MENGENAL EKSOTISME KOPI RWANDA

Dari jajaran negara-negara penghasil kopi di Afrika, Rwanda termasuk negeri yang sangat menarik.

KOPI Rwanda belakangan semakin digemari pecinta kopi. Banyak single origin dari berbagai daerah di Rwanda memenuhi daftar kopi-kopi andalan yang dijual oleh berbagai roastery. Dan terserah mau dianggap pengakuan dosa (atau tidak), saya sendiri pun baru tahu kalau Rwanda ternyata juga menghasilkan kopi setelah menonton A Film About Coffee yang rilis 2014 lalu. 😀 Popularitas kopi Rwanda mungkin memang belum setenar kopi Kenya atau Ethiopia, namun perlahan tapi pasti, kopi dari negara ini semakin mencuri perhatian para pecinta kopi specialty. Karakternya yang unik dan rasanya yang dahsyat sudah pasti menjadi salah satu pertimbangan.

Namun sebelum kopi Rwanda mendapat animo luar biasa seperti sekarang, ada perjalanan panjang yang harus mereka lalui.

 

SEJARAH KOPI RWANDA

Para misionaris Jerman membawa bibit kopi pertama kali ke Rwanda pada tahun 1904, tapi saat itu Rwanda belum menghasilkan cukup banyak kopi untuk diekspor hingga tahun 1917. Setelah Perang Dunia I, Jerman yang kalah perang diberikan mandat oleh Perserikatan Bangsa-bangsa untuk menyerahkan Rwanda kepada Belgia. Inilah sebabnya, secara historis, kopi-kopi dari Rwanda banyak yang diekspor ke Belgia.

Pohon kopi pertama yang ditanam berada di daerah penginjilan Mibirizi di provinsi Cyangugu. Nama daerah itu pun kemudian dijadikan sebagai nama varietas kopi Rwanda mula-mula yang merupakan sebuah mutasi alami dari jenis Bourbon. Berikutnya, produksi kopi di negara ini lalu menyebar ke area Kivu dan wilayah Rwanda lainnya. Di tahun 1930an, kopi menjadi tanaman wajib bagi para petani di seluruh penjuru negeri, sama seperti yang dilakukan oleh kolonial Belgia ke negara tetangganya Burundi.

Tidak  berhenti sampai sana, penjajah Belgia juga ikut memegang kendali akan ekspor kopi sekaligus meminta pajak yang tinggi dari para petani. Ujung-ujungnya, hal ini jadi “memaksa” Rwanda untuk menghasilkan kopi dalam jumlah massif, lalu berimbas kepada buruknya kualitas kopi yang dihasilkan, dan puncaknya kopi pun dijual murah. Makin diperparah lagi dengan ketidakpedulian (atau tepatnya ketidaktahuan) petani untuk mengolah kopi dengan benar. Plus, infrastruktur memadai, termasuk washing station atau tempat-tempat untuk memproses kopi, pun hampir tidak ada.

Dimulai tahun 1990an, kopi telah menjadi komoditi ekspor yang cukup penting di Rwanda. Namun peristiwa genosida bersejarah di tahun 1994 –yang meluas di hampir seluruh penjuru Rwanda dan konon menewaskan hampir 1 juta jiwa penduduknya–turut memengaruhi turunnya produksi kopi di negara ini. Diperburuk lagi dengan harga kopi yang sedang jatuh di pasar dunia semakin membuat harga kopi di Rwanda, bisa dibilang, tidak ada harganya.

