KOPI MEMBANTU KITA MENGENAL DIRI SENDIRI

Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menemukan kopi yang benar-benar cocok di tegukan? Selama masa pencarian itu, kamu sedang belajar mengenal diri sendiri.

MENGAPA demikian? Karena kopi adalah ranah paling subjektif. Kopi yang sama bisa diapresiasi dengan cara dan tindakan yang berbeda-beda. Kopi paling nikmat buatmu, bisa menjadi kopi paling keparat buatku. Pun sebaliknya.

Saya sendiri membutuhkan waktu hampir 9 bulan untuk benar-benar menemukan kopi paling sesuai selera. Selama itu pula saya menikmati kopi tak pernah 100% karena ada saja kurangnya.

Credit : cloudfront.net

Selama itu pula saya mengenal diri sendiri. Mengenal kepekaan panca indera. Mencari-cari apa yang sebenarnya saya inginkan. Saat mencicip kopi robusta, tubuh saya bereaksi. Kopi yang memiliki kadar kafein lebih tinggi ini ternyata memberi energi ‘berlebihan’ yang tidak menyenangkan. Debar, cemas dan gelisah. Kemudian saya paham bahwa robusta dan saya tak berjodoh.

Selesai pengenalan diri ini dengan robusta, saya berkenalan dengan kopi-kopi yang disangrai gelap. Lebih gelap dari malam pukul 2. Meski tubuh baik-baik saja saat saya meneguk ini, tetapi lidah tampaknya menolak. Kopi yang disangrai di level gelap terlalu pahit untuk saya. Bahkan setelah dicampur susu rasanya masih tidak 100% tertolong. Akhirnya saya paham bahwa kopi yang disangrai begini memang bukan teman baik saya.

Mencari dan mencari akhirnya saya bertemu dengan kopi-kopi yang berkarakteristik full bodied, earthy, herbs dan semacamnya. Saya bisa menikmati meski belum sepenuh hati. Seperti ada yang tidak ‘kena’ betul.

Credit : hdinetwork.com

Sampai suatu hari kopi-kopi dengan ‘rasa’ buah segar, rasa akhir manis yang panjang dan kompleksitas yang apik tiba. Tubuh, lidah, dan mungkin jiwa seketika bekerja sama menerima sepenuh hati. Saat berkenalan dengan kopi jenis ini saya yakin benar bahwa pencarian saya telah berakhir.

Untuk saya, mencari kopi yang benar-benar sesuai selera adalah sebuah pengenalan lebih dalam kepada diri sendiri. Kita harus mencoba rupa-rupa kopi dan melihat reaksi pada diri sendiri. Karena bagaimana kita tahu kita suka yang ini jika belum mencoba yang itu.

Mungkin tak hanya saya sendiri yang melakukan ini dan merasakan seperti ini. Beberapa dari kalian juga pernah mengalami hal yang sama dan merasa begitu haru saat bertemu teguk sempurna.

Kalau boleh tahu, kopi apa yang benar-benar menjadi seleramu. Coba beri tahu!

 

 

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

4 Comments
  1. kopi arabika yang diproses secara “wine” sedang saya favoritkan akhir-akhir ini, karena menurut saya sangat ringan, meskipun dikonsumsi agak sedikit berlebihan dalam sehari. Kopi yang “perempuan” banget

  2. Mengawali dunia kopi era 3rd wave dengan Robusta Gayo, setelah itu mencoba varian yang lain, Arabica dll, namun kupikir yang kubutuhkan adalah kafein tinggi di Robusta untuk beraktifitas pagi.
    Pun demikian, pernah juga menyeduh robusta dengan kental manis, minuman belum habis, eh jatuh tertidur. Hehe 🙂

  3. Kalau sy lebih suka kopi berkarakter manis dan memiliki aroma buah2an, karakternya juga light profile to medium profile.
    Kalau ada yg butuh kopi winey sy ada banyak, silahkan kontak nomor saya : 082124998962 Philipp. Bisa kirim JABODETABEK. Luar daerah pakai tiki/jne/jnt.

Leave a Reply

Your email address will not be published.