Cafe & Travel Indonesia Sumatera

KAPAL BAMBU RESTAURANT: NIKMATNYA NGOPI DI ALAM

kapalbambu


Keindahan alam seringnya membuat kita merasa begitu kecil. Sedangkan nikmat kopi seringnya membuat kita bersyukur atas nikmat yang tak ada habisnya.

Kapal Bambu Restaurant, oase di tengah hutan.

Kapal Bambu Restaurant, oase di tengah hutan.

LONG weekend kemarin saya dan tiga orang teman melipir sejenak dari hiruk pikuk kota. Kami memilih Bukitlawang yang masih merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara sebagai tempat ‘pelarian’ sejenak. Bukitlawang sudah terkenal sebagai tempat konservasi orangutan. Banyak turis baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke sini untuk trekking, menikmati hutan dan tentunya bertemu dengan orangutan.

Interior bambu begitu menyenangkan dan asri.

Interior bambu begitu menyenangkan dan asri.

Karena sudah beberapa kali ke sini, kami hanya memutuskan bersantai saja. Menikmati udara bersih, hujaunya di sana sini serta gemericik suara sungai yang begitu mendamaikan. Kami menginap di sebuah guesthouse milik teman. Dan meskipun penginapannya sangat menyenangkan, tak ada kedai kopi yang kopinya enak di sini. Setiap ke sini saya dan teman-teman selalu membawa kopi dan alat seduh kopi sendiri. Terakhir saya membawa Cafflano dan teman saya kukuh dengan Aeropress kesayangannya. Di dalam hati kami para pecinta kopi diam-diam berdoa agar segera dibuatlah kedai kopi di Bukitlawang agar tak perlu repot saat mau ngopi seperti ini.

Look at the details!

Look at the details!

The coffee bar!

The coffee bar!

Keesokan harinya sehabis sarapan dan menikmati jus mangga yang segar, seorang teman yang juga guide di sini bilang kalau di Bukitlawang sekarang ada restoran keren yang terbuat dari bambu dan di sana ada kopi yang lumayan enak. Seperti mendapatkan hadiah dari semesta, kami pun bergegas melipir ke restoran yang bernama Kapal Bambu Restaurant. Ternyata letaknya tak begitu jauh dari penginapan. Kapal Bambu Restaurant ini ternyata merupakan bagian dari Eco-Lodge Bukitlawang.

Tangga menuju lantai dua.

Tangga menuju lantai dua.

Melewati jalan setapak dan semak yang rimbun sampailah kami di tempat yang dimaksud. Eksteriornya menyerupai bentuk kapal yang besar dan megah. Seluruhnya terbuat dari bambu yang memberikan ciri tersendiri. Kami berpandang-pandangan sambil senyum bahagia. Tak sabar mencicipi kopinya.

Ah nyamannya nyantai di sini.

Ah nyamannya nyantai di sini.

Di bagian depan Kapal Bambu Restaurant pengunjung akan disambut dengan coffee bar yang berada di tengah-tengah ruangan. Ada sebuah mesin espresso single head dan automatic grinder yang saya lupa brand-nya apa. Barista yang pagi itu tak terlalu sibuk senang-senang saja saya tanyain ini itu. Dan dari dia saya tahu bahwa Kapal Bambu Restaurant menggunakan Orangutan Coffee yang juga merupakan bagian dan program dari konservasi orangutan di sini.

Another 'lenjeh-lenjeh' time.

Another ‘lenjeh-lenjeh’ time.

Puas berkeliling akhirnya saya memilih menu kopi apa yang mau dipesan. Menu kopi yang tersedia cukup lengkap. Tapi tak ada manual brew methods, semuanya adalah menu kopi espresso base. Lumayanlah mengingat ini adalah tempat minum kopi di ‘tengah hutan’. Ada tempat ngopi yang seperti ini saja rasanya sudah lumayan.

Orangutan Coffee!

Orangutan Coffee!

Teman saya memesan secangkir Americano, iced caffe latte dan saya memesan secangkir hot cappuccino. Sambil menunggu pesanan datang saya melipir ke lantai dua Kapal Bambu Restaurant. Wah ternyata lantai duanya tak kalah keren. Untuk naik ke lantai dua kamu harus melepas alas kaki karena di sini memang disediakan untuk bersantai seperti membaca buku dan melepas lelah. Oh iya, ada juga bantal-bantal dan ayunan.

Americano dari biji Orangutan Coffee.

Americano dari biji Orangutan Coffee.

Sepertinya di lantai dua tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman agar kebersihan dan kenyamanannya terjaga. Dari sini kamu bisa melihat pemandangan hijaunya Bukitlawang sepaket dengan sungainya yang jernih. Damai sekali.

Ngopi paling nikmat memang di alam.

Ngopi paling nikmat memang di alam.

Souvenir orangutan menunggu dibawa pulang.

Souvenir orangutan menunggu dibawa pulang.

Kopi pesanan pun tiba. Rasa hot cappuccino-nya tidak ada yang istimewa meskipun tak buruk rasanya. Saya sudah cukup bersyukur bisa menikmati kopi di Bukitlawang. Sudah sekian lama menanti hadirnya kedai kopi layak dengan pemandangan indah yang tak dapat terelakkan. Teman saya cukup puas dengan Americano-nya. Menurut dia Orangutan Coffee cukup nikmat dan ‘nendang’. Tak cukup beberapa menit Americano pesananya tandas sudah.

Another coffee, everyone!

Another coffee, everyone!

Buat kalian yang ingin mampir ke sini dalam perut lapar? Jangan khawatir karena di menunya saya mengintip banyak sekali pilihan main course mulai dari Indonesian food sampai western food. Sayang saat mampir ke sini saya sudah dalam perut kenyang jadinya hanya sempat mencicipi kopi dan camilan. Kalau ingin bersantai dan membaca buku di sini juga disediakan banyak pilihan buku dari berbagai bahasa. Kamu bisa pilih bukunya dan nyantai di lantai dua. Kalau mau membawa pulang oleh-oleh? Tenang, di sini dijual aneka souvenir bertema orangutan, juga kamu bisa membeli Orangutan Coffee.

Lumpia banana kismis!

Lumpia banana kismis!

Saya sungguh salut dengan arsitek Kapal Bambu Restaurant Lukas Zollinger asal Swiss yang bekerjasama dengan ahli bambu Jerman-Colombia Jörg Stamm. Dengan luar biasa mereka bisa membangun tempat indah yang keseluruhannya dari bambu di tengah hutan hijau Bukitlawang ini. Kini Bukitlawang tak sekedar hutan dan orangutan saja. Tetapi juga kopi, makanan dan tentunya tempat bersantai yang tak habis-habis serunya.

Labuhkan kebutuhan kafeinmu di sini!

Labuhkan kebutuhan kafeinmu di sini!

Kapal Bambu Restaurant

Eco-Lodge Bukitlawang, Bohorok,

Sumatera Utara

Indonesia

PAKET CAFE

13,015 total views, 2 views today

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply