MENCERUP SEJARAH DI CAFÉ KOK TONG SIANTAR

Mampir di kedai yang disebut-sebut sebagai salah satu legendaris di Indonesia.

KEDAI kopi Kok Tong di Siantar sebetulnya sudah tidak terlalu asing. Selain karena kedai kopi ini banyak diliput oleh berbagai media bersegmen jalan-jalan, Kok Tong di Siantar juga sering disinggahi oleh mereka yang ingin bernostalgia dengan sejarah. Meski kedai ini tidak ‘asing’, tapi sejujurnya saya juga belum pernah menyinggahinya. Lol. Padahal jarak dari Medan ke Siantar cuma 3 jam—lebih dikit kalau macet.

Kesempatan mampir ke Kedai Kong Tong di Siantar ini pun kesampaian, itu juga karena kebetulan saya jalan-jalan bersama sekelompok fotografer yang sengaja ingin singgah untuk jeda setelah berburu di Danau Toba. Wah! Pucuk dicinta, ulam tiba.

suasana-luar-kedai-kok-tong
Ada anak muda yang nongkrong juga.

Kedai Kopi Kok Tong di Siantar berada di persimpangan Jalan Wahidin dan Jalan Cipto yang tampaknya merupakan area untuk nongkrong. Ada cukup banyak kedai kopi dan café sederhana lain yang juga berada di kawasan ini. Tapi kedai kopi Kok Tong sedikit lebih mencolok dari semuanya karena kedai itu selalu tampak ramai dan isinya full. Beruntung kami masih dapat tempat duduk di bagian dalam.

Meski (katanya) tua, tapi jika dilihat dari luar, justru tidak ada tanda-tanda bahwa kedai ini sebetulnya sudah berusia 91 tahun. Bangunannya lumayan modern, kursi dan meja-mejanya juga tidak berdesain ala masa lalu. Pernah direnovasi beberapa kali barangkali adalah alasan mengapa kedai ini tidak terkesan terlalu klasik lagi—jika dilihat dari luar. Dan barangkali karena mereka juga ingin merangkul pelanggan anak-anak muda sehingga memperbaharui bangunannya sedemikian rupa. Anggapan terakhir saya tangkap karena melihat beberapa kelompok anak muda sedang nongkrong di sepanjang teras depan.

kok-tong-yang-ramai
Kedai yang ramai.

Saya pikir kedai kopi ini akan menyediakan menu-menu berat seperti nasi atau mie-miean juga (seperti lazimnya franchise mereka di luar kota). Tapi ajaibnya justru menu itu tidak ada. Belakangan saya tahu bahwa kedai kopi Kok Tong di Siantar ini sama sekali tidak sama dengan Kok Tong-Kok Tong lain, namanya juga “diganti” menjadi Café Massa Kok Tong. Kedai Kok Tong di Siantar ini hanya menyediakan minuman dan camilan. Standar kedai kopi seharusnya.

Hanya ada dua menu kopi di sini, kopi hitam dan kopi susu. Dua-duanya kemudian divariasikan lagi, panas atau dingin. Saya memesan kopi susu panas saja dan bakpau. Kopi saya datang dalam cangkir porselen yang disablon ‘Kok Tong Since 1925’, semakin mempertegas bahwa mereka memang bukan kedai kopi yang lahir kemarin sore.

Beberapa catatan menyebut bahwa kedai kopi Kok Tong di Siantar ini memang sudah berdiri sejak tahun 1925. Pendiri pertamanya adalah Lim Tee Kee, seorang perantau dari Tiongkok. Konon, untuk membuat kopinya, Lim Tee Kee melakukan semua prosesnya sendiri. Mulai dari memilah hanya biji kopi terbaik, menyangrai, meracik sampai menyeduh. Histori ini sedikit mengingatkan saya akan kisah Daibo di Jepang yang melakukan proses serupa.

Nama Kok Tong diambil dari nama anak Lim Tee Kee, yaitu Lim Kok Tong yang mulai mengambil estafet usaha kedai kopi ini di tahun 1978. Dan setelahnya, saat ini kedai kopi ini dijalankan oleh generasi ketiga keluarga mereka, yaitu Paimin Halim atau yang akrab dipanggil (ko) Aktiong.

kopi
Kopi susu dan bakpau pesanan saya. Ada buih di permukaan minuman kopi yang setidaknya menandakan itu segar.
Kopi dan roti, kalau tidak suka bakpau. :D
Kopi dan roti, kalau tidak suka bakpau. 😀

Setelah mencoba, ternyata kopinya nikmat, bakpaunya juga enak. Meski kopi susunya sudah diaduk, tidak terlihat lagi layer antara kopi dan susu tapi rasanya segar. Manis tapi tidak berlebihan, rasanya seperti menyesap nostalgia dari kedai kopi tua.

Penasaran saya main-main ke belakang ‘bar’ mereka. Ternyata kedai kopi Kok Tong ini masih mempertahankan budaya alat dan cara seduh kopi tradisional mereka. Oke, dari luar boleh tampak muda, tapi di dalamnya mereka masih tetap lawas ternyata. Seorang pria yang kelihatan mendekati separuh baya tampak menyeduh kopi dengan “nel drip” yang sudah pekat. Tidak ada mesin kopi, hanya peralatan-peralatan manual yang itu pun terlihat cukup klasik. Jadi para coffee snob tolong jangan mengharap menu-menu canggih seperti latte atau cappucino (apalagi yang diracik maha sempurna) di sini.

kopi-kok-tong-2
Alat seduh klasik. :p
kopi-di-kok-tong-siantar
Menyeduh dengan teko dan “nel drip” yang klasik.
bar-kok-tong
Bagian “bar”-nya.

Meski legendaris, namun menu-menu yang dibandrol di kedai kopi Kok Tong Siantar sangat terjangkau. Cuma 10 sampai 12 ribuan. Nama besar, harga yang ramah di kantong dan rasa yang membuat senyum terkembang, menurut saya itu adalah kombinasi yang membuat kedai kopi ini selalu ramai.

Café Massa Kok Tong
Persimpangan Jalan Wahidin dan Jalan Cipto
Jam buka: Setiap hari, dari 7 pagi sampai 9/10 malam.

 

manual brew

 

2,879 total views, 2 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.