Coffee News

KOPI BABAH KACAMATA: ROBUSTA RUMAHAN DARI SALATIGA

Kopi Babah Kacamata salatiga sumber google


Kamu termasuk penggemar kopi tua? Selain kopi Aroma dari Bandung, di Salatiga, Jawa Tengah juga sedia juaranya kopi robusta.

ROBUSTA bisa jadi kopi pilihan tepat bagi anda yang suka body dan rasa pahit kuat. Meski pasarnya tidak sebesar arabika, robusta tetap cocok buat ngopi di mana saja.

Bicara soal robusta, ada satu kopi olahan rumah yang punya nama besar di Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah. Kopi satu ini hampir ada di setiap sudut kota. Nama pasarannya: Kopi Babah Kacamata.

8 Maret 2016, saya datang mengunjungi toko dan pabrik rumahannya di Jalan Kalinyamat No. 16, Kutowinangun, Salatiga. Astono sedang duduk di depan beranda toko kopi yang baru saja dia tutup, karena stok hari itu ludes. Astono mengaku baru saja menjual hampir 1 kuintal kopi bubuk dan biji pesanan pelanggan.

“Besok baru bisa pesen lagi,” katanya.

Hampir setiap hari, Astono dan karyawannya sangrai kopi robusta murni yang dipasok dari Pingit, terletak di kawasan antara Ambarawa dengan Magelang, Jawa Tengah. Berapa banyak kopi yang disangrai dalam sehari? Menurut Astono, rata-rata Babah Kacamata menyangrai sampai 1 kuintal.

Pabrik kopi rumahan ini sudah berdiri sejak 1966 di Salatiga. Pertama kali dibuka oleh sepasang suami istri Warsono (Tan Tjun Gwan) dan Lucia Rusmiyati. Astono sebagai anak kini meneruskan usaha orang tuanya itu.

Credit : situs pencari

Credit : situs pencari

Soal sangrai kopi, Astono masih mengikuti metode yang digunakan orang tuanya – menggunakan mesin sangrai bath yang berbentuk seperti tabung, lalu di bawahnya dinyalakan tungku berisi kayu bakar dan api menyala. Tabung itu setelah diisi 20 kg kopi robusta Pingit, lalu diputar oleh mesin di atas tungku api. Sehari, mereka bisa sangrai 5 kali dengan masing-masing kapasitas 20 kg. Setiap hari begitu.

Kopi Babah Kacamata mempunyai tekstur halus seperti kopi bubuk sasetan. Soal grind size ukurannya fine. Karena tekstur dan gilingan yang halus itu, Kopi Babah Kacamata biasa dinikmati dengan cara ditubruk – cara paling cepat menyajikan kopi. Ampasnya pun terhitung sangat lembut, sampai-sampai kadang hampir ikut larut saat meminumnya. Saya pikir, boleh juga kalau dibikin espresso atau turkish coffee? Lebih cocok lagi kalau ampasnya dipakai untuk melukis rokok atau cethe, baru dihisap setelahnya.

Soal resep, Astono mengaku tidak ada resep khusus. Tidak juga seperti kopi Aroma dari pabrik tua di Bandung yang menyimpang kopinya selama 8 tahun. Baginya, yang penting kopi disajikan secara murni tanpa tambahan biji jagung yang lumrah ditemui pada kopi tubruk lainnya. “Kopi itu harus didoakan supaya rasanya enak,” ujar Astono sambil terkekeh. Meski begitu, Astono tidak membolehkan saya masuk ke dapur sangrai kopi.

Sejauh pengetahuan saya, kopi ini biasa dijadikan hidangan rumahan, menu pilihan kopi di beberapa kafe dan restoran di Salatiga. Selain di Kalinyamat, keluarga Astono membuka toko cabang pasar pinggir Jalan Jenderal Sudirman. Toko biasanya buka dari pukul 09.00 hingga 17.30 WIB. Namun hari itu, toko tutup lebih cepat pukul 16.00 karena sedang ramai-ramainya. Beberapa kali terlihat pembeli datang tapi pulang dengan tangan kosong karena stok kopi hari itu sudah ludes.

“Selain orang lokal yang beli. Kadang ada orang-orang bule dari Sekolah Internasional (SI) Salatiga juga beli di sini,” ujar laki-laki berumur setengah baya ini.

Kota Salatiga memang dikenal sebagai kota singgah. Letaknya di dekat Gunung Merbabu dan Merapi membuat Salatiga dikeliling kota besar seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Magelang. Jika anda kebetulan lewat Salatiga, mampir dan cobalah memboyong Kopi Babah Kacamata. Mereka sedia bubuk kopi dalam kemasan 150-1.000 gram. Jika hendak membeli bijian, Astono hanya memperbolehkan minimal 1 kg. Soal harga, masih terjangkau. Harga paling mahal yang dia patok untuk satuan kilogram hanya Rp 65 ribu.

Sebelum pulang, saya memastikan 3 bungkus kopi masing-masing 250 gram berada di genggaman tangan. Tidak sabar buat eksperimen espresso dan turkish coffee pakai Kopi Babah Kacamata!


 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri

 

cari-kopi

4,868 total views, 4 views today

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply