LIPUTAN: SINGLE ORIGIN TRIP KE KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT

Kopi-kopi dari Minang Solok memiliki keistimewaan yang membuatnya menarik, begitu juga perjalanan ke kebun kopinya.

SAAT mobil yang kami sewa berhenti di sebuah pedesaan dekat lereng gunung di daerah Aka Gadang, persisnya di Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok, langit hari itu tampak mendung dan sedikit berkabut. Padahal saat itu masih sekitar tengah hari, setidaknya belum lewat dari pukul dua siang . “Cuaca di sini memang seperti ini. Sebentar panas, sebentar mendung,” kata Pak Zulkifli, seorang Ketua Kelompok Tani bernama Sinar Harapan sekaligus penanggungjawab salah satu Unit Pengolahan Hasil (UPH) yang dibawahi Koperasi Solok Radjo. (Ia merupakan orang pertama yang wajib kami jumpai dalam rangkaian perjalanan single origin kali ini).

Di halaman depan rumah Pak Zulkifli terdapat sebuah drying house, yaitu tempat untuk mengeringkan ceri-ceri kopi yang baru dipanen atau mengolah proses lanjutan dari ceri kopi. Drying house itu tidak terlalu besar, namun cukup membuat saya takjub. Sebuah ‘rumah’ khusus untuk pengeringan dan pengolahan ceri kopi terbilang fasilitas modern, dan fasilitas itu semakin terlihat mutakhir mengingat daerah Aka Gadang berada cukup jauh –sekitar 40-50 km– dari kota Padang dan keberadaan kopi Minang Solok yang terhitung sangat baru di ranah kopi komersil Sumatera. (Single origin dari Minang Solok setidaknya baru populer setelah tahun 2014, cukup terlambat dibandingkan dua saudaranya dari Aceh-Gayo dan Sumatera Utara seperti Sidikalang, Lintong atau Tanah Karo).

Pada perjalanan single origin ke Tanah Karo tahun lalu saya bahkan tidak menemui drying house apapun, apalagi yang berbentuk seperti ini sehingga saya kian penasaran, bagaimana mereka bisa mendapatkannya? “Ini sumbangan dari Bank Indonesia,” jawab Pak Zulkifli. “Fasilitas ini sangat membantu kami para petani dalam memproses biji kopi. Kami ‘kan pekerjaannya tidak diam saja di rumah setiap hari. Kalau sudah selesai menjemur ceri, kami biasanya turun ke ladang sampai seharian. Bagaimana kalau hari itu hujan, dan kami tidak sempat membawa ceri kopi yang dijemur masuk ke rumah? Jadi cerinya rusak dan kami bisa merugi,” ujar Pak Zulkifli lagi. Dua petani yang mendampingi Pak Zulkifli saat itu mengangguk, seolah mengamini bahwa mereka benar-benar mensyukuri keberadaan drying house di desa itu.

Drying house di Aka Gadang.
Drying house di Aka Gadang.

Kami menjenguk ke dalam dan menjumpai ceri-ceri kopi yang sedang ditebar dijemur terpisah menurut proses pengolahannya. Yang paling umum adalah honey process, dan full washed. Serta sebuah hamparan terpal berisi ceri-ceri yang rusak di sudut ruangan. (Saya sering membaca banyak detil tentang honey process dan ceri kopi yang defect, alias cacat. Tapi baru kali inilah saya melihatnya langsung dan tidak sekadar membaca dari buku-buku). Pada honey process, ada lendir—atau mucilage pada istilah kopinya—yang masih melekat saat green bean setengah jadi itu dijemur. Sementara biji kopi yang diproses secara full washed tampak bersih dan mulus.

Biji kopi yang di-honey processed.
Biji kopi yang di-honey processed.
biji kopi yang rusak
Kopi-kopi yang defect.

Pak Zulkifli memanggil agar kami segera bergegas menuju perkebunan kopi Aka Gadang. Rumahnya yang kami singgahi di lereng gunung itu ternyata hanya untuk singgah sebentar, sekadar menjemputnya. Ia menuntun kami melewati jalan kecil di pedesaan menuju perkebunan kopi yang bisa ditempuh sekitar 10 menit saja dengan kendaraan. Kami berhenti tepat di depan sebuah pendapa—yang juga sumbangan dari Bank Indonesia—dan terbuat dari kayu yang tampak kokoh. Pendapa ini sekaligus menjadi tempat pertemuan para petani binaan Kelompok Tani Sinar Harapan dan UPH Aka Gadang, atau tempat menjamu tamu-tamu seperti kami.

Pohon-pohon kopi yang ditanam cukup rapi dan tertata berjejer di sekeliling pendapa. Inilah kebun kopi wilayah Aka Gadang, nagari Simpang Tanjuang nan IV, yang merupakan salah satu daerah penyumbang terbesar kopi-kopi Solok Radjo. Kebun ini berada di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut dan berada di antara perbukitan yang berhawa sejuk. Benar-benar kondisi ideal untuk menanam kopi.

Kebun kopi di Aka Gadang.
Kebun kopi di daerah Aka Gadang. Ketinggiannya berkisar 1400 mdpl.

50% varietas yang ditanam di Aka Gadang adalah Sigararutang, selebihnya didominasi Kartika, dan sisanya varietas lokal. (Varietas lokal “Kopi Arab” begitu mereka menyebutnya). Diantara pepohonan kopi, terdapat tanaman-tanaman hortikultura seperti cabai, bawang, atau umbi-umbian lainnya. “Masa untuk panen kopi biasanya 18 bulan. Kalau sedang tidak dalam masa panen, para petani bingung, apa yang harus mereka lakukan?” (Kami menyimpulkan, “mereka juga butuh penghasilan”). “Maka menanam tanaman-tanaman seperti ini dianggap salah satu solusi. Tapi kalau sedang dalam masa panen seperti sekarang ini, ceri-ceri kopi ini, setiap 15 hari wajib kita petik. Karena kalau tidak, nanti cerinya akan terlalu matang, terus busuk, dan jatuh. Jadinya malah mendatangkan hama. Yang rugi nanti kita sendiri,” ujar Pak Zulkifli.

Namun masa panen tahun ini nyatanya tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Beberapa petani di daerah Aka Gadang—dan di 5 Kecamatan binaan Koperasi Solok Radjo umumnya—menganggap hasil panen mereka tahun ini tergolong sedikit. “Tidak ada panen raya tahun ini. Dua bulan lalu ada musim angin kencang yang merontokkan ceri-ceri kopi, dan membuat pohon jadi rusak. Padahal kalau sedang panen raya, di setiap Kecamatan kita bisa lihat banyak ceri-ceri merah di hampir setiap pohon,” jelas Pak Zulkifli ketika saya menanyakan mengapa tidak ada pohon yang batangnya dilimpahi sekumpulan ceri-ceri merah berwarna menyala dan menggoda—seperti foto-foto yang dijual di ShutterStock.

Pak Zul dan rekan-rekan petani di UPH Aka Gadang.
Pak Zul dan rekan-rekan petani di UPH Aka Gadang.

Keesokan hari saya diberi tahu oleh Teuku yang merupakan Pembina dan staff lapangan Koperasi Solok Radjo bahwa kami masih memiliki harapan: ada satu perkebunan di daerah Koto Baru, di Kecamatan Sungai Pagu di Solok Selatan yang memiliki pohon-pohon kopi bertabur ceri-ceri merah seperti keinginan kami.

Tapi jarak ke Koto Baru tidak dekat. Maka kami harus menginap semalaman di Koperasi Solok Radjo yang letaknya ada di Kenagarian Aie Dingin, Lembah Gumanti.

Aie Dingin benar-benar dingin. “Membekukan,” kata seorang teman yang tidak berani mandi selama 2 hari. (Kelak, beberapa hari kemudian setelah tiba di kota bersinyal bagus, saya memeriksa suhu hawa di daerah ini dan mendapati bahwa Aie Dingin memiliki temperatur rata-rata 15°-17°C).

Salah satu sudut di dalam koperasi.
Salah satu sudut di dalam koperasi.

Koperasi Solok Radjo memiliki fasilitas yang tergolong lengkap. Selain kamar-kamar tempat tamu menginap, mereka juga memiliki ruang khusus untuk menyangrai kopi; ada sebuah mesin roasting produksi dalam negeri bermerek Intan dengan kapasitas 5 kg dan dua mesin home-roasting berukuran sekitar 500 gram, beserta sebuah ruang penyimpanan karung-karung green beans. (Kami akan membahas selengkapnya tentang Koperasi ini di artikel berikutnya).

