JENIS-JENIS KOPI SUMATERA

Kopi-kopi dari Sumatera termasuk salah satu kopi primadona dari tanah air.

ADA yang menarik pada pergelaran #SCAA2016 beberapa waktu lalu. Selain Indonesia yang menjadi tamu kehormatan pembuka expo, kopi-kopi dari Nusantara ternyata juga menarik cukup banyak perhatian para pencinta kopi di acara itu. Beberapa kopi yang menjadi sorotan antara lain single origin dari pulau Jawa, dan juga kopi-kopi Sumatera.

Jika berbicara tentang kopi Sumatera, dan Indonesia secara umum, maka kita barangkali perlu melongok sedikit ke garis sejarah yang lebih jauh. Pada masa kolonialisme Belanda, kopi-kopi Indonesia termasuk salah satu komoditas penting yang kerap dibawa kolonialis ke luar negeri—baik sebagai barang dagangan atau pun hasil bumi. Di sebuah catatan, konon Jepang juga bisa mengenal kopi karena kapal-kapal Belanda yang membawa kopi dari Indonesia saat itu menyinggahi pelabuhan Tokyo dan Kyoto.

Secara umum, kopi-kopi Indonesia memiliki karakter dan cita rasa yang khas, seperti herbal dan earthy. Demikian juga dengan kopi Sumatera. Hanya saja kopi-kopi dari pulau ini dirasa cenderung lebih intens dan kompleks sehingga bagi penggemar kopi yang tidak terlalu menyukai karakter sweetness dan juicy, kopi-kopi Sumatera dirasa cocok.

Selengkapnya tentang kopi-kopi dari Sumatera bisa disimak sebagai berikut.

 

1. Kopi Gayo

Dataran tinggi Gayo di Aceh sudah lama dikenal sebagai kawasan penghasil kopi-kopi berkualitas—bahkan di Indonesia. Kebanyakan produksinya adalah Arabika, meski yang diusahakan juga ada jenis Robusta. Namun, jumlah Robusta tidak sebanyak Arabika. Pada 2010 lalu, kopi Gayo telah mendapat sertifikat Fair Trade dari organisasi nirlaba Fairtrade International. Di bulan Oktober di tahun yang sama, kopi Gayo juga memperoleh skor tertinggi pada kegiatan Indonesian Specialty Coffee Auction yang semakin menandai kopi daerah ini sebagai salah satu kopi organik terbaik—di dunia.

Wilayah tumbuh: daerah Takengon, kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues dengan ketinggian sekitar 1200 – 1700 mdpl.

Tasting profile: Kompleks—dan cukup susah jika harus mendefinisikan hanya satu notes saja dalam kopi ini karena semua karakternya cenderung seimbang. Tidak ada rasa yang mendominasi. Body-nya sedang, acidity-nya seimbang dan after taste yang cukup panjang. Salah satu kekuatan kopi Gayo juga adalah aromanya yang harum dan nikmat.

Proses pengolahan yang umum: washed process, honey dan natural.

Cupping kopi Gayo.
Cupping kopi Gayo.

 

2. Kopi Lintong

Bibit kopi Lintong dibawa oleh kolonial Belanda pertama kali sekitar tahun 1888. Lokasi penanaman kopi waktu itu terkonsentrasi pada daerah-daerah di sekitar pegunungan Bukit Barisan, dekat Danau Toba yang memiliki ketinggian ideal untuk tumbuhnya pohon kopi. Daerah penanaman kopi umumnya berada di sekitar Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Karenanya istilah kopi Lintong pun diambil dari kata Lintong Nihuta. Sejak dulu, kopi Lintong termasuk favorit para peminum kopi di Eropa karena rasanya yang kuat dan aromanya yang cukup khas.

Wilayah tumbuh: daerah sekitaran kabupaten Humbang Hasundutan, yaitu kecamatan Lintong Nihuta (1,400-1,450 mdpl), kecamatan Dolok Sanggul (1,450-1,600 mdpl) dan sekitar Danau Toba.

Tasting profile: Body lebih tebal, notes herbal, acidity rendah. Kadang, kopi ini juga memiliki sweetness seperti dark chocolate.

Proses pengolahan yang umum: wet hulled atau giling basah.

 

3. Kopi Sidikalang

Kopi Sidikalang termasuk salah satu andalan dari Sumatera Utara. Aromanya yang khas—dan bagi sebagian besar penggemar kopi dianggap nikmat—disebut sebagai daya tariknya. Sidikalang sendiri merupakan ibukota kabupaten Dairi yang berada di daerah pegunungan yang beriklim sejuk. Daerahnya yang berdekatan dengan kawasan Bukit Barisan memberikan keuntungan karena menyebabkan tanahnya sangat subur.

Wilayah tumbuh: Sidikalang dan sekitarnya dengan ketinggian sekitar 1,300 – 1,450 mdpl.

Tasting profile: Body tebal, notes herbal, acidity rendah namun memiliki kadar bitterness yang lebih tinggi dan lebih intens.

Proses pengolahan yang umum: wet hulled atau giling basah.

kopi lintong toba
Pohon-pohon kopi yang berada di dekat Danau Toba.

 

4. Kopi Tanah Karo

Konon tanaman kopi di daerah Tanah Karo sudah dikenal sejak awal tahun 1900-an karena kolonialis Belanda membawanya ke dataran Eropa. Saat ini varietas utama yang dikembangkan di Tanah Karo adalah Arabika.

Wilayah tumbuh: Sekitar Berastagi, Kabanjahe dan kaki gunung Sinabung dengan ketinggian berkisar antara 1,275 – 1,400 mdpl.

Tasting profile: Dataran tinggi Karo juga terkenal sebagai kawasan pertanian jeruk sehingga membuat kopi-kopi dari daerah ini seringkali memiliki rasa yang menarik. Kopi-kopi Tanah Karo umumnya memiliki notes jeruk, acidity sedang dan body sedang.

Proses pengolahan yang umum: wet hulled atau giling basah.

 

5. Kopi Minang Solok

Kopi Minang Solok semakin dikenal setidaknya sejak 2-3 tahun terakhir. Karakternya yang unik membuat kopi jenis ini cepat digemari dan, tidak heran, kalau single origin ini pun segera melesat menjadi primadona baru di kelas kopi-kopi Sumatera.

Wilayah tumbuh: dataran tinggi Kabupaten Solok, Sumatera Barat yang dekat dengan lereng gunung Talang. Ketinggian daerah ini berkisar antara 1,200 – 1,900 mdpl.

Tasting profile: Kopi Minang Solok cenderung memiliki rasa yang lebih ringan dibandingkan dengan tipikal kopi-kopi Sumatera lainnya. Body-nya diantara rendah-sedang, sweetness cukup banyak dengan notes seperti buah-buahan tropis dan aroma floral sehingga secara umum, kopi Minang Solok cenderung mirip dengan tipikal kopi-kopi Afrika.

Proses pengolahan yang umum: washed, honey dan natural.

DSCF3784

 

6. Kopi Kerinci

Hampir mirip dengan Minang Solok, produksi kopi-kopi dari Kerinci juga semakin menggeliat sejak 2-3 tahun terakhir. Meski kebanyakan produksi kopi wilayah ini umumnya adalah Robusta, namun varietas Arabika juga semakin mendapat perhatian khusus dari para petani sejak tahun 2014. Selain Robusta dan Arabika, Jambi (termasuk Kerinci) juga menghasilkan varietas Liberica.

Wilayah tumbuh: kabupaten Kerinci Jambi yang berada di sekitar gunung Kerinci, daerah ini memiliki ketinggian sekitar 500-1,500 mdpl dan memiliki kandungan bahan organik cukup bagus pada tanahnya. Wilayah penanaman tersebar di beberapa kecamatan seperti Gunung Tujuh, Batu Ampar, Sungai Penuh dan Solok Selatan.

Tasting profile: Untuk varietas Arabika, kopi Kerinci memiliki karakter dengan body sedang, acidity rendah dan sweetness ala rempah seperti cinnamon dan herbal. Namun after taste-nya tidak sepanjang kopi-kopi dari Sumatera Utara.

Proses pengolahan yang umum: wet hulled/giling basah dan full wash.

kopi-gayo

 

7. Kopi Bengkulu

Bengkulu disebut-sebut masuk ke dalam area segitiga-emas-penghasil-robusta, selain Sumatera Selatan dan Lampung. Area ini sebenarnya memiliki kontur dan ketinggian yang ideal untuk menanam kopi, yaitu di sekitar Gunung Kaba yang tingginya 800-1,400 mdpl. Hanya saja, kebanyakan para petani dan penghasil kopi di Bengkulu masih jarang sekali—kalau tidak bisa disebut tidak pernah—mendapat pelatihan dan penyuluhan tentang proses kopi dari luar sehingga kopi-kopinya pun cenderung diproses dengan “seadanya”. Namun setidaknya satu tahun terakhir sebagian kecil petani muda dari Bengkulu telah mulai melek untuk memproduksi kopi dengan lebih baik.

Wilayah tumbuh: daerah sekitar lereng Gunung Kaba dengan ketinggian sekitar 800-1,400 mdpl.

Tasting profile: Untuk varietas Arabica, rentang rasa yang dimiliki cukup beragam. Body tipis dengan notes seperti buah-buahan, juicy dengan aroma segar. Untuk proses full-washed, karakter yang muncul bisa seperti kakao yang cukup intens dan kadang rempah-rempah.

Proses pengolahan yang umum: semi washed, fully washed.

 

8. Kopi Lampung

Kopi merupakan komoditas unggulan di Lampung dan bukan rahasia lagi kalau salah satu perusahaan kopi instan yang cukup terkenal di Indonesia memiliki perkebunannya di sini. Lampung juga terkenal sebagai penghasil kopi-kopi robusta karena wilayahnya dianggap sangat ideal untuk menanam varietas robusta, namun beberapa tahun terakhir varietas arabika juga semakin diperhatikan meski jumlahnya masih belum sebanyak robusta. Sejak awal tahun 2016 lalu, produksi kopi dan termasuk penjualan kopi-kopi Lampung meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Wilayah tumbuh: wilayah Lampung Barat, Lampung Tengah dan juga daerah Tanggamus.

 Tasting profile: Untuk varietas arabika, kopi Lampung memiliki body tinggi, acidity rendah, dengan karakter earthy dan rentang notes antara nutty, woody dan dark chocolate.

Proses pengolahan yang umum: Kopi-kopi Lampung umumnya masih diproses secara tradisional, karenanya proses natural merupakan hal yang umum di sini.

 

Catatan. Kopi-kopi dari Sumatera sebenarnya memiliki lebih banyak lagi daftar varietas dan varietal. Yang ditulis pada artikel ini hanyalah beberapa yang dianggap paling populer dan mewakili masing-masing daerah atau provinsinya. Sekiranya pembaca tahu informasi single origin Sumatera yang lain, boleh di-share di kolom komentar. 🙂

 

Foto tambahan diambil dari Flickr—credit milik Richard Austin, dan Sydeen. Referensi diambil dari berbagai sumber, antara lain Buku The World Atlas of Coffee, hasil wawancara dengan Darrin Daniel dan beberapa Coffee Head Roaster, dan sumber informasi tertulis lainnya.

single-origin kopi

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

56 Comments
  1. gan, koq kopi mandheling gak dibahas? apa bukan termasuk kopi sumatera ya? apa mandheling itu nama lain dari kopi tanah karo?

    1. Iya, sebenarnya waktu nulis artikel ini, saya juga udah mikir kayaknya bakal ada pertanyaan kayak gini. 😀
      Ada beberapa pertimbangan, Mas, kenapa kopi Mandheling gak dimasukin.
      1. Kopi Sumatera di artikel ini mengacu kepada prinsip single origin, spesialti, dan sejenisnya. Jadi kalo kita bicara “kopi Mandheling” maka seharusnya itu adalah kopi-kopi yang berasal dari kabupaten Mandailing (Mandheling) Natal. Padahal kenyataannya –setidaknya yang sering saya temui– kopi-kopi berlabel Mandailing yang banyak dijual justru berasal dari Tanah Karo, bukan dari Mandailing. Pun petani dari Karo yang pernah saya jumpai ngakunya seperti itu “kopinya dari Karo, tapi kok gitu keluar namanya jadi Mandailing.” Nah kalau pun ada kopi asli dari Mandailing yang dijual, mungkin belum terlalu populer secara komersil atau pun single origin.

      2. Menurut beberapa sumber yang saya tanya dan ulik-ulik, dulu kolonial Belanda selalu mengekspor kopi-kopi asal Sumatera melalui sebuah pelabuhan yang bernama Mandheling, ada di daerah Mandailing. Jadi.. kopi apapun yang keluar dari Sumatera, entah itu Gayo, Sidikalang dsb, akan selalu dikasih nama (kopi) Mandheling. Dan kalo kita bicara single origin, tentu ini jadi gak spesifik dong. :p
      Btw, Tanah Karo adalah kabupaten/daerah/suku tersendiri, Mas. Bukan nama lain dari Mandheling. Mungkin kasusnya hampir sama dengan kopi Gayo yang kadang menolak disebut kopi Aceh. :p
      Thank you for comment. 🙂

      1. Di mandailing sejak dlu ga ada namanya pelabuhan mandheling mba.. Yg ada tuh di natal. Jd mandailing & natal itu 2 daerah yg berbeda

        1. Terima kasih, Mas Marti. Memang, pelabuhan yang ada di Kabupaten Madina (Mandailing Natal) sesungguhnya berada di wilayah Natal. Tapi, kalau Mas ingat, nama dan Kabupaten Mandailing Natal sendiri BARU diresmikan secara formal oleh Mendagri tahun 1999. Yang artinya, pada masa kolonial Belanda, pelabuhan ini masih bernama Pelabuhan Mandailing (atau Mandheling versi Inggris-nya). Konteks yang saya bicarakan di sini kan adalah pada masa kolonial Belanda tersebut (yang menjadi titik mula “asal nama” kopi Mandheling), BUKAN jaman sekarang. Terima kasih.