 

Tempat-tempat pengolahan biji kopi di Rwanda
Tempat-tempat pengolahan biji kopi di Rwanda

ERA PEMBARUAN KOPI

Kopi adalah simbol kebangkitan dan positivisme setelah kejadian genosida di negara ini. Seiring dengan makin banyaknya bantuan asing yang masuk ke Rwanda, sektor kopi pun tidak ketinggalan mendapat perhatian penting juga. Banyak washing station yang kemudian dibangun, para petani dan pengusaha kopi lokal pun diberi pendidikan tentang bagaimana menghasilkan dan mengolah kopi berkualitas. Bahkan ketentuan tentang pengolahan kopi ini pun dibuat peraturannya. Pemerintahnya telah ikut peduli dan memerhatikan urusan perdagangan kopi ini, para specialty coffee buyer dari berbagai belahan dunia juga menunjukkan keseriusan yang cukup kuat akan kopi-kopi dari negara ini.

Lebih jauh, Rwanda bahkan menjadi satu-satunya negara di benua Afrika yang telah menyelenggarakan kompetisi Cup of Excellence, yaitu sebuah proyek untuk menemukan single origin dan biji kopi terbaik yang diseleksi melalui sistem pemilihan online untuk kemudian dipasarkan.

Biji yang dipetik hanya yang benar-benar telah matang dan berwarna merah saja, itulah sebabnya kenapa kopi-kopi dari negara ini berasa dahsyat. :p
Biji yang dipetik hanya yang benar-benar telah matang dan berwarna merah saja, itulah sebabnya kenapa kopi-kopi dari negara ini terasa dahsyat. :p

Washing station pertama di Rwanda dibangun di tahun 2004 dengan bantuan dari United States Agency for International Development (USAID). Setelahnya, pertumbuhan perkebunan demi perkebunan kopi pun bertumbuh secara dramatis.

Rwanda yang dikenal sebagai “negeri seribu bukit” pun merupakan salah satu faktor pendukung kenapa kopi-kopi mereka bercitarasa menarik. Kontur tanahnya yang bergunung-gunung dan memiliki ketinggian juga cuaca yang baik dianggap sangat ideal untuk menanam kopi. Sejak beberapa waktu belakangan, kopi-kopi Rwanda bahkan dianggap salah satu jenis berkualitas yang paling dijagokan dari benua Afrika. Kebanyakan kopi yang diekspor dari negeri ini adalah Arabica yang diproses secara fully washed, tapi mereka juga tetap ada mengekspor jenis Robusta meski jumlahnya tidak sebanyak Arabica.

kopi rwanda

WILAYAH TUMBUH

Kopi ditanam di hampir seluruh penjuru negeri Rwanda, tanpa adanya zona geografis yang spesifik sebagai dominasinya. Para roaster dan perusahaan kopi umumnya menggunakan nama distrik/daerah di Rwanda bersama nama washing station dan perkebunan kopinya untuk menamai single origin yang diambil.

▪ Wilayah bagian selatan dan barat

Banyak single origin yang rasanya menakjubkan berasal dari daerah bagian ini. Produksi kopi umumnya terkonsentrasi pada daerah-daerah di sekitar pegunungan Huye, area Nyamagabe dan  wilayah Nyamasheke yang berada di dekat tepi danau Kivu.

Ketinggian: 1,700 m – 2,200 m

Waktu panen: Maret – Juni

Varietas: Bourbon, Mibirizi

 

▪ Wilayah bagian timur

Ketinggian di area bagian timur ini memang tidak setinggi wilayah lainnya di Rwanda, tapi kopi-kopi hebat dari negara ini umumnya diproduksi di daerah sekitar Ngoma dan Nyagatare.

Ketinggian: 1,300 m – 1,900 m

Waktu panen: Maret – Juni

Varietas: Bourbon, Mibirizi

 

TASTE PROFLE

Kopi-kopi Rwanda umumnya memiliki karakter yang fruity dan cukup segar dengan rentang rasa seperti apel merah atau anggur merah. Rasa yang mirip buah berry dengan kualitas floral juga umum ditemukan pada kopi-kopi Rwanda.

kopi rwanda

Sumber: The World Atlas of Coffee oleh James Hoffman.
Foto diambil dari Flickr, credit kepada AgriLife Today, CounterCultureCoffee

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.