Di luar halaman Koperasi yang lapang terdapat 2 drying house berukuran sangat besar. Lanskap di dalam drying house Koperasi membuat saya terpukau, bahkan takjub melebihi apa yang telah saya lihat sehari sebelumnya. Biji-biji kopi yang sedang diolah, dijemur di atas raised drying beds, bed dari jaring-jaring di atas tanah, persis seperti proses penjemuran kopi spesialti di negara-negara Afrika atau di perkebunan-perkebunan besar keluarga di Amerika Latin. Nah. Beginilah seharusnya kopi itu diolah.

Drying house
Drying house dan raised drying beds di Koperasi Solok Radjo.

Jika drying house tergolong fasilitas modern, maka raised drying beds di dalam drying house adalah sebuah sarana ultramodern — jangan lupa bahwa kopi Minang Solok adalah “junior” dari kopi-kopi Aceh atau Sumatera Utara.

“Siapa yang mengajari membuat (raised drying beds) ini?” tanya saya, penasaran, kepada Teuku yang sedang membolak-balik green beans. “Tidak ada. Kita gooling saja, cari informasi di internet,” jawab Teuku ringan, meninggalkan saya yang masih terkesima meyakinkan diri berkali-kali dengan jawaban “Googling saja”-nya itu. Teuku mengaduk-aduk biji kopi yang sedang dijemur di atas beds bergantian, sambil sesekali memeriksanya lebih teliti. “Biji kopi ini harus sering-sering dibolak-balik. Kalau tidak, nanti di bawahnya nggak kering,” katanya sambil mengarahkan saya untuk membenamkan telapak tangan ke bawah biji-biji kopi. “Tuh, masih lembab kan?” ia memastikan.

proses-pengolahan-kopi
Teuku, sedang mengontrol biji-biji kopi full washed yang dijemur di atas drying beds.
Biji-biji kopi yang dijemur harus dibolak-balik secara berkala, agar keringnya merata.
Biji-biji kopi yang dijemur harus dibolak-balik secara berkala, agar keringnya merata.

Karena Koperasi Solok Radjo sekaligus berfungsi sebagai pusat dari semua UPH yang ada di Kabupaten Solok maka proses pengolahan biji kopi yang tidak memungkinkan dilakukan di daerah akan dikerjakan di sini. Salah satu yang paling signifikan adalah natural process. Di wilayah-wilayah yang memiliki kelembaban sangat tinggi seperti Aka Gadang dan daerah sekitarnya, diperlukan fasilitas drying house lebih besar yang memerlukan pengawasan teknis secara berkala pula.

Pada saat kami datang, ada dua beds yang sedang melakukan proses natural. Di satu bed, kopi-kopi proses natural yang dijemur sudah mulai berubah warna. “Itu sudah hampir satu minggu,” kata Teuku. Sementara ceri-ceri yang di sebelahnya masih tampak baru.

Umumnya, rangkaian proses natural di tempat ini selesai dalam 2 minggu. Karena jika lebih dari durasi itu, ceri akan mulai berfermentasi, atau berjamur. Pada akhirnya akan memengaruhi rasa dan karakter yang dihasilkan nanti.

Selain proses natural, yang paling umum dilakukan di sini adalah proses full washed atau semi-washed. Proses washed tampaknya cukup populer melihat banyaknya beds yang menjemur kopi-kopi dengan proses ini.

Kopi proses natural yang hampir memasuki seminggu.
Kopi natural processed yang sudah hampir seminggu.
Ceri-ceri natural yang masih baru.
Ceri-ceri natural yang masih baru.
Full washed yang begitu bersih.
Full washed yang sangat bersih.

Berada sekitar 10 menit di dalam drying house ternyata membuat saya gerah dan mulai berkeringat. Padahal sesaat sebelum masuk tadi udaranya masih sejuk. “Panas ya? Di dalam sini memang panas. Kadang suhunya bisa sampai 40°C.” Teuku segera mengerti melihat kami yang mulai mengibaskan tangan. Ia mengajak keluar, karena agenda berikutnya dan tujuan yang sesungguhnya—mengunjungi kebun kopi di Koto Baru—sudah menunggu.

