MENGHABISKAN SIANG DI PAVILON COFFEE

Kesan pertama di Pavilion Coffee adalah kedai ini kaya akan cahaya. Jendela kaca besar dan ruangan yang tanpa partisi menjadikannya luas, nyaman dan menyenangkan untuk berlama-lama. 

Salah satu sudut favorit di Pavilon Coffee.
Salah satu sudut favorit di Pavilon Coffee.

KOTA Padang sedang panas-panasnya. Meski begitu tak menghalangi saya dan beberapa teman untuk berkeliling kedai kopi, mencari seteguk teguk kebahagiaan di dalam cangkir. Di kota ini industri kedai kopi specialty sedang semangat-semangatnya. Dalam kurun waktu dua tahun saja sudah banyak coffee shop yang tumbuh di berbagai penjuru kota. Mereka mengusung tema dan idealisme masing-masing. Sebuah kebhineekaan yang menjadikan kopi minuman yang kaya rasa, kaya budaya.

Coffee bar, tempat lahirnya kopi-kopi nikmat.
Coffee bar, tempat lahirnya kopi-kopi nikmat.

Salah satu kedai kopi yang meramaikan Kota Padang adalah Pavilon Coffee, Jeffry Wongso dan Amelia Chandra adalah dua orang yang menjadi roda bergeraknya coffee shop ini. Mereka berdua juga yang menyambut saya dan teman-teman saat mampir ke sini. Sambutan hangat pemilik kedai kopi adalah nilai plus yang menjadikan sebuah tempat menjelma hangat, meski kopinya belum sempat diteguk. Kedai kopi ini kaya akan cahaya. Jendela-jendela kaca yang besar memungkinkan matahari masuk dengan leluasa. Saya sendiri suka sekali dengan pencahayaan alami ini. Selain memberi hangat yang berkecukupan, juga pas untuk foto-foto di kedainya.

Keriuhan Pavilon Coffee yang menebar seru.
Keriuhan Pavilon Coffee yang menebar seru.

Elemen kayu dan warna-warna basic seperti putih dan hitam mendominasi Pavilon Coffee. Kursi-kursi dan meja menggunakan kayu palet yang dibingkai rangka hitam. Terlihat serasi dengan dinding-dinding putih yang membangunnya. Kesederhanaannya ini khas kedai kopi kekinian yang membuat pelanggannya betah duduk berlama-lama. Setelah puas mengitari kedainya, tak lengkap rasanya tanpa mencicipi kopinya. Secangkir single origin dari V60 diseduh untuk mengawali teguk sore itu. Setelah kopi tentu ada banyak cerita yang mengalir. Dari cerita ini pula akhirnya saya tahu bahwa pemilihan nama Pavilon Coffee berasal dari asal kata “paviliun” yang digeser sedikit hurufnya. Sambil bercerita cangkir kedua pun ditambah secangkir hot cappuccino hadir sudah di meja.

Hot cappuccino, teman ngobrol yang tak pernah salah.
Hot cappuccino, teman ngobrol yang tak pernah salah.

Pavilon Coffee tak hanya menyediakan aneka single origin dengan aneka metode seduh manual seperti V60, Syphon, Aeropress, Chemex dan lain-lain, tetapi juga menyediakan menu kopi espresso base layaknya kedai kopi lainnya. Menu makanan juga cukup beragam untuk mengisi perut para pengopi yang mungkin rasa laparnya butuh diselamatkan. Di coffee bar-nya sendiri berjejer aneka alat kopi plus sirup untuk campuran aneka minuman. Mesin espresso Conti bertengger manis di sana, menjadi ‘kemudi’ untuk melaju melahirkan puluhan cangkir kopi pelepas penat.

Kalau sedang tak gerah, nongkrong di luar enak juga.
Kalau sedang tak gerah, nongkrong di luar enak juga.

Jika saja tak karena waktu yang mendesak saya untuk pulang, saya akan dengan senang hati nongkrong di sini hingga malam menjelang. Jangankan menghabiskan sepotong siang untuk bercangkir kopi dan cerita yang tak habis-habis, memperpanjang keseruan hingga malam pun tentu saya betah jika tempatnya senyaman Pavilon Coffee ini. Beruntunglah para peminum kopi Kota Padang yang memiliki kedai kopi menyenangkan seperti yang satu ini. Saya saja rela jauh-jauh bertandang hanya untuk merasakan pengalaman minum kopi yang entah kapan lagi bisa saya rasakan. Terima kasih, Pavilon!

 

Pavilon Coffee

Jalan Hayam Wuruk no. 30 A Padang, Sumatera Barat

PAKET CAFE 

 

 

795 total views, 5 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.