MENGAPA INDONESIA BISA PIMPIN PASAR KOPI INTERNASIONAL?

Kamu termasuk salah satu orang yang bergelut di dunia bisnis kopi? Kembangkan bisnismu selagi trennya masih menggelora di Indonesia.

SOAL kopi, Indonesia salah satu jawaranya. Bukan tanpa sebab, akumulasi luas wilayah perkebunan kopi daerah tropis di Indonesia yang mencapai 1,3 juta hektare per 2014, merupakan modal cukup dalam menciptakan ragam varietas kopi. Wilayah sebanyak itu membuat Indonesia menjadi negara dengan luas perkebunan kopi terbesar sedunia, disusul Brasil dengan 650 ha dan Vietnam 420 ha.

Luas itu, berdasarkan hasil penelitian dari agensi dan konsultan pasar internasional sekaliber Mintel tahun 2016, berbanding lurus dengan pesatnya pertumbuhan pasar kopi retail internasional selama lima tahun terakhir, yang dikuasai Indonesia sebanyak 19,6 persen. Disusul India sebanyak 115,1 persen dan Vietnam 14,9 persen. Ini menjadikan Asia lebih unggul dalam penjualan kopi ketimbang Eropa dan Amerika. Mengapa bisa begitu? Apa saja penyebabnya?

Gelombang Besar Inovasi Kopi di Asia

Inovasi penyajian minuman kopi berupa coffee pods, coffee capsules, atau jenis kopi instan lain, dan kopi dingin (bukan cold brew) rupanya laku keras di Asia, utamanya wilayah Asia Pasifik. Pertumbuhan ini telah diamati Mitel sejak 2011 hingga 2016.

Tingginya aktivitas pasar kopi di Asia tak lain adalah akibat minat tinggi pembeli terhadap ragam inovasi dalam menikmati kopi yang lebih segar. Alias, tidak sekedar instan saja. Keinginan pasar ini ditangkap dengan baik oleh produsen kopi. Pada ranah penyajian, mereka meluncurkan produk berupa coffee pods, coffee capsules, dan jenis kopi lain, agar konsumen dapat merasakan sensasi berbeda daripada kopi gunting (baca: kopi sachet) – meski sama-sama instan.

Kopi instan di Indonesia? Jangan tanya jumlahnya. Ia masih mendominasi perilaku konsumsi masyarakat dari berbagai kelas.

Credit : pepperdotph.jpg
Credit : pepperdotph.jpg

Semarak Tren Third Wave di Indonesia

Kamu kenal Gelombang Ketiga di dunia perkopian? Gelombang Ketiga adalah fase di mana pecinta kopi mulai menelusuri kualitas kopi mulai dari hulu ke hilir – dari pertanian, pengolahan, sangrai, metode seduh, hingga masuk ke tegukan.

Tren Third Wave ini masih didominasi orang Amerika. Meski begitu, lima tahun terakhir ini orang Asia mulai terang-terangan menunjukkan kecintaannya pada kualitas kopi. Utamanya di Indonesia, masyarakat kelas menengah ke atas cenderung mengakui bahwa kualitas proses penyajian kopi lebih penting ketimbang yang instan.

Kecenderungan ini terlihat dari meningkatnya perilaku konsumsi orang Indonesia akan produksi kopi-kopi lokal dari berbagai daerah di Nusantara. Mereka juga makin sering membuat acara-acara berbasis kopi untuk mempromosikan kopi-kopi kebanggan daerah masing-masing. Ini menyebabkan pada pertengah 2016, ekspor kopi nasional sempat menurun karena meningkatnya konsumsi kopi lokal oleh kedai-kedai kopi orang Indonesia sendiri. Lebih dari itu, perayaan third wave oleh kedai-kedai kopi itu tidak sebatas kopi lokal saja, melainkan, menjajal kopi impor juga. Tren menelusuri kekayaan yang terkandung dari kopi ini diperkirakan akan terus berkembang beberapa tahun ke depan.


 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri
Foto utama dari ytimg.com

cari-kopi

Otten Coffee

Otten Coffee adalah coffee source terbesar dan penyedia alat-alat kopi terlengkap bagi para pencinta kopi Indonesia.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.