Pengukur suhu yang rusak, barangkali karena suhu di dalam house yang panas.
Pengukur suhu yang rusak, barangkali karena suhu di dalam house yang panas.

Menjelang siang mobil kami melaju meninggalkan nagari Aie Dingin menuju Koto Baru yang berada di Solok Selatan. Jarak antara Aie Dingin ke Koto berkisar 18 km. Namun jalan yang berkelok-kelok mengelilingi area perbukitan, ditambah kondisi aspal yang berlubang di beberapa bagian membuat perjalanan itu menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam. (Pada perjalanan pulang, kami menemui tebing di satu sisi jalan telah longsor total).

Desa Koto Baru yang kami tuju ternyata tersembunyi di balik pegunungan dan lembah-lembah Bukit Barisan. Cuaca yang sebelumnya cerah (saat kami meninggalkan Aie Dingin) kini berubah drastis menjadi gerimis. Langit kembali mendung dan kabut menuruni lereng gunung. “Nah, di sini cuacanya juga setengah-setengah. Pagi cerah, siangnya hujan. Dan bisa begitu terus setiap hari,” jelas Teuku yang masih menemani perjalanan hari itu.

Desa Koto Baru berada di kaki bukit, perkebunan kopinya berada di balik lembah.
Desa Koto Baru berada di kaki bukit, perkebunan kopinya berada di balik lembah.

Mobil yang kami kendarai hanya bisa mengantar sampai ke desa di kaki bukit. Sisa perjalanan menuju ke kebun kopi harus kami lewati dengan trekking dan mendaki perbukitan yang terjal selama sekitar satu setengah jam. Hujan yang masih turun menjadikan jalur setapak menuju perkebunan itu kian lembab dan berlumpur saja.

“Petani-petani di Koto Baru sangat ulet. Mereka menanami kopi, sampai satu bukit,” jelas Uda Adi, Ketua Koperasi Solok Radjo, sesaat sebelum perjalanan ini dimulai. Tampaknya deskripsinya sangat jelas karena kondisi jalur seperti ini umumnya saya temui pada saat trekking atau mendaki gunung—bukan ke kebun kopi. Makin ke atas, kontur tanahnya semakin miring dan terjal. Juga licin. (Beberapa kali kami harus membersihkan sol sepatu dari lumpur tebal).

Salah satu trek menuju kebun kopi—yang “termudah”.

Satu setengah jam melewati trek antah berantah rasanya terbayarkan begitu kami menjumpai ceri-ceri merah yang mulai bermunculan dan mengintip malu-malu dari balik ranting. Beberapa petani tampak sedang memanen ceri-ceri kopi berwarna merah dan segar.

cherry-cherry-kopi-yang-siap-dipanen
Ceri-ceri kopi di kebun Koto Baru yang siap dipanen.

Perkebunan kopi di Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Solok Selatan berada di antara lembah, tepatnya pada ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut. (Masuk akal jika mengingat bagaimana susahnya kami mendaki kebun ini tadi). Tidak seperti perkebunan kopi kebanyakan, di daerah ini pohon-pohon kopi ditanam di atas lereng yang miring dan cukup curam.

Karena berada dekat sekali dengan pegunungan Bukit Barisan, wilayah ini memiliki suhu yang cukup dingin dan tanah yang sangat subur. Kombinasi antara elevasi, suhu dan kandungan tanah yang sangat baik membuatnya benar-benar daerah sempurna untuk menanam kopi. (Ibu Nur, salah satu petani yang tergabung dalam Koperasi Solok Radjo dan kopinya pernah mendapat mention khusus di film Ada Apa Dengan Cinta 2, bahkan mengaku jika ia tidak memberi apa-apa, termasuk pupuk, kepada pohon-pohon kopinya).

Panorama kebun kopi di Koto Baru. (Bukan, bukan. Itu bukan Menteri Pertanian).
Panorama kebun kopi di Koto Baru yang berada di ketinggian 1600 mdpl. (Bukan, bukan. Itu bukan Menteri Pertanian).

