KADAI KOPI MINDUT: SEBUAH HARAPAN DI BATUSANGKAR

Batusangkar buat saya bukan tujuan mencari kopi, tetapi kepulangan ke kampung halaman.

DUA tahun lalu adalah terakhir kali saya pulang kampung ke Batusangkar, kota tempat leluhur saya berada. Waktu saya ke sana, tak ada sedikitpun tanda-tanda tentang kehidupan sebuah kedai kopi modern dengan mesin espresso. Batusangkar kota yang cantik. Dipeluk alam nan hijau dengan pemandangan luar biasa di kiri kanan jalan. Meski begitu, industri kedai kopi seperti di kota-kota besar belum sampai ke sana. Orang-orang masih menikmati minum kawa daun di warung-warung. Atau paling-paling menyeduh robusta seperti yang dijual pabrik Kiniko Kopi di Tabek Patah.

Interior kedai yang cukup luas dan menyenangkan.
Interior kedai yang cukup luas dan menyenangkan.

Namun saat kembali ke sini, alangkah terkejutnya saya melihat sebuah tulisan besar bertuliskan ‘Kadai Kopi Mindut’ saat sedang melewati kota. Tak mau berekspektasi terlalu besar dengan kedai kopi ini, meski berjanji dalam hati besok saya musti mampir ke sini. Hari itu pun tiba. Saya sedang dikejar deadline dan membutuhkan koneksi internet. Kampung saya berada sekitar 45 menit dari Kota Batusangkar. Tidak memungkinkan juga koneksi internet yang stabil di sana. Kadai Kopi Mindut adalah harapan satu-satunya.

Daftar menu dan harga yang sangat terjangkau.
Daftar menu dan harga yang sangat terjangkau.

Bersama dua orang teman kami memasuki coffee shop yang ternyata satu gedung dengan Hotel Pagaruyung. Di dinding kedai ini dipenuhi grafiti dan mural. Menambah nuansa ceria warna-warni yang membuat girang. Beberapa meja berisi anak-anak muda yang nongkrong sambil internetan. Dan saya pun seketika gelisah mencari-cari dimanakah mesin espresso-nya berada. Jangan-jangan tidak ada mesin espressonya. Waduh!

Mesin espresso one boiler terduduk manis di coffee bar.
Mesin espresso one boiler terduduk manis di coffee bar.

Kekhawatiran terjawab sudah, ternyata ada sebuah mesin espresso kecil one boiler yang saya lupa mereknya apa. Ah ada harapan kopinya enak, pikir saya dalam hati. Saya pun dengan semangat memelajari menunya. Menunya standar dengan beragam menu espresso base, main course dan tentunya camilan. Saya memesan cappuccino hangat yang ditemani chicken nugget. Tanpa berlama-lama, barista yang juga merangkap waiter-nya memberikan secangkir cappuccino cantik lengkap dengan latte art-nya. Wah belum juga dicicipi, kopi ini sudah bikin bahagia. Rasa cappuccino-nya biasanya saja. Meski tidak buruk, buat saya masih terlalu milky. Tak apa, setidaknya Kadai Kopi Mindut ini sudah memberi harapan untuk berkembangnya industri kopi di Batusangkar.

Seperangkat amunisi untuk ngopi sore lebih indah. :D
Seperangkat amunisi untuk ngopi sore lebih indah. 😀

Dua teman saya yang lain memesan iced latte dan mocha latte. Bertiga kami berbahagia memerhatikan sekeliling Kadai Kopi Mindut yang makin sore makin banyak yang datang. Anak-anak muda antusias berselfie sana-sini. Kursi-kursi semakin terisi penuh. Dan malam pun dilanjutkan dengan sebuah perasaan baru: Kadai Kopi Mindut membawa harapan bahwa kelak Batusangkar akan terkena demam industri kopi modern.

single-origin kopi

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.