MENELISIK KEBUN KOPI DI TORAJA

Segala yang bagus seringkali membutuhkan perjuangan, begitu pula dengan kopi Toraja dan perjalanan menuju kebunnya.

WILAYAH timur Indonesia kerap menyimpan daya tarik dalam segala hal yang bisa disebutkan. Pemandangan, kebudayaan, apa saja, termasuk kopi-kopinya yang sedari dulu merupakan salah satu idola. Rasanya ajaib, beberapa menganggap kopi-kopi dari timur Indonesia menyerupai karakter kopi-kopi Afrika karena kecenderungannya yang manis dan ‘lebih buah’. Kopi Toraja masuk ke dalam daftar itu.

Ada satu peringatan yang sempat dilontarkan teman saya—orang Sulawesi—sebelum mendatangi kebun kopi di Toraja. “Kalian naik mobil apa? Jalan ke Toraja tuh parah. Kalau siang kadang suka hujan, dan hujannya deras banget.” Peringatan itu saya anggap sambil lalu karena berpikir paling keras hanya trekking, atau diselingi sedikit hiking—seperti di Solok tempo hari. (Di kemudian hari saya agak membenarkan perkataan teman saya ini untuk keadaan lapangannya).

Dari kota Medan, saya dan tiga teman lainnya dari Otten Coffee harus menempuh total 7 jam penerbangan ke Makassar, lalu dilanjutkan perjalanan darat dengan bus dari Makassar menuju kota kecil Rantepao di Toraja Utara selama 8 jam lagi. Perjalanan yang cukup panjang ini membuat saya menjadi sedikit melodramatis karena kian menyadari bahwa Indonesia ternyata benar-benar begitu luas dan besar. Selama ini, jujur saja, hamparan jarak itu tidak pernah terbayangkan karena selisih dari Sumatera ke Papua seolah terlihat remeh dengan meletakkan jengkal di atas peta buku atlas.

Kebun-kebun kopi di Toraja cenderung berada di daerah lembah.

Kedatangan kami di Rantepao disambut oleh Ibu Liling Toding Allo, seorang prosesor dan rekanan petani di Toraja, dan Bapak Ayub Pairunan, suaminya, yang selama ini hanya terkoneksi melalui dunia maya. Mereka bersikukuh untuk menjamu kami dulu, beralasan bahwa makanan sudah disiapkan, sebelum mengantarkan kami berkeliling kota Rantepao. Perlakuan manis Ibu Liling dan Pak Ayub ini seolah makin menguatkan anggapan “makin ke timur, orang-orangnya makin ramah” saja.

Kota Rantepao adalah persinggahan yang menengahi dua daerah terkenal penghasil kopi di Toraja, yaitu Sapan di kabupaten Toraja Utara dan Pango-pango di kabupaten Tana Toraja. Dari Rantepao, kita bisa mengakses (dan kalau naik ke gedung yang lebih tinggi bisa melihat) dua desa pemasok utama kopi Toraja yang berada di area perbukitan, yaitu desa Sapan di kaki bukit yang memiliki ketinggian sekitar 900-1600 mdpl, dan Pulu-pulu yang berada di atasnya. Desa terakhir ini sedikit menarik perhatian saya, bukan hanya karena ketinggian desanya yang konon bisa mencapai 2100 mdpl tapi juga karakter kopinya yang tak biasa. Saya berkenalan pertama kali dengan kopi dari Pulu-pulu saat berkunjung ke Coffeewar milik Derby Sumule yang asli orang Toraja beberapa tahun lalu. Origin ini menggelitik penasaran saya karena selama ini saya tahunya kopi Toraja itu ya dari Sapan.