50% varietas yang ditanam di Koto Baru adalah jenis Kartika, selebihnya didominasi Sigararutang, dan sisanya varietas lokal. “Petani-petani di Koto Baru ini kan sangat ulet, mereka suka menanami kopi sampai satu bukit. Tapi kendalanya, mereka kekurangan bibit. Sementara yang tersedia dari Dinas Pertanian hanya sekitar 70-80 ribu batang saja. Ndak cukup. Jadi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, para petani ini membibitkan sendiri. Mereka cangkok dari batang, lalu tanam sendiri,” jelas Adi. Tidak heran jika keuletan para petani Koto Baru menjadikan mereka salah satu pemasok terbesar kopi-kopi single origin Solok Radjo.

Meski banyak UPH di Solok tergolong kekurangan panen tahun ini, namun Koto Baru tampaknya adalah pengecualian. Ceri-ceri merah kerap ditemui di hampir seluruh pepohonan kopi di sini dan membuat kami —yang selama ini hanya bisa menikmati ceri-ceri merah nan menggiurkan lewat foto beresolusi tinggi— bergirang.

petani-kopi-memanen-kopi
Para petani di Kota Baru sedang memanen kopi.
Hanya ceri merah sajalah yang dipetik.
Hanya ceri merah sajalah yang dipetik.

Ceri-ceri merah yang telah dipetik umumnya akan dikumpulkan di sebuah pondok di atas bukit. Uda Anto, seorang petani di perkebunan ini, mengundang kami menjenguk pondok kecil nan eksotis itu. Di dalamnya telah ada beberapa karung penuh berisi ceri-ceri merah segar yang tampaknya hasil panen hari itu. Oh gosh! Ini kan ceri-ceri menggoda yang fotonya sering dijual di stock photography itu! 

Setelah ceri-ceri dipetik manual dengan tangan, dikumpulkan ke dalam karung, maka fase berikutnya adalah dibawa dan diolah ke UPH yang berada di kaki bukit. Umumnya karung-karung berat berisi ceri-ceri ini akan dibawa dengan dijunjung di atas kepala, sambil menuruni lereng yang terjal. (Saya pikir, inilah satu lagi fasilitas yang dibutuhkan para petani. Sesuatu, semacam alat praktis, untuk membantu mereka membawa turun hasil panen yang beratnya berkilo-kilo itu).

petani-kopi-dan-cherry-kopi
Uda Anto dan ceri-ceri merah yang siap dikumpulkan ke karung.
Ceri-ceri kopi yang menggoda.
Ceri-ceri kopi yang merahnya menggoda.

Pada akhirnya, perjalanan kopi ke Kabupaten Solok ini begitu istimewa dan menarik. Seperti kesimpulan sehabis mengunjungi kebun kopi yang lalu-lalu, melihat perjalanan kopi yang begitu panjang ini (beberapa diantaranya bahkan harus melewati perjuangan yang tidak gampang), maka sudah sepantasnya jika kopi dihargai dan diapresiasi tinggi. Bukan hanya mengapresiasi harganya, tapi juga kopi itu sendiri. Karena kita bukan hanya membayar kopi sebagai sebuah komoditi, tapi juga kerja keras dari para petani.

bersama-koperasi-solok-rajo-dan-rimbun-coffee
Bersama tim dari Rimbun Coffee dan Koperasi Solok Radjo.

Sampai bertemu di perjalanan single origin berikutnya! 🙂


Terima kasih kepada Rimbun Coffee (Allan Arthur dan Noverdy), Koperasi Solok Radjo (Uda Adi dan Teuku), dan segenap para petani di Kabupaten Solok yang membantu selama perjalanan single origin ini.

 

single-origin kopi

1,119 total views, 154 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

5 Comments
  1. “Tidak ada panen raya tahun ini. Dua bulan lalu ada musim angin kencang yang merontokkan ceri-ceri kopi, dan membuat pohon jadi rusak. Padahal kalau sedang panen raya, di setiap Kecamatan kita bisa lihat banyak ceri-ceri merah di hampir setiap pohon,”

    mungkin bisa dibantu menempatkan 1 atau 2 sarang lebah, krn dengan mendekatkan sarang lebah ke areal perkebunan, bisa mengurangi jarak tempuh para lebah di areal yg tinggi dengan kecepatan angin yg lumayan kencang

Leave a Reply

Your email address will not be published.