          1. Anda ga paham sejarah mandailing. Yg anda persoalkan itu masalah pemekaran daerah saja yg sebelumny masuk daerah tapanuli selatan. FYI, mandailing sudah ada jauh sebelum belanda masuk ke indonesia

          2. anda bilang ” titik mula “asal nama” kopi Mandheling”. ? asalnya ya dari mandailing/ ato sebutan belanda MANDHELING. ini dibuktikan dengan adanya gereja tertua yg dibangun oleh belanda berada di wilayah pakantan (mandailing). dan sampe sekarang juga masih ditemukan banyak kopi tua yg pohonnya sebesar pohon beringin dan berumur ratusan tahun. masyarakat setempat menyebutnya kopi mandili.

          3. saran saya, sebelum menulis tentang kopi MANDAILING/MANDHELING, sebaiknya anda bikin riset dan terjun langsung ke daerah termasuk mulai dari daerah mandailing itu sendiri. jadi jangan hanya membuat opini bahwa mandailing ada tahun 1999.

          4. Terima kasih untuk sarannya, Mas Marti yang tampaknya berapi-api. Pertama, ada alasan kenapa saya tidak memasukkan kopi Mandailing sebagai salah satu single origin / jenis kopi yang ada di Sumatera. Tapi mohon perhatikan baik-baik kalimat berikut: BUKAN berarti berarti saya menyatakan bahwa tidak ada kopi di kabupaten Mandailing/Mandailing Natal. Saya tidak pernah menulis atau menyebut seperti itu. Alasannya, dari beberapa riset/catatan yang saya baca SEBELUM menulis artikel ini (termasuk bertanya kepada beberapa ahli dan roaster kopi), kopi Mandheling pada awalnya sebetulnya adalah sebuah merek dagang, nama perdagangan, dan bukan mengacu kepada satu jenis kopi spesifik tertentu. Itu berdasarkan riset yang saya dapat, ya.

            Mungkin Anda bisa membaca salah satu referensi di sini: http://www.martinezfinecoffees.com/newsletters/april-2014-sumatra.html yang bahkan menuliskan bahwa “coffee is not, however, grown in the Mandhailing province”.

            Lalu, pada masa kolonial Belanda, semua kopi dari Sumatera diekspor keluar melalui satu pintu pelabuhan, yaitu Pelabuhan Mandailing sehingga semua kopi yang keluar dari Sumatera pun dinamakan demikian: Kopi Mandailing —sinkron dengan berbagai catatan yang menyebut bahwa (kopi) Mandailing pada awalnya adalah merek dagang. Mandailing pada waktu itulah yang pada tahun 1999 kemudian dimekarkan menjadi satu kabupaten khusus. Saat ini pelabuhan tersebut (setahu saya) sudah ditutup dan “fungsinya” telah digantikan oleh Pelabuhan Belawan, di Medan. Makanya mungkin Mas bilang tidak ada pelabuhan di Mandailing, karena timeline yang saya bicarakan kan adalah pada masa kolonial Belanda. Itu maksud saya.

            Jadi saya tidak pernah mempersoalkan masalah pemekaran wilayah Mandailing menjadi Mandailing Natal dan seterusnya. Udah lari jauh banget dari konteks artikel tuh. Lulz. Mandailing sebagai sebuah daerah tentu sudah ada bukan hanya jauh sebelum Belanda masuk, tapi bahkan sejak Nusantara berdiri. Kopi di Mandailing juga mungkin sudah tumbuh sejak dulu, tapi yang dibicarakan di sini kan adalah kopi dalam konsep “komersil, specialty, single origin, dan seterusnya”. Bukan secara perseorangan/individu.

            Btw, ya mungkin Mas lebih cerdas dari saya sih ya soal sejarah dan Mandailing. Maaf, mungkin saya memang perlu belajar banyak lagi. Tapi saya pun tidak akan menulis kalau saya tidak tahu apa-apa. Terima kasih. 🙂

      2. itu kopi kemuning , asal lampunh utara juga bagus mbak , pemasok kopi dari lampung barat ngak akan banyak klo ngak di bantu lampung utara , masukin dong min . dominan petani kopi juga itu lampung utara

  2. Akhirnya, ada juga pembahasan lengkap tentang kopi SUmatera. Thanks Yulin, this is really what I looking for. 🙂

  3. Sy mencoba robusta bengkulu dan lampung, menurut pengamatan sederhana sy, robusta bengkulu ada sweetness yg muncul dibandingkan robusta lampung. Sedap dehh.

  4. agak aneh memang..kopi daerah sumbagsel jarang “disenggol” penulis kopi….
    saya udah cobain byk kopi…ujung2xnya ya balik lagi ke kopi semendo atau kopi dempo..
    mungkin karena kenal kopi dari kopi itu…makanya balik lagi..

    minum kopi semendo dari biji kopinya yang di grinder sendiri jadi hobby baru…biasa segelas..
    sekarang dua gelas nontsop..hihihi…perlu dkurangi lagi …

    1. Sejujurnya, saya juga baru tahu tentang kopi Semendo setelah “diberi tahu” seorang pembaca di komen sebelumnya, Mas. Ya, memang paling gampang nyalahin (para) penulis kopi sih jika mereka belum pernah mendengar tentang kopi Semendo. Soalnya kopi Semendo sendiri, at least, gak pernah saya lihat ada dibawa di event-event kopi. Gimana dong? Ehehe. Jadi jarang ada yang tahu–selain mungkin orang-orang yang tinggal dekat daerah kopi itu berasal.

