggunakan dua filter kertas, satu micro filter Aeropress. Satu lagi, Yami round paper filter.

Cara seduh.

  1. Tuang kopi yang sudah digiling ke dalam chamber Aeropress dalam posisi inverted.
  2. Tuang air sebanyak 60 ml untuk proses blooming, pastikan semua permukaan bubuk kopi basah. Tuangkan air secara spiral.
  3. Wiggled, atau guncang chamber Aeropress selama 15 detik sampai kremanya naik. Nikmati suara proses airnya bercampur dengan kopinya.
  4. Tunggu 15 detik, lalu tuang sisa air sebanyak 171 ml, dalam waktu 10 detik.
  5. Pada detik ke-55, tutup filter cap Aeropress. Pada detik ke-60, putar Aeropress dan letakkan di atas wadah/server, lalu putar searah jarum jam sebanyak 2 kali.
  6. Ketika timer menunjukkan 1 menit 10 detik, press bagian plunger-nya selama 45 detik.
  7. Hentikan tekanan/stop press ketika terdengar suara ‘hiss’.
  8. Enjoy.

 

(Saat saya mencicipi kopi buatan Jaya dengan menggunakan beans dan resep yang sama seperti yang ia gunakan saat kompetisi lalu, hasilnya memang benar-benar istimewa. Kopinya memiliki karakter menarik dengan notes sparkling lemon, bergamot, namun ada pula vanilla sweetness dan after-taste yang cukup panjang).

 

Akhirnya saya tahu mengapa Jaya melakukan ini saat kompetisi lalu. 😀

Hm, resep yang menarik. Menurut kamu apa yang membuat metode Aeropress ini istimewa?

Well, Aeropress ini sangat menarik karena bukan hanya alatnya yang praktis dan simpel untuk dibawa dan dibersihkan. Tapi juga karena alat ini seperti perpaduan berbagai teknis antara steep, drip, vacuum dan tekanan sehingga kita, sebagai brewer-nya, diberi kebebasan untuk mengendalikan parameter brewing yang sesuai dengan gaya kita. Aeropress itu alat yang minimalis dan terjangkau, tapi bisa menghasilkan kopi seperti yang Anda inginkan, dengan menggunakan berbagai biji kopi dari berbagai profil roasting pula.

 

Ada pengalaman berkesan selama sesi di Jakarta kemarin?

Saya kira semuanya hampir sama, soalnya beberapa kali saya mendapatkan hasil yang tight. Saya dapat penilaian seri dua kali. Berarti, sebenarnya kualitas para barista di tahap 9 besar itu merata. Hampir sama bagusnya di setiap kota. Keep exploring, karena tujuan yang ingin saya dapatkan di seduhan itu adalah mencari sweetness. Pada umumnya kan masyarakat senang yang manis-manis, ya. Karena kalau yang pahit, kan nanti jadi galau. Hahaha…

Jaya, saat menerima penghargaannya di Jakarta Coffee Week 2017.

Apa mimpi dan rencana yang ingin kamu lakukan pasca pencapaian di Indonesia Aeropress Championship 2017?

Rencana saya sederhana. Sebagai barista di 38 Coffee Lab, saya ingin tetap rendah hati, sabar, dan terus belajar untuk menyeduh kopi yang enak, yang bisa menyenangkan hati dan lidah penikmat kopi. And keep humbly listening to both praises and inputs, karena kadang “lidah awam” adalah yang paling jujur memberitahu soal rasa. Harapan saya, semoga (kemenangan) ini bisa menjadi bekal untuk kompetisi berikutnya (yang akan saya ikuti)—selain mencari mentor dan biji kopi untuk kompetisi.

 

Berarti kamu berencana untuk bertanding di kompetisi bergengsi lainnya tahun depan?

Absolutely yes. Saya berharap suatu hari nanti bisa mewakili Bendera Kebanggaan kita, Merah Putih, di ajang Internasional. (Amin—red).

 

Terakhir, apa harapan kamu untuk ranah industri kopi spesialti?

Saya berharap kepada pelaku industri kopi spesialti, baik di Medan maupun di Indonesia, semoga kita mengerti bahwa kopi spesialti itu adalah perjalanan panjang yang melibatkan kerja keras, itu adalah sebuah mata rantai yang saling berkesinambungan mulai dari kebun kopi sampai ke cangkir para penikmat kopi. Jadi, mari sama-sama melakukan yang terbaik terhadap apa yang sudah menjadi tanggung jawab (kita) masing-masing sebagai satu kesatuan mata rantai. Karena ketika satu rantai putus, maka putus jugalah roda kopi spesialti.

Berbesar hatilah menerima masukan (yang diberikan kepada kita), demi kemajuan industri kopi yang kita cintai ini. Karena pada saat kita –para petani, green buyer, roaster, barista, dan siapapun yang berperan dalam mata rantai ini– bekerja sama, mudah-mudahan itu bisa menjadi berkah untuk semua. Demi kemajuan kopi Indonesia!

Great! Terima kasih untuk wawancara ini, Jay. Best luck for your future!

 

 

8,252 total views, 6 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.