KEDAI KOPI SUN YOON LOONG IPOH

Apa yang lebih seksi dari eksistensi dari sebuah kedai kopi yang tak tergerus gelombang? Tak ada. Karena yang bertahan menurut saya yang seksinya istimewa.

IPOH masih sama seperti bertahun lalu saya kunjungi. Ya, mungkin sekarang lebih banyak kedai kopi modern yang tumbuh di sana-sini. Meski kalah popular dengan kota tetangganya Penang, Ipoh senantiasa istimewa dengan ketenangan yang asyik. Di sini tak terlalu riuh oleh turis, kota ini begitu santai. Jauh dari kesan buru-buru yang sibuknya menusuk kadang-kadang.

Meski industri kopi sudah dibawa hingga hampir gelombang ke empat, maka di Ipoh beberapa kedai kopi tetap senantiasa seksi tanpa tersentuh gelombang. Salah satunya adalah kedai kopi yang menyuguhkan kopitiam di kedai-kedai tradisional yang tetap anggun dengan ciri khasnya. Ipoh, seperti diketahui adalah asal muasal tempat white coffee tercipta. Dan kedai kopi yang menyuguhkan white coffee pertama kali di Ipoh adalah Kedai Kopi Sun Yoon Loong.

Saat kami iseng bertanya kepada penduduk sekitar, semua orang serempak menjawab Sun Yoon Loong sebagai tempat ngopi paling otentik. Jika tidak salah sudah hampir 77 tahun mereka berdiri dan hingga kini masih dicintai para penikmat kopi. Bahkan Sun Yoon Loong digadang-gadang menjadi tempat berkembangnya budaya minum kopi di Ipoh. Sang pemilik yang membawa budaya minum kopi dengan mengusung kopitiam yang berciri.

Saat kami mampir, kami langsung jatuh cinta dengan bangunan tuanya. Sun Yoon Loong berada di persimpangan jalan. Gedung putih dengan sentuhan hijau plus jendela besar ala peranakan memberi nostalgia. Serasa tidak berada di era milenial yang mengerikan ini.

Di sini tampaknya tidak ada pengotak-kotakan peminum kopi. Tua-muda tumpah ruah ingin menikmati kopi dan sarapan yang sedap. Kami memesan secangkir kopitiam atau white coffee panas, secangkir es kopi susu dan tentu saja sarapan roti bakar dengan telur setengah matang atau lebih dikenal di sini dengan sebutan dan chi. 

Kopi susu di sini tidak terlalu manis dengan pahit kopi yang begitu dominan. Saya suka kopi susu begini yang jauh dari manis-manis kepalsuan. Halah! Teksurnya tidak terlalu kental dan tidak meninggalkan pahit tidak menyenangkan di pangkal lidah. Sedang es kopi susunya terasa lebih ringan lagi. Saya lebih suka kopi susu panasnya. Sedangkan roti bakarnya terasa jadul sekali. Tekstur roti putih zaman dahulu yang beremah. Ringan dan pas tentunya dengan sang telur setengah matang yang creamy.

Oh iya, di sini juga ada kue-kue yang disajikan tapi karena perjalanan kuliner akan dilanjutkan setelah ini kami menahan diri untuk tidak jajan. Untuk kalian yang ingin menikmati ngopi pagi di sini disarankan untuk datang lebih cepat karena biasanya (terutama di akhir pekan) susah mendapatkan tempat duduk. Tak lucu ‘kan mau ngopi harus ngantri apalagi kita sudah jauh-jauh datang.

Yang membuat senang meski di sini rame, tapi pelayanannya cepat secepat kilat. Kami tak perlu menunggu lama untuk apa-apa yang kami pesan. Terbaik pokoknya! Tapi dari semua pengalaman ngopi di sini, yang paling saya nikmati adalah suasananya. Gedung tua yang anggun, rombongan geng kakek-kakek yang merayakan sisa hidup, pengunjung keluarga yang berbahagia bersama makanan dan kopi enak, hingga para pelayan yang riang gembira.

Kopi seperti ini, meski tak masuk dalam gelombang yang dibicarakan ternyata tetap memberi keistimewaan yang tak setiap hari bisa saya nikmati. Dan Sun Yoon Loong mengajari saya bahwa jadilah diri sendiri meski semesta sudah tak lagi sama.

Kedai Kopi Sin Yoon Loong
15A, Jalan Bandar Timah,
30000 Ipoh, Perak, Malaysia.
Persimpangan Jalan Bandar Timah & Persiaran Bijeh Timah

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.