      1. setuju bos. kalo digali lagi disumatera bahkan ada ratusan. kebetulan saya bekerja sebagai penyaji kopi hehehe dan asli Bengkulu sumatera,hanya orang2 yang memang mendedikasikan diri untuk menikmati kopi yang “tau” beberapa jenis kopi dari daerah2 disumatera,sejatinya saya yang setiap hari berurusan dengan kopi tidak menyalahkan para penulis persolaan tentang kopi,karena memang sedikitnya orang2 yang membawa berbagai kopi dari daerah sumatera dalam event2 besar di indonesia,dan sedikitnya pengenalan cara pengolhan biji kopi dari bibit hingga sampai ke meja untuk di nikmati. Keren bos tulisannya,semua jempol buat bos deh.

      2. Sebetulnya saya nanya bukan karena “Kopi Semendo” itu kopi terbaik, cuma pengen tau aja mungkin ada hal yg bs dishare… Kalau kebetulan lagi main ke palembang boleh mampir ke “Kopi Pulang”, or you can mail me and i will buy you a cup. hehehe ;D

  5. sebenernya kalau agan-agan diatas ini menyimak, sebenarnya di artikel ini penulisnya udah bikin :
    “Kopi-kopi Sumatera sebenarnya cukup dan masih banyak lagi varietasnya, yang dibahas di sini hanyalah beberapa yang dianggap paling populer dan bisa mewakili masing-masing daerah.”
    dari situ seharusnya agan-agan diatas ini udah ngerti kalau kopi-kopi sumatera (dan juga pulau lain di Indonesia) emang banyak bgt varietasnya, shg kalau harus ditulis satu-satu dari tiap daerah/kabupaten mungkin penulisnya udah bisa bikin buku. lol.

  6. kopi Sipirok di Sumut lumayan terkenal juga loh, saya sedang coba menggali potensi terbaik kopi sipirok. klo mw bantu perkenalkan saya bisa kirim sample bwt yg mw coba :D. thx

  7. dari 8 kopi tersebut, saya pernah mencoba kopi Gayo..
    menurut saya kopi gayo itu berbeda dari kopi yang lain, karena dia memiliki aroma harum yang khas..
    klo untuk karakter lainnya itu semua sama dengan jenis kopi yang lain..

  8. Sejak 1900an juga udh ada kopi dr mandailing. Sekarang udah diperkuat dengan dikeluarkannya Indikasi Geografis kopi arabika mandailing. Jadi kalian nanti ga bisa lagi bawa2 mandailing (kecuali yg memang berasal dari kab mandailing natal).

    Jadi kata siapa mandailing bukan single origin?

  9. Kopi mandailing
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Kopi Arabica

    Kopi mandailing (Inggris : Mandheling coffee) adalah kopi arabika yang berasal dari daerah Mandailing, Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera utara. Kopi ini mempunyai citarasa kekentalan yang bagus, keasaman medium, rasa floral dengan akhir rasa yang manis.[1] Dalam buku William H. Ukers (New York, 1922), kopi mandailing dideskripsikan sebagai kopi paling bagus dan termahal di pasar internasional. [2]
    Sejarah

    Tahun 1833 Kolonial Belanda memasuki daerah Mandailing melalui Pelabuhan Natal, Natal, Mandailing Natal, ekonomi kopi mulai sejak tahun 1835 Kolonial Belanda mendatangkan bibit kopi dari Jawa oleh perusahaan NHM milik Raja Willem 1 dan Melakukan pembibitan di Tano Bato, Panyabungan Selatan, Mandailing Natal tahun 1840. Melalui sistem Tanam Paksa, bibit itu kemudian disebar ke daerah Mandailing seperti ke Pakantan, Mandailing Natal dan daerah Angkola. Tahun 1848 tercatat ada 2.800.000 batang kopi dengan produksi biji kopi sebanyak 9,3 ton. Hasil kopi dikumpulkan di gudang Belanda di Tano bato, kemudian dibawa ke pelabuhan Natal melalui jalan darat via Tapus, Lingga Bayu, Mandailing Natal. Dalam pengangkutan, Kolonial Belanda memamfaatkan warga pribumi dengan cara dipikul dari Tanobato ke Pelabuhan Natal yang memakan waktu 15 hari perjalanan pulang-pergi. Tahun 1886, jalur pengangkutan kopi dialihkan dari Pelabuhan Natal ke Pelabuhan Sibolga.[2]
    Pasar internasional

    Kopi mandailing diekspor ke Amerika Serikat[1] Jepang,[3] Korea Selatan[4] dan lainnya.
    Referensi

    ^ a b “inilah 11 kopi premium ala Indonesia”. Tempo.co.
    ^ a b “Sejarah Kopi Mandailing-Angkola diangkut melalui pelabuhan Sibolga”. Bumn.go.id.
    ^ “Junya Hashimoto pemuda Jepang yang jualan kopi Mandailing Sumatera utara”. Tribunnews.com.
    ^ “Importir Korsel Beli Kopi Mandailing senilai US$ 1 Juta”. Bisnis.com.

    1. Oh my.. Masalah ini lagi. Btw, gak saya tau sih ya, untuk mba dan yang lainnya, tapi saya tidak terlalu mengacu kepada Wikipedia sih untuk dijadikan referensi. Karena laman itu konsepnya editable, alias bisa diedit oleh siapa saja, dan sepengalaman saya dulu waktu nulis jurnal ilmiah di kampus, jarang diterima karena dianggap tidak valid. 🙂

      Saat mengecek ke link Wiki yang mba kasih, pun Wiki itu juga baru diedit belum lama ini: “Halaman ini terakhir diubah pada 17 Februari 2017, pukul 06.53.” — padahal tulisan ini dikerjakan pada 25 Mei 2016, sudah hampir setahun lalu. Hihi.

      Atau begini saja, mungkin saya boleh coba kasih artikel berbahasa Inggris, bersama teks yang sudah di-highlight. Siapa tahu bisa menjadi pertimbangan lain. 🙂
      – Dari espresso coffee guide
      Grown on the Indonesian island of Sumatra, Mandheling is known as much for its smooth, full body (mouthfeel) as its rich, complex taste. Sumatra Mandheling tasting notes often describe it as earthy and intense with an herbal aroma, unique to the region and not found in South American or African coffees. With just enough acidity to provide a vibrancy, Mandheling coffee often exhibits tones of sweet chocolate and licorice.The flavour of the coffee develops well because of the rich volcanic soil and tropical climate, despite not being very high altitude. The coffee is named after north Sumatra’s Mandailing people – an ethnic group and not so much a region.
      Region: Batak Region of West-Central Sumatra, Aceh
      Growing Altitude: 750 – 1,500 meters above sea level

      – dari martinezfinecoffees :
      According to a possibly apocryphal story, Mandheling coffee got its name due to a misunderstanding between a Japanese soldier and a Sumatran café owner. The soldier asked what kind of coffee he was enjoying. The café owner thought he was being asked who his people were, and answered “Mandhailing”. The Mandhailing (as spelled when referring to the ethnic group) people, closely related to the Batak peoples that have inhabited the interior of Sumatra for over 2,500 years, sell coffee. Coffee is not, however, grown in the Mandhailing province (it is mostly from the Lintong and Aceh provinces). At that time most Sumatran coffee was produced for local consumption. The soldier, after the war and upon returning to Japan, sought out this “Mandheling” coffee by contacting a trader in Sumatra. The trader complied, and a “brand” was created.

      – dari interamericancoffee yang katanya Specialty Green Coffee Importers,
      Many of the islands of Indonesia were formed by volcanoes. Therefore, they are mountainous and have rich soil that is ideal for growing coffee. It is no wonder that some of the world’s most famous coffees are grown on the islands of the Malay Archipelago of Indonesia: Sumatra, Sulawesi, and Java. Approximately 15% of all the coffee grown in Indonesia is Arabica. Sumatra is the second largest island of the Republic of Indonesia. Sumatra Mandheling coffee is grown on the lofty volcanic slopes of Mount Leuser near the port of Padang in the Balak region of west-central Sumatra.

      and so on, and so on…

      Terakhir, untuk menyederhanakan segala kekisruhan ini, mungkin kita perlu mengingat bahwa dulu, saat jaman kolonial Belanda, penamaan sebuah jenis kopi baik varietas/varietal dan originnya sangat sederhana dan sangat umum. Tidak sekompleks, sedetail, dan sespesifik saat ini. Penamaan umum itulah yang barangkali masih diwarisi oleh beberapa kopi di Indonesia. Terima kasih. 🙂

      1. Agan harap maklum ya, agak sensitif kalau menyinggung soal mandailing. Biasa itu, saya tinggal disini soalnya. Saya cukup paham lingkungan disini. Btw Kopi Sipirok sangat enak lho, saya sudah coba. Baru ini kopi yg bisa saya minum nyaman tanpa gula. Asik deh pokoknya.

        1. Iya, bang. Saya juga sempat ragu, jangan-jangan emang saya yang salah. Haha.. Padahal semua referensi dan sumber yg saya tanyain pada jelasin begitu. Btw, di Jkt Coffee Week kemaren saya bahkan ketemu sama kopi “Mandheling Danau Toba”. Nah lho. Itu gimana lagi? Haha.