Saya bertanya tentang kemungkinan mengunjungi kebun kopi di desa ini pada Ibu Liling yang dijawab dengan hening dahulu selama sekian detik. “Tidak bisa kalau naik mobil (jenis MPV seperti yang kami kendarai—red) ini. Jalannya endak bagus, harus pake offroad ke sana,” jawab Ibu Liling. “Minggu lalu Bapak baru dari sana, naek mobil berat. Itu pun susah jalannya,” tambahnya lagi sambil menunjuk Pak Ayub. “Wah saya naek mobil offroad itu, cuma dua ban depannya saja yang maju. Ban belakangnya tidak mau gerak,” ucap Pak Ayub sambil tergelak. Ia menjelaskan bahwa kondisi jalur ke Pulu-pulu seringkali masih berbentuk jalan bebatuan dan belum diaspal. Karena letak desanya yang tinggi di atas perbukitan maka seringkali pula kita akan melewati lembah dan jurang di kiri kanan jalan. Jika baru turun hujan maka keadaan rutenya bisa lebih parah. “Tapi kalau kalian mau ke sana, tidak apa-apa,” kata Pak Ayub. Teman-teman saya spontan menjawab tidak secara bersamaan karena cemas duluan membayangkan medannya ditambah keterbatasan waktu yang kami miliki sehingga kali ini tampaknya saya harus merelakan keinginan itu.

Kebun kopi di Toraja.
Gabah kopi Toraja.

Saat kami tiba di Rantepao ternyata bertepatan dengan masa panen yang baru saja selesai. Meski telah mengitari beberapa area di Toraja Utara, kami tidak lagi menemukan ceri-ceri merah yang tersisa di pohon-pohon kopi sehingga kami yang sedari Medan sudah berniat memburu footage ceri-ceri yang warnanya merekah itu harus mencari jalan keluar. Sayang, kalau tak dapat. Sudah datang jauh-jauh.

Ibu Liling kemudian mengarahkan kami untuk menuju Pango-pango di kabupaten Tana Toraja dan menemui Pak Dadi Parapean, salah satu rekanan petaninya di sana. Pak Dadi tinggal di Makale, kota kecil di bawah perbukitan Pango-pango sekitar 2 jam dari Rantepao. Karena letak kebun di Pango-pango cenderung tinggi, maka kemungkinan masa panen di sana belum selesai. (Saya harus menuliskan segala kerepotan ini karena itu adalah bagian dari perjuangan yang harus kami lewati).

Karakter topografis Toraja cenderung bergunung-gunung dan berbukit-bukit. Inilah sebabnya mengapa lokasi pengolahan dan penanaman kopi di sana umumnya dilakukan di dua tempat berbeda yang memiliki perbedaan ketinggian yang cukup signifikan pula. Misalnya, perkebunan kopi di Sapan berada di area perbukitan yang memiliki ketinggian di atas 1100 mdpl, tapi mengingat kondisi cuaca yang kadang tidak mendukung proses pasca panen dan fasilitas pengolahan di desa itu belum memadai, maka segala bentuk pengolahan harus dilakukan di tempat berbeda, misalnya di Rantepao yang memiliki ketinggian “hanya” 700-900 mdpl saja. Sementara jarak antara Rantepao dan Sapan hanya berselang 30 – 45 menit saja jika ditempuh dengan kendaraan. Tidak terlalu jauh.

Begitu pula dengan Makale dan Pango-pango. Dari kota Makale, Pak Dadi kemudian membawa kami menuju kebunnya. Memasuki kawasan perbukitan Pango-pango, jalanan yang harus dilewati mulai menantang. Selama setengah jam penuh mobil MPV yang kami tumpangi terus menanjak naik, tanpa sekalipun melalui jalan datar, sambil diiringi manuver beberapa kali. Entah karena kondisi jalanan yang rusak berlubang, atau melalui tikungan dengan kemiringan cukup ekstrem sehingga membutuhkan sedikit keahlian pengemudinya. Untungnya saat itu kami bersama pengemudi rekomendasi Ibu Liling yang sudah terbiasa membawa tamu-tamu ke kebun kopi di Toraja.

Kebun kopi dengan latar belakang pemandangan pegunungan Toraja yang indah.
Trek yang harus dilalui untuk sampai di kebun.
Menuruni jalur dengan kemiringan yang aduhai.

Setelah hampir 1 jam terus menanjak, akhirnya kami berhenti di sebuah ujung jalan setapak di sisi bukit. “Dari sini, kita harus jalan kaki. Bisa kan?” tanya Pak Dadi yang beberapa saat berikutnya baru saya mengerti apa maksudnya. Jalan kaki yang dimaksud Pak Dadi adalah trekking. Seperti naik gunung betulan karena jalur yang kami lewati kebanyakan adalah jalan bebatuan, berkelok-kelok, dan terus mendaki selama hampir 45 menit. Setibanya di puncak bukit, Pak Dadi berhenti. “Itu kebunnya!” ia menunjuk area pohon-pohon kopi di bagian lembah. Cantik sekali. Terutama ditambah latar belakang pemandangan pegunungan Toraja di kejauhan. Untuk sejenak, segala penat dan lelah seolah terbayarkan dan lepas dari pundak melihat keindahan itu sebelum Pak Dadi berujar kembali. “Yuk, turun!” katanya.

Kami serentak melongo. “Maksudnya, Pak?” tanya kami. “Turun, dari sini.” Pak Dadi menunjuk jalan setapak kecil dan curam di bawahnya yang bagi saya terlihat seperti jalur shelter 4 di Gunung Sinabung. Kemiringan tanahnya berkisar 70°-80°, terjal, dan saya tidak sedang bercanda karena dua teman saya terpaksa harus ngesot untuk menuruni jalur ini menuju kebun kopi di bagian lembah.

Saya memeriksa aplikasi pendeteksi ketinggian di layar ponsel. Perkebunan yang masuk ke dalam area Desa Santung, kabupaten Tana Toraja ini sudah berada di ketinggian 1600an mdpl dan elevasinya bisa mencapai hingga 1800an mdpl di perbukitan sebelahnya.

Ceri-ceri merah siap dipanen.
Pak Dadi mengumpulkan ceri-ceri merah.

Karena letaknya benar-benar berada di bukit yang miring, bukan di area menyerupai bukit, pohon-pohon kopi di sini pun ditanam di atas permukaan yang tidak rata. Seringkali satu kaki saya harus bertumpu di ranting pohon yang sedikit tebal untuk menopang dan satu kaki lainnya di tanah sembari berpegangan pada pohon lainnya saat mengambil foto Pak Dadi yang sedang memanen ceri.

Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, iklim mikro khas dataran tinggi membuat proses pematangan ceri di area ini menjadi lebih lambat dan karenanya memberi kesempatan pula bagi kami untuk memburu proses panen dengan ceri-ceri yang warnanya merah merekah itu. Saya membayangkan betapa nikmatnya kopi-kopi yang ditanam dengan kondisi sangat ideal seperti ini, apalagi menurut Pak Dadi dan Pak Joni, petani yang juga kami temui di sini, mereka sama sekali tidak menggunakan fertilizer apapun apalagi pupuk kimia (yang harganya cukup lumayan), untuk pohon-pohon kopinya. Sebaliknya mereka hanya menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing peliharaan Pak Joni.

Namun, mirisnya, kondisi ideal penanaman kopi dan karakter rasa yang seharusnya bagus ini tidak dibarengi dengan harga yang adil dan bantuan apapun, baik dari swasta atau pemerintah. Menurut Pak Dadi dan Pak Joni, gabah yang mereka jual hanya dihargai sekitar 12 ribu per liter. Saya mengulangi pertanyaan harga gabah yang mereka jual pada Pak Dadi untuk meyakinkan. Pak Dadi masih memberikan jawaban yang sama. “Dua belas ribu,” dengan ekspresi datar. Entah karena hal itu sudah biasa, atau tidak tahu lagi harus bagaimana. (Trian, Juara Indonesia Cup Tasters Championship 2019, saat saya bertemu dengannya di Makassar bahkan menambahkan, “Itu udah bagus harganya. Di tempat lain, kadang bisa 9 ribu per liter.”)

Saya menelan getir dalam hati. Angka 12 ribu adalah harga jual paling rendah yang pernah saya temui di daerah-daerah produksi kopi manapun di Indonesia sejauh ini. Terutama karena membayangkan perjuangan berat yang harus kami lalui saat akan ke kebun ini tadi. Ditambah bayangan akan kerja keras yang harus dilakukan petani untuk mengusahakan kopinya dengan keadaan lahan yang rumit seperti ini, tentu angka itu bukan harga yang adil. Tapi saya bisa apa?

Pak Dadi dan Pak Joni, petani di Toraja.
Bersama Pak Ayub dan Ibu Liling, prosesor kopi di Toraja. Tampak perbukitan Sapan dan Pulu-pulu di belakang kami.

Saya iseng bertanya pada Pak Dadi dan Pak Joni, kira-kira apa harapan mereka sebagai petani kopi di masa depan. “Harapannya lebih sejahtera. Ada bantuan dari pemerintah, macam bantuan pupuk atau alat babat. Kalau bisa, harga kopi juga naik,” ujar mereka.

