KOPI BIJI SALAK: MENCOBA SENSASI BERBEDA

Eksplorasi rasa memang tak ada habisnya. Apapun bisa diolah dalam berbagai bentuk, termasuk menyulap biji salak menjadi ‘kopi’.

SELAMA ini kita menyebut bahwa kopi umumnya berwarna hitam. Entah kopi yang disangrai light, medium, dan dark, kebanyakan menyebutnya sebagai kopi hitam. Padahal, kopi tidak pernah benar-benar hitam. Warnanya agak coklat karena biji kopi sudah disangrai lebih dulu.

Tapi di Salatiga, kamu bisa menemui kopi yang warnanya benar-benar hitam, pekat, dan lumayan. Bahkan, tingkat kepekatannya di atas dark roasting yang lazim kita temui. Kopi apa? Kopi Biji Salak namanya. Kopi ini diproduksi dan sekaligus dijual oleh Laeli Musyarofah, wirausahawan perempuan di Salatiga, melalui unit usahanya yang bernama Warung Kebun Salak (WKS).

Meski namanya kopi biji salak, tapi kopi tersebut nyatanya tidak mengandung biji kopi sama sekali. Artinya, ini bukan kopi seperti yang kamu bayangkan, melainkan minuman serbuk yang terbuat dari biji buah salak. Laeli menambahkan, istilah “kopi” dipakai lantaran keseluruhan produksi biji salak hingga penyajian dalam bentuk bubuk sama dengan cara pengolahan biji kopi.

salatiga sumber (1)
Kota Salatiga

Mula-mula, seluruh biji buah salak yang dikumpulkan akan melalui proses sortir lebih dulu. Setelah sortir kualitas, kemudian biji salak dijemur sekitar 2 hari. Biji salak yang kering itu disangrai di dalam wajan dan tungku api. Uniknya, sangrai baru selesai jika bubuk (kopi) salak sudah berwarna kehitaman – agak gosong-gosong gitu. Setelah matang, biji kopi salak dihancurkan menggunakan ulekan manual. Tidak ada mesin di sini.

Saat kopinya tersaji di depan mata, saya hanya melongo sambil menghirup aroma yang masih mengepul panas. Aromanya pahit dan gosong. Setelah suhu agak turun –dan aman untuk diminum– saya mulai menyendok air seduhan lalu mengopernya ke dalam mulut. Rasanya? Jelas tidak jauh berbeda dengan aromanya. Sama-sama berasa agak pahit dan dominan gosong. Namun, tingkat keasaman dan kafein tidak ada sama sekali.

Kopi-Biji-Salak
Beginilah penampakan kopi dari biji salak.

Jika kamu tidak begitu suka dengan sensasi pahit tingkat tinggi, kopi salak mungkin bisa membuat mual. Agar rasa kopi biji salak seharga Rp 5 ribu per gelas ini tidak begitu pahit, kamu bisa menambahkannya dengan sesendok teh gula pasir. Untuk harga eceran, Laeli menyediakan kopi biji salak dalam kemasan dengan berbagai ukuran, mulai 100 gram hingga 1 kilogram.

Usaha rumahan ini dirintis Laeli sejak 2015. Di rumahnya yang beralamat Jalan Srikandi, Kelurahan Grogol, Salatiga, ini Laeli mengusahakan pemanfaatan dan produksi makanan  serta minuman berbahan berbahan salak pondoh. Letak rumah produksi sendiri bersebelahan dengan kebun salak yang dimiliki Laeli dengan luas sekitar 800 meter persegi. Jadi, stok salak cukup dipenuhi dengan panen dari kebun sebelah. Stok buah salak juga ia dapat dari beberapa petani dan pengepul salak yang dia kenal. “Jadi tinggal tunggu panen dari kebun sebelah rumah, baru produksi lagi,” ucap Laeli.

Meski rasa dan aromanya nyentrik, rupanya tidak menurunkan jumlah permintaan dari konsumen. Menurut Laeli, konsumennya kini bukan orang Salatiga saja, melainkan dari Semarang, Tegal, dan Yogyakarta.

Kopi biji salak ini tidak memang bukan kopi yang sebagaimana kita kenal. Tapi bisa menjadi alternative jika kamu tertarik mengekplorasi rasa dengan mencampurkan kopi biji salak dengan kopi favorit. Bukan tidak mungkin di masa depan, kopi biji salak dari Salatiga ini akan disebut salah satu minuman kopi.


Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Yulin Masdakaty
Foto-foto diambil dari kompasdotcom (kr:Syahrul Munir), kredit Yanny Abbas

 

cari-kopi

Otten Coffee

Otten Coffee adalah coffee source terbesar dan penyedia alat-alat kopi terlengkap bagi para pencinta kopi Indonesia.

1 Comment
  1. perluasan makna dari minuman kopi, jadi bukan hanya minuman yang berasal dari tanaman kopi saja yang dapat dikatakan “kopi”. bisa jadi bakal ada tambahan/revisi-an kamus besar bahasa indonesia. tapi moga ini jadi kelebihan atau ciri khas dari budaya ngopi di Indonesia sehingga bisa dikenal luas oleh dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published.