  10. Mandailing itu daerah pegunungan, kopi origin arabika mandailing spesifiknya tumbuh subur di jajaran bukit barisan, mandailing julu, seperti desa pakantan, hutagodang, hutapungkut dan lainnya, dari peninggalan bekas perkebunan kopi yang pernah saya lihat sekarang sudah di babat habis oleh masyarakat sejak tahun 90an karena nilai ekonomisnya anjlok di ganti dengan tanaman pohon karet, dan masyarakat juga banyak mengganti dengan budidaya kopi ateng, secara otomatis produksi original kopi mandailing itu hampir punah, tapi belakangan ini pemerintah setempat sering mengangkat topik tentang kopi mandailing dan pemkab madina sudah memegang merk kopi mandailing . Kopi mandailing itu sekedar merk dagang atau single origin, ahli kopi pasti tau, cek lokasi aja di pakantan atau di hutapungkut. Udah gitu aja

  11. Sudah,sudah.. inget bhinneka tunggal ika,walau beda tp tetap satu.. ?? lagian kasian kopinya,udah nikmat bukan digunakan utk minum malah utk debat.. ? Hadeuhh ?

  12. Intinya semua kopi di indonesia nikmat,dunia mengakuinya.. tinggal siapa yg mrasakannya maka akan beda pula favorit coffenya.. ? Maju trs kopi indonesia!!! ????

  13. saya yg ga experti soal kopi , kalo lihat di kolom komentar jadi makin pusing sendiri.
    jadi maksudnya kopi Mandailing itu merujuk pada semua kopi yang dihasilkan dari daerah Mandailing, dan bukan sebuah varietas jenis kopi ya?

  14. faktanya kopi di sumatra farietasnya cuma dua: arabika (cirinya cepat berbuah, daun kecil, biji lebih kecil, tangkai rapat, batang lurus, berumur pendek) robusta (daun lebar, biji lebih besar, batang besar, tajuk lebar, berumur lama).
    pengamatan di sumatra bagian utara robusta sudah lama ditinggalkan petani, beralih ke arabika karena lebih produktif dan diminati luar.
    di siborongborong tapanuli utara berdiri perusahaan pemasok bijikopi dari semua penjuru tapanuli tidak hanya dari kecamatan lintong, yang aneh petani kopi di tapanuli tidak tahu kopinya dijual oleh pemasok ke starbucks trus oleh starbucks diberi merek “coffee sumatra”.
    pemasok kopi kemungkinan besar menggolongkan kopinya bukan dari mana asalnya tetapi lebih ke samaan rasa dan aroma,

  15. Sebenarnya Sumatera Selatan juga banyak single origin nya, seperti: Pagaralam, Empat Lawang, Ranau, Lahat, Arabica Semendo, Robusta Semendo… dan rasanya oun berbeda beda (biasa sih ku V.60) tapi yg paling menonjol Robusta Semendo nya yang harum…

  16. Saya kira pecinta kopi kalem2.
    Waktu baca komentar2, ternyata ada juga yg garang dan suka berdebat. Mantabb.,,,😙

  17. Artikel menarik, salut sama penulisnya.
    Kita boleh bicara jenis kopi apapun..nyatanya baru beberapa daerah yg punya IG. Kab.karo juga sdh 5 thn berjuang utk mendapatkan IG kopi karo (spi IG utk kopi gayo).. sampai saat ini blm dapat, para sahabat di daerah msg2 mari kita berjuang utk memperoleh INDIKASI GEOGRAFIS (IG) agar bisa mendapat pengakuan Nasional maupun internasional.
    Maaf ini sekedar tambahan dari petani kopi yg msh pemula)

    1. Terima kasih, Bang. Sebenarnya, memang seperti itulah kenyataannya. Ada banyak sekali kopi di berbagai daerah di Nusantara, tapi yang punya IG barangkali bisa dihitung jumlahnya. Sialnya, mereka yang daerahnya belum punya IG ini kebanyakan hanya bisa “marah-marah” saat kopinya tidak masuk dalam sebuah tulisan, dan bukannya malah rame-rame memperjuangkan IG kopinya. Maaf, setidaknya itu yang saya lihat sejauh ini. Ehehe.

  18. Bukannya kebanyakan orang kita begitu?
    Lebih suka “marah 2” kalau ada masalah daripada mencari cara bagaimana masalah bisa selesai.
    Piss😊😆😂

  19. waduh ramai bangat bicarakan cofee sumatera saya penikmat kopi yg jelas kopi di seluruh Sumatera punya cita rasa yang berbeda beda tergantung tinggal yang mana yg anda suka.Dari mulai Aceh sampai Lampung Muuantap…

  20. dari 2016 – 2018 masih ada yang bahas, kalo ada yang marah maklumin aja. Tulisan yang menarik dan boleh dibuat untuk referensi. Terimkasih untuk tulisannya.

  21. Mo nyoba keliling sendiri tapi belum berdedikasi sebegitunya buat kopi.. Cuma suka jelajah rasa kopi, bahkan nyeduh masih tahap pemula, seenggaknya bisa baca disini biar tau apa yang bisa gua harapkan dari biji yang bakal dibeli, tapi mo nyari yang lengkap gituu semoga ada orang yang baik mau share pengalamannya.

