MEMINIMALISIR KEKECEWAAN DI KEDAI KOPI BARU

Hidup tak lepas dari rasa kecewa. Dan kopi, secinta dan secandu apapun kita padanya, tetap saja di suatu waktu dia mampu memberi kecewa.

PERIHAL kekecewaan ini sering terjadi di saat saya bertandang ke sebuah kedai kopi baru. Memang tidak semua kedai kopi baru menuai kekecewaan. Ya kira-kira skala kecewanya mungkin 1:10. 1 kedai menuai kecewa dari 10 kedai yang memberi bahagia. Begitulah kira-kira.

Mungkin kamu penasaran kenapa kedai kopi baru bisa mengecewakan. Kawan, namanya baru, tentu masih banyak ‘bocor’ di sana-sini. Entah perihal rasa kopi, atau pelayanan dan servis yang masih awur-awuran. Sialnya, karena silau pukau media sosial, kita sering menggantung ekspektasi terlampau tinggi sehingga terhempas kecewa begitu besar.

Credit : pinimg.com

Contohnya kira-kira begini, sebuah kedai kopi baru buka yang tampak indah biasanya kerap wara-wiri di linimasa kita. Kita pun terpukau dan tergerak ke sana. Padahal unggahan hanya permukaan yang menutup banyak kekurangan. Agar tidak kecewa, akhirnya saya memiliki tips sederhana meminimalisir kekecewaan perihal kedai kopi  ini.

Pertama, menjelajahi akun media sosial kedai yang bersangkutan. Tidak hanya dari uanggahan dia saja, tapi dari ‘tag’ orang lain. Lihat dan baca komentarnya. Jika rajin kirimkan pesan langsung dan tanya-tanya. Setidaknya saya bisa menilai ‘keramahan’ awal kedai kopi dari admin akunnya. Hospitality harus dimulai bahkan saat kita belum mampir ke kedainya.

Kedua, tentu tanya teman-teman yang sudah pernah ke sana. Testimoni mereka yang pernah mampir tentu lumayan bisa dipercaya. Meskipun pada praktiknya pengalaman orang lain bisa berbeda dengan pengalaman kita. Tapi setidaknya kita bisa tahu perihal rasa, suasana, harga, dan lain-lain dari pengalaman orang tersebut, bukan?

Ketiga, jangan cepat terpukau oleh unggahan orang lain. Terkadang seorang influencer yang mengunggah foto di kedai kopi itu tampak begitu memukau. Serta-merta kita ingin merasakan keseruan yang sama. Padahal mungkin bisa saja sepotong temboknya saja yang indah. Atau sudut tertentu yang memang ditunggu hingga sepi oleh sang influencer, padahal aslinya kedai itu ramai. Atau para endorser yang dibayar untuk mengatakan kopinya enak, padahal pada saat di sana dia pesannya cokelat. Who knows? 

Credit : winningpitch.net

Keempat, yakinkan diri kamu bahwa tak ada yang sempurna. Seperti manusia yang kurangnya banyak, kedai kopi pun demikian. Rendahkan ekspektasi dan yakinkan hati bahwa tujuan kamu ke kedai kopi ini bukan untuk mencari kesempurnaan tapi menikmati kopi dari beragam aspek. Ingat, kecewa datang dari ekspektasi yang ketinggian. Dan kedai kopi baru umumnya masih berproses dan kamu harus memberikan maklum yang besar itu.

Karena kawan, kemunculan kedai-kedai kopi baru adalah pertanda bahwa industri kopi kita bertumbuh dengan sehat. Jadi rayakanlah dengan suka cita!

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.