KEDAI KOPI DAN CAMPUR TANGAN MEDIA SOSIAL

Media sosial, katakanlah Instagram, akhir-akhir ini berperan besar dalam menggoda kita untuk mampir ke sebuah kedai kopi baru. Namun benarkah seefektif itu campur tangan media sosial dalam melariskan kedai kopi?

JUJUR saya terlibat dalam urusan menggoda dan tergoda dalam mengunjungi sebuah kedai kopi baru. Di kota tempat saya berdomisili, setidaknya empat kedai kopi baru muncul dalam sebulan. Semuanya menawarkan ragam hal yang menarik. Entah tempat dan suasana, entah keunikan menu dan nikmat rasa, entah karena promo belaka.

Kedai kopi, yang baru khususnya, sangat mampu memukau pelanggan baru dalam segala unggahan di media sosial. Tak heran jika akan sangat jarang kita temui sebuah kedai kopi yang tidak menggaji content creator untuk mempoles wajah media sosialnya. Dan keputusan ini diakui cukup efektif. Media sosial menjadi etalase yang memajang dagangan dalam gambar dan kata-kata yang apik. Lalu tergodalah kita untuk mampir. Iya kan?

Credit : thecorner.eu

Namun, tak jarang kunjungan pertama saya menjadi kunjungan yang terakhir pula. Karena media sosial yang cantik dan dirawat itu ternyata tidak mampu diimbangi oleh kenyataan di lapangan. Mungkin suasana yang ditampilkan sama, namun servis masih kacau. Mungkin foto kopi yang ditampilkan sama, namun rasa sangat berbeda. Kekecewaan muncul karena ekspektasi tinggi. Tidak bisa disalahkan juga media sosialnya, tapi ketidaksiapan kedai itu sendirilah yang salah.

Menurut saya akan sangat percuma jika kedai kopimu wara-wiri di media sosial jika keadaan sebenarnya tidak sememukau itu. Sama halnya seperti kopi-kopi yang viral. Banyak buzzer dan influencer dibayar untuk promosi dan mengakibatkan banyak pihak penasaran untuk mencoba, ya termasuk saya. Tapi pada kenyataannya yang saya alami tidak sama seperti yang digembar-gemborkan. Hal ini akan merugikan kedai kopi itu. Awalnya mungkin laris. Tapi berhenti sampai di situ saja. Selesai. Karam. Bye!

Credit : wecandothisnow.com

Lalu apakah tak perlu strategi promosi, konten yang apik, dan gembar-gembor yang viral? Oh tentu saja perlu. Namun sebelum membuat semua ini dengan begitu meriahnya, alangkah baiknya benahi banyak faktor di kedainya dulu. Benahi rasa, jadi seramai apapun kedaimu rasa akan tetap konsisten. Benahi servis, jadi seriuh apapun kedaimu tidak akan kelabakan dan membuat orang lain menunggu.

Dengan kata lain sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan satu hal dari artikel ini: kedai kopi yang baik bukanlah kedai kopi yang viral lalu terlupakan. Tapi kedai kopi yang siap dari segi apapun lalu berproses pelan namun memiliki pelanggan setia. Setia datang karena memang jatuh hati. Bukan yang mampir karena harga dimiringkan belaka.

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.