  22. Seru banget baca komen di atas ini bertahun tahun masih seru aja, kalo menurut gw pribadi. Apa ya ada yang salah dari sebuah kopi? Warnanya juga mentok mentok item. Di seduh nya juga tetep pake air, di tanamnya juga masih di tanah, di siram juga sama sama pake air kok. Kenapa masih di debatin ya? Padahal di minumnya sama sama pake mulut. Mari kita sukuri saja apa yang ada, darimana pun kopinya, apapun namanya. Secangkir kopi tetaplah kopi. Karena kenikmatan kopi bisa kita rasakan dengan bagaimana kita menikmatinya, bukan memperebutkan darimana asalnya. Semua kopi yang ada atas karunia Tuhan. Marilah kita syukuri bersama.

  23. Kopi Semendo, Kab Muara Enim, Sumsel, ada baiknya dijaga juga, apalagi untuk robusta sudah punya sertifikat IG, di Sumsel ini kopi legendaris, kok malah ketinggalan, Bengkulu yg sentra produksi kopinya jauh lebih sedikit malah dibahas

  24. Pagar Alam sumsel menyimpan baik2 kopinya,jujur,ketika saya ke kota pagar alam hampir semua orang pagar alam minum kopi,dan saya akui kopinya sungguh nikmat,jarang ada yg tau,karena ketutup nama2 kopi dari daerah yg lain,padahal kebun kopi di kaki gunung dempo itu sudah ada di zaman kolonial,kopi ini tumbuh baik dan tumbuh bareng dengan kopi semendo(mungkin wilayahnya yg berdekatan) hanya saja petani di gunung dempo butuh bimbingan untuk mengolah kopi dengan baik lagi,terutama bimbingan mengolah kopi arabika.

  25. artikel yang sangat menarik dan koment2 yang menarik juga. saya bukan pecinta kopi tp jadi penasaran dengan kopi2 yg disebutkan bapak/ibu sekalian. saya orang batak asli kelahiran lumbung tambunan dan orang tua saya petani kopi sebelum mereka memutuskan untuk hijrah ke jakarta. di sana saya cuma kenal kopi medan dan tidak pernah tau namanya apa (hahaha) sekarang2 ini saya baru tahu kalau namanya kopi kate, kopi arabika dll. saya sedang belajar berbisnis kopi mungkin ada yg punya rekomendasi tempat2 untuk belajar mengenai kopi dan bisnis kopi? mohon infonya. thanks.

  26. sekelas otten bisa tidak me masukkan nama kopi Mandailing, mana ada Mandailing Toba, atau Mandailing Karo, mana bisa begitu……….indikasi geografisnya sudah keluar dari intansi terkait, coba diperbanyak referensi nya ya, di Otten saya masih liat packaging kopi yang dijual Nama Mandailing dicampur2 dengan geografis lain, justru karena kopi Mandailing sudah terkenal duluan di Eropa , banyak yg pakai label “Mandheling” bukan terbalik seperti keterangan sdri Yulin diatas

    1. Iya, maaf. Mungkin referensi saya memang kurang, Mas. Terima kasih masukannya. Sekadar info juga, beberapa tahun lalu, di beberapa expo/event kopi Nasional saya pernah menjumpai beberapa coffee shop/coffee roastery yang mencantumkan kopi Mandheling pada kemasan kopi mereka. Setelah saya baca keterangan origin/daerah asalnya, mereka menuliskan Danau Toba, Tanah Karo, atau daerah-daerah di Tapanuli Utara di kemasan kopi Mandheling itu. Begitu juga saat main ke banyak kedai kopi di kota-kota besar (Jakarta/Bandung), kopi Mandheling yang mereka jual, saat saya tanya originnya, kebanyakan diambil dari daerah Tapanuli Utara, bukan dari daerah Pakantan, Kotanopan, atau daerah-daerah asli yang merupakan wilayah Mandailing. Nah, itu bagaimana? 🙂

      Btw, kopi-kopi yang asli asal Pakantan, kebanyakan saya temui adanya di kedai-kedai kopi kecil lokal. Dan alih-alih menggunakan nama Mandheling, mereka justru menggunakan “kopi Pakantan” saja di toples biji kopi kedainya. Bukan di kemasan kopi yang dijualnya. Nah itu bagaimana juga? 🙂

  27. wkwkw 1 topik sampai 3 tahun dibahas hanya masalah mandailing
    padahal itu baru daerah, belum varietas, belum lagi pasca panen, belum lagi roasting.
    apapun itu kopi tetap harus dinikmati selagi panas .
    saya juga sering beli kopi di otten dan philocoffee

    salam. pecinta kopi

Leave a Reply to Abah zaaid Cancel reply

Your email address will not be published.