Semoga harapan ini bisa didengar dan terwujud di masa depan. Sejahtera para petani kopi di Indonesia! Sampai bertemu lagi di origin trip berikutnya.

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

5 Comments
  1. astaga 12rb — gak masuk akal negaraku +62. Sampai dicangkir saya bisa 50rb itu. Gimana mau maju dengan berbagai teknologi .. ceri masih dihargai segitu.

  2. Mantap perjalanannya, saya setuju kalau Saudara kita di Indonesia Timur ramah-ramah
    Semoga nasib petani kopinya semakin sejahtera

  3. Disekitar. Perkebunan kopi pango pango. Adalah hutan lindung. Tumbuh pohon2 pinus milik pemda Di pango2 dibikin kebun masyarakat baru 4 tahun pengepul hanya 2 orang bernama dedi alias pong Elin mungkin pong elin ini petani dn pengepul .
    Disekitar pango -pango papa Elin dihargai 19 ribu / liter ke pengepul gabah yg datang disitu .Menurut info dari kenalan disana petani disana satu rumpun memamfaatkan hutan linfung dan Hanya 2 orang bersaudara yaitu pong Elin dan kakaknya yang pengepul disana pengepul lain tidak boleh masuk itu yg kita dengar

    Yang kami lihat saat itu. Ada yg ambil 500 liter kepapa elin setau saya beliau pengepul kopi pango2 dan kopi silanan Tana Toraja .

    Saya salah satu penikmat kopi Toraja jadi tau rasa lopi setiap desa di Toraja Utara dan Tana Toraja .Saya sedang belajar ke kopi pango pango petik merah tetapi hasil greenbeannya saya lihat ditetangga banyak putih seperti kopi petik mudah defecnya cukup banyak iini bibit hasil budidaya dari bibit kopi arabica jember. Diroasting medium banyak kelihatan yang tdk bagus rasa kopnya i sapan dan pulu pulu dari Toraja Utara beda jauh mungkin tanahnya dan varitasnya beda .arabica sapan dn pulu puli asli yg dibufdidayakan masyarakat dari kopi asli secara turun temurun .

    Sayapun pernah mencoba membeli cerry 4 liter 100 ribu kepetani pango pango untuk mengisi cafe saya utuk test sensory sebelumnya direndam untuk melihat defec kopi pango pango ternyata chery merahnya banyak melayang yg tenggelam sisa sedikit hasil greenbeannyapun putih diroasting medium tersenfiri warnanya kuning tidak tau apa penyebabnya cerry kelihatan merah tetapi greenbeannya rusak .

    Mengenai perhatian dari pemda setempat di Tana Toraja tidak mungkin tidak diperhatikan , mereka diberi lahan hutan lindung bibitpun pemda yg siapkan dengan segala peralatan kalau pupuk dihimbau untuk tidak banyak mengunakan kare a tanah di Toraja dikenal subur pemda selalu membuat acara di lokasi pango pango disekitarnya tumbuh pohon pinus dan pohon kayu lainnya milik pemda yg harus dijaga petani tidak boleh menebang itulah perjanjian pemerintah setempat dengan petani kopi pango pango yang saya dengar dari salah satu petani waktu saya antarkan tamu dari Jerman ke lokasi kebun pango pango .

    Hanya sekedar meluruskan info dari narasumber yang otten wawancarai terima kasih otten sudah berkunjung ke Toraja …🙏

    1. Pak Dadi yang kami temui itu adalah Pong Elin sendiri, Pak. (Karena anaknya bernama Elin). Dan kakaknya yang tinggal di perbukitan Pango-pango itu adalah Pak Joni. (Pak Joni ini cenderung polos dan kurang lancar berbahasa Indonesia, jadi komunikasi dengan beliau kebanyakan dibantu adiknya, Pak Dadi). Informasi harga di bawah 19rb itu yang memberikan adalah Pak Dadi langsung, Pak. Bukan kata orang. Dan data ini diperkuat lagi dengan informasi beberapa teman roastery yang saya temui di Makassar, atau luar Toraja, yang pernah bertransaksi dengan petani di Toraja.
      Mungkin memang ada kesalahpahaman informasi di sini, Pak. Dan terima kasih untuk tambahan infonya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.